Tuesday, January 30, 2007

Sejarah Ngeblog


Baca tulisannya mbak Pungki yang ini, mengingatkan saya ketika pertama kali kenal yang namanya blog dulu bertahun2 yang lalu (pertama kali baca blog orang lain, maksudnya). Setelah berkali2 baca beberapa blog saya jadi suka berpikir, "Kok mereka ga risih atau ga malu siih cerita kehidupan pribadinya sehari-hari dibaca oleh umum", dan kadang bahkan terpikir "Apa ga riya' ya kek gini?". Pikiran-pikiran seperti itu membuat saya sama sekali ga punya niat buat punya blog, walo tetep saja tidak membuat saya berhenti ngintipin blog orang lain. Yang awalnya hanya ingin tahu, lama2 jadi ketagihan, dan ahirnya jadi hobby...........:-D Pokonya tiada seharipun lewat tanpa blogwalking!! Melihat dan membaca blog orang lain yang indah2, menarik, seru dan heboh tidak membuat saya bergeming buat terjun aktif diperbloggan (bikin blog sendiri, maksudnya). Ada siiih kabita jugaa........ngikutin trend gitu looh.......tapi belum tega aja membuka diriku selebar2nya kepada dunia........;-)

Suatu hari seorang sahabat saya nun jauh di negeri singa bertanya kenapa kok saya ga punya blog. Saya jawab kalo saya belum pengen punya blog karena belum ngeliat pentingnya punya blog. Eh, lalu dia bilang, "Siapa tau mbak orang lain bisa ngambil manfaat baca cerita







Kejadian Lagi Deh.....

Entah gimana kejadiannya kemarin malam tiba2 saja Sajid menggigit lidahnya sendiri, tergigit lebih tepatnya, karena ga mungkin dia sengaja menggigit lidahnya sendiri (ups...mungkin aja ya, namanya anak2). Saat itu saya lagi asyik di depan neng kokom, tiba2 aja dia menangis, dari nadanya saya langsung tau klo itu adalah tangis kesakitan. Langsung deh saya lari menghampirinya, daaan............awalnya saya pikir gusinya yang berdarah, tapi kok banyak sekali darah yang keluar, dan ga brenti2.........begitu diliat lebih seksama terlihatlah seperti ada dua lubang di lidahnya..........subhanallaah...........langsung lemas dan gemetarlah saya............"dduuuh kenapa harus terjadi lagiii..........". Langsung saya telepon ayahnya yang lagi di luar kota (ini selalu jadi reaksi refleks saya setiap terjadi sesuatu yang mencemaskan..........nelepon suami!!) bukannya langsung ajaaa........pergi ke dokter.......toh nelepon dia juga, apa yang bisa dia lakukan...orang lagi jauh.........what a waste of time!! Tapi yaah begitulah namanya juga lagi panik..............:-(

Singkat cerita pergilah saya ke dokter, sebelumnya wanti2 dulu sama Hanif dan Abdih supaya hati2 di rumah (mereka ga saya bawa, saking rusuhnya.........). Merasa harus cepet2 sampe di dokter tapi saat yang bersamaan ga bisa ngebut juga, krn tangan masih gemeter daaaan.........ternyata saya lupa lagiiih di mana letaknya itu tempat praktek dokter.........saya hanya inget klo dari arah rumah letaknya di sebelah kiri, berarti di sebrang jalan, berarti saya harus stay di jalur kiri yang berarti di jalur cepat, krn klo di jalur kanan takutnya nanti ga keliatan dan kelewat dan susah pula mau ganti jalur................berhubung saat itu malam2 jadi susaah sekali ngebagi perhatian ya ke jalanan ya sambil luak-lieuk nyari lokasi. Akhirnya setelah kelewatan sekian mil dan harus u-turn, sampailah kami di dokter.

Singkat cerita...............alhamdulillaah ga papa!! Lukanya ga dalem ternyata, darahnya keluar banyak karena memang katanya kalau ada luka di daerah kepala darahnya suka banyak seperti itu..............Yah yang penting saya bisa tidur krn yakin Sajid ga apa2.

Jadi inget kejadian taun lalu, kurang lebih suasananya sama lah kayak kemaren malam. Ayahnya lagi ke luar negeri (klo sekarang bedanya, cuman ke luar kota), kejadiannya malam2 pula.

salah satu sumber inspirasi

http://pojok-kanayakan.net/

Sunday, January 28, 2007

Sudah12Tahun

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itu ia memulai sebuah perjalanan yang panjang, asing dan penuh tantangan. Saat itu, ia harus yakin bahwa kawan seperjalanannya adalah orang yang tepat dan bisa diajak bekerja sama.

Saya lupa dari buku apa 2 kalimat di atas itu saya kutip, nama penulis bukunya pun saya nggak ingat lagi, tapi yang jelas, hari ini, 12 tahun yang lalu, saya dan si manehnya (yang saat itu masih jadi calon suami, tentu saja), dengan kebulatan tekad dan kemantapan hati serta sedikit (banyak ding sebenernya) kenekadan, memutuskan untuk bersama2 bergandengan tangan memulai langkah pertama kami menempuh perjalanan panjang itu. Apakah saat itu saya yakin bahwa dialah kawan seperjalanan yang tepat? Hohoho...tentu saja saya tidak tahu, karna saat itu belum terbukti dong....:-)

Sekarang, 12 tahun kemudian, saya berharap semoga dia, si manehnya, suamiku tercintah, semakin yakin bahwa sayalah kawan seperjalanan yang tepat untuknya, seperti juga saya masih
(masih..??!! emang suatu saat bakal ga yakin lagiiih....?? Na'udzubillaah....jangan sampaaii..........) yakin bahwa dialah kawan seperjalanan yang tepat untuk saya dalam menyusuri jalan panjang kehidupan ini, walau tentu saja tidak ada yang bisa tahu sepanjang apa lagi kehidupan yang akan kami jalani.

Tapi yang terpenting yang selalu menjadi doa saya, semoga sisa perjalanan kami berdua akan lebih panjang dari 12 tahun yang telah kami lewati, sehingga kami sempat membesarkan anak2 kami. Semoga kami semakin
baik, semakin dewasa , semakin sholeh, semakin diberi kekuatan dan kemampuan untuk membesarkan dan mendidik anak2 kami, sehingga mereka tumbuh menjadi hamba2 Allah yang sholeh yang akan menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepadaNya, sehingga mereka menjadi orang2 yang cerdas, pandai dan sehat yang akan mengamalkan ilmunya di jalan Allah, sehingga mereka menjadi rahmatan lil 'alamin. Aamiin, aamiin, amiin ya Allah ya Rabbal'alamiin.

ayahhanif

http://ery.djunaedy.com