Saturday, September 22, 2007

Ramadhan yaa Ramadhan

Subhanallaah, alhamdulillaah, bulan yang ditunggu2 dengan penuh harap dan cemas ini akhirnya datang juga. Alhamdulillaah ternyata kami masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya. Beberapa bulan sebelumnya hati ini begitu cemas, khawatir tidak ada lagi kesempatan untuk kembali berjumpa dengan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillaah hari ini sudah hari ke-10, dan sampai hari ini saya dan keluarga masih diberi kesempatan untuk ber-Ramadhan bersama. Semoga Allah masih memberi kesempatan untuk kami beribadah dengan lengkap dan sempurna hingga Ramadhan usai. Dan semoga kami dipertemukan kembali dengan Ramadhan2 selanjutnya. Jadi harap2 cemasnya masih terus berkelanjutan ternyata πŸ˜“

Hanif dan Abdih pun keliatan bersemangat menyambut Ramadhan. Pertanyaan2,
"Ibu, Ramadhan berapa hari lagi?" atau "Ibu, tomorrow is the first day of Ramadhan?",
diungkapkan dengan wajah berseri2 dan mata berbinar2. Sayapun lega sekali melihatnya, walopun penyebab utama keberseri2an itu masih ga jelas buat saya, but at least it's a very good start to begin our first day of Ramadhan. Apalagi klo inget betapa khawatirnya saya mereka ga akan kuat puasa di Ramadhan taun ini, krn kebetulan taun ini bulan Ramadhan jatuh di akhir summer. Yang mana daripadanya waktu dari shubuh sampai maghrib masih lumayan panjang. "Duuh kuat ga ya mereka puasa 14-15 jam", itu selalu yang ada dalam pikiran saya beberapa minggu menjelang Ramadhan ini. Inilah puasa terpanjang yang harus mereka jalani dalam sejarah kehidupan mereka.

Hari pertama, saya dan suami saya mengantar mereka ke sekolah, untuk menjelaskan pada guru2nya tentang keadaan mereka yang lagi puasa. Abdih saya bekali dengan 'emergency-kit', yang isinya minum dan beberapa potong biskuit. Dan kemudian ngomong ke gurunya untuk memperhatikan kondisi Abdih, klo Abdih keliatan lemes banget kami minta dia nyuruh Abdih minum dan makan biskuitnya. Ketika emergency-kit itu saya kasiin ke dia, dia sempet protes, "No, I don't want to have lunch!" sambil kereng mukanyaπŸ˜† Saya jelasin aja ini cuman bwt kondisi darurat, klo Mrs. Fullerton nyuruh maka Abdih HARUS minum dan makan. Dibilangin kek gitu, barulah dia mau masukkin emergency-kitnya ke dalam tasnya diaπŸ˜‡

Sekarang, hari ke-10 Ramadhan, alhamdulillaah Abdih masih bertahan puasanya, belum bocor seharipun. Malah Hanif yang sempet putus tengah jalan karena sakit. Hari pertama sakit saya suruh dia untuk ga puasa dan ga pergi ke sekolah juga. Besoknya karena ada ISAT (Idaho Standard Achievement Test) dan kebetulan dia juga dah keliatan sembuh, saya suruh dia masuk sekolah dan puasa lagi. Eh, tengah hari nurse sekolah nelepon saya dan minta saya jemput Hanif, krn dia muntah di sekolah. Ya sudah lengkaplah 2 hari Hanif bocor puasanyaπŸ˜„

Saya sebenernya ingin sekali Hanif dan Abdih juga merasakan bagaimana berkesannya ber-Ramadhan di kampung sendiri. Mendengar suara ngaji dan adzan berkumandang dari masjid menjelang buka dan saur. Bermain bersama teman2 tetangga sambil ngabuburit. Silih sampeur*) setelah saur untuk main sama2 atau setelah buka puasa untuk tarawehan sama2 di masjid (dengan tidak lupa jajan dulu sebelumnya, trus makanannya disembunyiin di balik sajadah buat dimakan sambil 'istirahat' di tengah2 shalat taraweh...hihihi...). Atau sore2 menunggu tukang makanan lewat di depan rumah untuk kemudian disimpan, kadang disembunyiin, buat buka (yang kenyataannya sering ga kemakannya krn udah keburu kekenyangan dan akhirnya digembrong**) semut setelah berhari2 tak tersentuh di tempat persembunyiannya..hehehe...). Tapi yah mau bagaimana lagi, sudah rejeki mereka untuk (hampir selalu) ber-Ramadhan di negeri orang. Yang penting makna dan hikmah Ramadhan bisa mereka dapat dan rasakan dengan penuh kekhusyuan. Semoga..

Doa hari ke-1 hingga hari ke-10 Ramadhan:

Yaa Allah, jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam. Dan jagalah aku dari tidurnya orang-orang yang lalai. Hapuskanlah dosaku ... Wahai Tuhan sekalian alam. Dan ampunilah aku, Wahai Pengampun para pembuat dosa.

Yaa Allah, dekatkanlah aku kepada keridloan-MU dan jauhkanlah aku dari kemurkaan serta balasan-MU. Berilah aku kemampuan untuk membaca ayat-ayat-MU dengan rahmat-MU, Wahai Maha Pengasih dad semua Pengasih

Yaa Allah, berikanlah aku rizki akal dan kewaspadaan. dan jauhkanlah aku dari kebodohan dan kesesatan. Sediakanlah bagian untukku dari segala kebaikan yang KAU turunkan, demi kemurahan-MU, Wahai dzat Yang Maha Dermawan dari semua dermawan
Yaa Allah, berikanlah kekuatan kepadaku, untuk menegakkan perintah-perintah-MU, dan berilah aku manisnya berdzikir mengingat-MU. Berilah aku kekuatan untuk menunaikan syukur kepada-MU, dengan kemuliaan- MU. Dan jagalah aku dengan penjagaan-MU dan perlindungan-MU, Wahai dzat Yang Maha Melihat.

Yaa Allah, jadikanlah aku diantara orang-orang yang memohon ampunan, dan jadikanlah aku sebagai hamba-MU yang sholeh dan setia serta jadikanlah aku diantara Auliya'- MU yang dekat disisi-MU, dengan kelembutan-MU, Wahai dzat Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.

Yaa Allah, janganlah Engkau hinakan aku karena perbuatan maksiat terhadap-MU, dan janganlah Engkau pukul aku dengan cambuk balasan-MU. Jauhkanlah aku dari hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaan-MU, dengan anugerah dan bantuan-MU, Wahai puncak keinginan orang-orang yang berkeinginan

Yaa Allah, bantulah aku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya. Jauhkanlah aku dari kelalaian dan dosa-dosanya. Dan berikanlah aku dzikir berupa dzikir mengingat-MU secara berkesinambungan, dengan Taufiq- MU, Wahai Pemberi Petunjuk orang-onang yang sesat.

Yaa Allah, berilah aku rizki berupa kasih sayang terhadap anak-anak yatim dan pemberian makan, serta penyebaran salam, dan pergaulan dengan orang-orang mulia, dengan kemuliaan-MU, Wahai tempat berlindung bagi orang-onang yang berharap

Yaa Allah, sediakanlah untukku sebagian dari rahmat-MU yang luas, dan berikanlah aku petunjuk kepada ajaran- ajaran-MU yang terang, dan bimbinglah aku menuju kepada kerelaan-MU yang penuh dengan kecintaan-MU, Wahai harapan orang-orang yang rindu.

Yaa Allah, jadikanlah aku di antara orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu, dan jadikanlah aku di antara orang- orang yang menang disisi-MU, dan jadikanlah aku di antara orang-orang yang dekat kepada-MU dengan ihsan-MU, Wahai Tujuan orang-orang yang memohon.

~*****~
 
*) saling menyampeur, eh maksudnya saling menjemput dengan cara memanggil nama teman kita di depan rumahnya ;-)
**) dikerumuni

Menjelang hari 'H' itu

"Umur kamu berapa Lin?"
Wah kaget juga saya nerima pertanyaan itu, terlebih lagi pertanyaan itu diungkapkan oleh teman baru saya yang baru pertama kali itulah ngomong di telepon dengan saya, ketemu muka langsung pun belum. Bukan, bukan krn tersinggung ato apa, yang bikin kaget karena rasanya inilah pertama kalinya seseorang yang baru saja kenalan sudah 'berani' nanyain berapa umur saya. Lebih kaget lagi, karena justru pertanyaan seperti itulah yang selalu ingin saya tanyakan pada orang yang baru saya kenal tapi gak pernah berani benar2 saya ungkapkan, dan pertanyaan itu juga yang selalu ingin saya terima dari orang yang baru saya kenal tapi hampir ga pernah saya terima. Sementara teman baru saya ini dengan santainya langsung nembak saya dengan pertanyaan tersebut 😁

"Sorry ya aku nanya kek gitu, biar enak aja ke depannya, biar ga kagok", dia lanjutkan pertanyaan tsb. dengan ungkapan ini.
Yap, betul sekali itu juga alasannya kenapa saya selalu ingin mengajukan pertanyaan yang sama (dan ingin juga ditanya:D) pada kenalan baru saya. Supaya klo orang yang baru saya kenal itu lebih tua dari saya maka saya akan memanggilnya dengan embel2 "Mbak, Kak ato Teh" (kecuali dia minta untuk tidak dipanggil dengan sebutan2 tsb.). Dan saya sendiri sama sekali ga keberatan untuk 'memamerkan' umur saya pada orang lain, ga peduli apakah saya jauh lebih tua dari orang2 di sekitar saya ato jauh lebih muda dari mereka. Klo memang saya lebih tua, so what gitu lokh, klo saya lebih muda juga ga masalah kan, ga ada sesuatupun di atas muka bumi ini yang bisa merubah kenyataan itu 😏  Maka klo ada orang yang bertanya berapa umur saya, saya akan dengan senang hati menjawabnya. Apalagi klo kemudian dia bertanya kapan saya lahir, waaah langsung deh dengan semangat saya jawab tanpa babibubebo lagi (yaah sapa tau dia ada niat mo ngasih kado kaan....πŸ˜‹πŸ˜‚)

Dua hari lagi usia saya genap 35 tahun. Dari sejak jaman dahulu kala hingga detik ini, saya selalu harap2 cemas menjelang hari ulang tahun saya. Dulu, saya selalu harap2 cemas karena memikirkan siapa sajakah yang akan memberi saya kado, berapakah kado yang akan saya terima. Walopun orang tua saya tidak pernah membiasakan untuk membuat pesta ultah setiap kali anak2nya ulang tahun, tapi tetap saja saya berharap bahwa orang2 yang saya kenal-apalagi orang2 terdekat saya-akan menyisihkan sebagian uangnya untuk membelikan kado untuk saya πŸ˜†πŸ™ˆ Namun sejak beberapa tahun yang lalu harap2-cemas yang selalu saya rasakan itu mewujud dalam bentuk yang berbeda. Terkadang kecemasan itu kemudian berubah menjadi ketakutan.

Bapak saya meninggal 2 bulan kurang 2 hari setelah ulang tahunnya yang ke-40, salah seorang kawan saya bahkan meninggal 9 hari menjelang ulang tahunnya yang ke-33. Lalu bagaimana dengan saya? Apakah saya masih akan diberi kesempatan untuk 'bertemu' dengan hari H ulang tahun saya yang ke-35? Dan kalaupun ada kesempatan itu, berapa tahun, bulan, hari bahkan detik setelah menginjak usia 35kah sisa umur saya? Pertanyaan2 seperti itu yang selalu membuat saya berharap2-cemas bahkan ketakutan setiap kali hari ulang tahun menjelang.  Bekal amal yang masih seupil dan tumpukan dosa yang masih menggunung adalah salah satu penyebab perasaan itu masih selalu hadir dalam hati saya. Sebab lain yang kalah pentingnya adalah ketidakinginan saya untuk terlalu cepat meninggalkan anak2 dan suami saya serta orang2 tercinta lainnya πŸ˜”πŸ˜’

Di saat2 seperti ini hanya sejuta harapan dan setumpuk doa yang (semoga) bisa menenangkan hati saya.

Ya Allah ya Rabbi, saya bukan ibu yang baik tapi izinkanlah saya untuk membesarkan anak2 saya, beri saya kesempatan untuk berada di sisi mereka lebih lama lagi. Saya bukan istri yang sholehah tapi izinkanlah saya untuk mendampingi suami saya lebih lama lagi.

Ya Allah ya Rabbi, ampuni dosa2, kekhilafan2 dan kelalaian2 saya di masa 35 tahun yang telah lalu, ridhoi dan berkahilah sisa usia saya. Jadikanlah saya hambaMu yang pandai mensyukuri semua nikmat yang telah Engkau anugrahkan pada saya dan keluarga saya.

Ya Allah ya Rabbi, bila saatnya tiba kelak, matikan saya dalam keadaan berdzikir kepadaMu, matikan saya dengan husnul khotimah ya Rabb....

aamiin, aamiin, aamiin ya Allah yaa Rabbal'aalamiin.

Happy birthday to myself,
semoga dengan berkurangnya jatah umur di dunia semakin besar kesempatan dan kemampuan saya untuk memperbaiki diri agar menjadi hambaNya yang semakin sholeh dan taqwa.
Sahabat2, teman2 dan sodara2ku, maafkan semua kesalahan2 saya, tolong ikhlaskan semua ucapan dan tindakan saya yang pernah melukai dan menyakiti hati anda2 semuanya.