Tuesday, June 29, 2010

Video on My Eyes

Sajid: "Ibu, I want to see the Eye Doctor" (beberapa minggu yang lalu Ibu memang baru periksa mata. Kebetulan Sajid dan Abdih dibawa. Mereka ikut bahkan sampai ke tempat periksa, menunggu dengan sabarnya sang Eye Doctor meriksa mata Ibu dengan cermat dan seksama)

Ibu (puzzled): "Eye Doctor....?"

Sajid: "Yes. I want to ask question to Eye Doctor"

Ibu (still puzzled tapi mulai hayang seuri): "Question...?! What question, honey?"

Sajid: "I want to ask him why my eyes keep making video..."

Ooooh hahaha....Jadi sudah berminggu2 eh..bahkan berbulan2 Sajid selalu merasa terganggu dengan semua 'film' yang dia lihat (menurut dia) dari matanya. Dulu sih dia pake istilah "film", entah kenapa sudah beberapa minggu terakhir ini berubah jadi "video".

Kemaren ketika lagi jalan sama Ayah dan Ibu, tiba2 dia nyeletuk, "Ibu, why you cannot see video from my eyes?"
Euleueuuh....kumaha atuh ibu jawabnya. Setelah mikir beberapa detik yasud Ibu jawab aja begini (kira2 begini): "Karena video di mata Sajid khusus untuk mata Sajid aja, ga bisa diliat sama orang lain"
Eeeeh langsung protes dia, "No...! I can see your video...!!"
Hahahaha....iya gituh...? Sajid ah ada-ada aja....


*masih sedikit bingung dan masih meraba2 tentang apa yang sebenernya Sajid maksudkan dengan "video/film on my eyes" itu๐Ÿ˜†*

Wednesday, April 28, 2010

Pil pahit atau shock therapy ?

Saya baru saja memutuskan buat ngasih shock therapy sama salah seorang teman saya di sini. Selama ini setiap kali dia curhat saya selalu menghiburnya dengan kata2 yang memang pengen dia dengar saya ucapkan yaitu saya selalu membelanya dan saya malah cenderung untuk selalu menyetujui sikapnya yang menjelek2an suaminya.....astaghfirullaah....Saya pikir sudah saatnya sekarang saya stop dia untuk tidak terus2an complain tentang masalah2 dia dengan suaminya pada saya. Sudah saatnya saya menyetop dia untuk tidak terus2an menjelek2kan suaminya pada saya (dan pada orang lain juga). Bohong kalau saya bilang "bukan karena saya sudah capek hate dengernya", karena pada kenyataannya salah satu sebabnya ya memang saya sudah capek dengernya, sudah fed-up, sudah getting too annoyed by it ! Satu kali dua kali mungkin bolehlah ya denger seseorang complain tentang masalah rumah tangganya, tapi klo terus2an? Kalau 8 dari 10 pertemuan isinya hanya membicarakan kejelekan2 suaminya?! Halaaah......lebih dari capek hate itu sih namanya.....๐Ÿ˜ฃTambahan lagi saya takut dosa saya tambah numpuk. Apalagi setelah beberapa hari yang lalu suami saya mengingatkan bahwa kalau kita punya masalah dengan suami kita, kita hanya boleh membicarakannya dengan 3 orang yaitu ibu mertua, bapak mertua atau marriage counselor. Nah lho...!

Maka, itulah juga salah satunya yang saya sampaikan padanya. Ngaku deh itu hanya eufimisme dari yang sebenernya pengen saya ungkapin: "SORRY, DEAR. I'M GETTING REALLY ANNOYED BY YOUR COMPLAINS. IT'S SIMPLY BEEN TOO MUCH FOR ME. I'M FED UP! STOP COMPLAINING ABOUT YOUR HUSBAND TO ME, OK...!!" ...hehehe...(sumpah pengen banget sebenernya saya ngomong kek gitu dengan nada ketus, tapi kan saya juga harus menjaga supaya dia ga sakit hati dengan kata2 saya ๐Ÿ˜‡)

Untunglah saya juga masih baik hati, masih punya niat baik sama dia...ehem.....๐Ÿ˜Ž Saya  pengen juga dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, saya masih pengen juga liat dia bisa menyelesaikan masalah2nya dengan suaminya sendiri tanpa harus terlalu tergantung sama orang lain. Maka sayapun bilang sama dia klo sudah saatnya buat dia untuk membandingkan hidupnya dengan orang2 lain yang jauh lebih tidak beruntung dibanding dia. Saya suruh dia membandingkan hidupnya dengan seorang sister yang baru saja kehilangan suaminya yang kena deportasi gara2 punya masalah dengan pemerintah, yang kemudian setelah suaminya balik ke kampungnya nun jauh di negeri sebrang sana dia tiba2 menceraikan sister tsb. dan mengabaikan anak2nya. Saya suruh juga dia bandingkan hidupnya dengan sister yang lain yang juga baru saja diceraikan oleh suaminya taun lalu. Kemudian karena desperate pengen nikah lagi dia mutusin buat jauh2 pergi ke Mesir mengejar jodoh yang lain. Alih2 dapet suami yang lebih baik eh....baru beberapa hari nikah sudah diceraikan pula oleh suami barunya itu. Selanjutnya saya suruh dia bandingkan hidupnya dengan hidup para refugees. Salah satunya adalah seorang janda refuge dari Afghan yang datang ke Boise bersama 2 orang anak laki2nya. Suaminya meninggal ditembak orang saat perang. Setelah sampai di sini dia harus banting tulang kerja menghidupi keluarganya.

Seburuk apapun suaminya (at least itu menurut pandangan dia, wallahu a'lam kejadian sebenernya seperti apa, saya sendiri ga tau gimana caranya buat mencari tahu. Dan memang ga pengen tahu ๐Ÿ˜) paling tidak dia masih punya suami yang mampu memberinya nafkah (dia sendiri bahkan bisa jadi stay at home mom). Paling tidak anaknya masih punya ayah yang sayang padanya (oh suaminya itu sangat sayang dan care banget sama anaknya). "So start counting your blessings, and stop counting your miseries" adalah salah satu kalimat yang saya ungkapkan padanya. Terakhir saya mengingatkan dia untuk pandai2 mensyukuri nikmat Allah, karena Allah akan menambah nikmatnya pada kita klo kita pandai mensyukurinya.

Well...sebenernya semua 'nasehat2' yang saya berikan padanya itu adalah juga nasehat buat diri saya sendiri. Betapa banyak sekali blessings yang harus saya syukuri, dan sering kali saya lupakan untuk saya syukuri. Betapa banyak orang2 di sekeliling saya yang ternyata masih jauh lebih tidak beruntung dibanding saya. Sesusah2nya hidup saya, selalu masih banyak orang2 di luar sana yang jauuuuh lebih susah hidupnya dibanding saya.......(in fact, hidup saya ga susah2 amat kok, cuman saya aja yang kadang terlalu dibawa perasaan...๐Ÿ˜…)

ูَุจِุฃَูŠِّ ุขَู„َุงุกِ ุฑَุจِّูƒُู…َุง ุชُูƒَุฐِّุจَุงู†ِ  

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

ูˆَุฅِุฐْ ุชَุฃَุฐَّู†َ ุฑَุจُّูƒُู…ْ ู„َุฆِู†ْ ุดَูƒَุฑْุชُู…ْ ู„َุฃَุฒِูŠุฏَู†َّูƒُู…ْ ูˆَู„َุฆِู†ْ ูƒَูَุฑْุชُู…ْ ุฅِู†َّ ุนَุฐَุงุจِูŠ ู„َุดَุฏِูŠุฏٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (14:7)

Demikianlah saudara2.....๐Ÿ˜Š

Thursday, February 18, 2010

Tentang Memberi dan Menerima

Keterlaluan sekali ya kalau ada orang memberi kita sesuatu lalu pemberiannya tersebut kita buang. Jangankan dibuang, pemberian itu kemudian kita berikan lagi kepada orang lain saja kayaknya sudah agak2 ga etis ya. Kalau saya jadi orang yang memberi rasanya akan sedikit tersinggung kalau itu terjadi pada pemberian saya.

Namun justru persis hal seperti itulah yang saya lakukan hari Minggu yang lalu. Saya membuang sebagian besar pemberian seseorang pada kami.......!! Tapi saya ga punya pilihan lain selain membuangnya. Disimpan ga mungkin, dipakai apalagi. Di antaranya yang saya buang adalah buttercream kadaluwarsa yang sudah sebagian terpakai (dipakai oleh si pemberi), roti frozen yang sudah lebih dari setengahnya terpakai dan juga ternyata sebagian ingredientsnya mengandung unsur yang kami yakini ga halal dikonsumsi, tortillas yg walaupun nampaknya belum dipakai tapi juga mengandung ingredients yang ga halal dikonsumsi. Dan beberapa items lagi yang terpaksa saya buang dengan alasan yang sama. Items yang lain yang hampir semuanya adalah makanan2 bekas pakai terpaksa saya selamatkan karena saya ga punya alasan yang kuat untuk membuangnya dan setelah beberapa kali inspeksi nampaknya masih cukup aman untuk dikonsumsi walaupun beberapa kemasannya sudah tidak representatif lagi. Bukan hanya kemasannya yang tidak representatif, tapi beberapa items yang lainnya lagi malah isinya sudah lebih dari tigaperempatnya dipakai yang kalau orang Sunda bilang sudah "jarijipeun" kalau mau dikonsumsi lagi, tapi saya belum tega untuk membuangnya

Karena merasa alasan-alasan saya cukup kuat, maka saya tidak merasa bersalah telah membuang sebagian besar makanan2 pemberian tersebut dan tidak merasa telah menyinggung perasaan si pemberi (tapi terus terang saya ga bilang2 sama dianya kalau saya sudah buang2 pemberiannya ). Sebaliknya, saya yang malah berusaha untuk tidak tersinggung, berusaha untuk berkali2 mengingatkan diri sendiri untuk berhusnuzon pada si pemberi dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa si pemberi punya niat yang baik memberikan semua makanan2 sisa tersebut pada kami.

Ugh.....salahkah saya kalau tersinggung...?! Salahkah saya kalau saya tidak bisa mencegah hati saya berkata, "Ini teh ngasih atau ngebuang...?" Ah dasar deh, ada ada aja cobaan buat 'menggoyang' kebersihan hati......

Satu pelajaran penting yang saya ambil dari kejadian ini adalah saya harus semakin berhati2 dalam memberi sesuatu pada seseorang, terutama kepada orang2 yang "less fortunate". Jangan sampai saya memberi sesuatu, walaupun dengan niat baik, tapi pemberian itu malah menyinggung perasaan dan menyakiti hati orang yang saya beri. Selain sikap dan ucapan saya saat memberi yang harus dijaga jangan sampai menyakiti hati si penerima, apa2 yang saya berikanpun harus saya jaga dalam bentuk dan representasi yang tidak membuat si penerima merasa direndahkan atau dihina.

P.S.: "jarijipeun" itu artinya bisa dibilang agak2 menjijikkan begitu....

Monday, February 8, 2010

Kisah seorang sahabat

Dia sahabat saya sejak kelas 1 SD. Sebutlah namanya Rina. Selain sahabat dia juga saingan saya, kami susul menyusul memperebutkan ranking di kelas. Kadang2 karena nilainya sama Wali Kelas kami membagi ranking di antara kami berdua, jadilah kami berdua dapat ranking 1.5 ๐Ÿ˜ Sampai kelas 2 SMP kami selalu sekelas. Sejak SMP ini geng kami bertambah yang tadinya hanya saya, dia, Tanti, dan Devina (nama samaran semuanya, maaf :D), sekarang bertambah 4 orang lagi, total jadi 8 orang. Makin seru...!! Makin heboh...Makin banyak kekonyolan2 yang kami lakukan ๐Ÿ˜‚ Ketika naik kelas 3 SMP, orang tuanya memutuskan untuk memindahkan Rina ke SMP lain. Bukan main sedihnya kami harus berpisah dengan Rina. Kamipun membuat semacam farewell party kecil2an buat Rina. Tanti yang kreatif menggubah sebuah lagu khusus untuk acara perpisahan Rina, kamipun menyanyikannya bersama2 sambil bertangis2an  Ah bodornya....klo diingat2 lagi....hehehe....Tapi seru dan berkesan.

Sejak Rina pindah SMP saya jadi makin jarang ketemu Rina. Apalagi setelah kami masuk SMA dan mulai kuliah. Jangankan dengan Rina, dengan sahabat2 satu geng yang lainpun saya makin jarang ketemu, malah bisa dibilang ga pernah ketemu lagi. Awal tahun 90an saya dapat kabar ibunya Rina meninggal. Innalillaahi.....saya sedih sekali. Saya yang waktu SD dulu sering sekali main ke rumah Rina, tentu saja jadi dekat dengan ibunya Rina yang baik, cantik dan ramah. Selain itu juga orang tua Rina dan orang tua saya saling mengenal. Ayahnya Rina dan bapak saya alm. bekerja di institusi yang sama. Sayang ketika saya datang menengok ke rumahnya, Rina sedang tidak ada di rumah. Padahal saya ingin sekali bertemu dengannya setelah bertahun2 lamanya kita ga pernah kontak lagi.

Tahun berlalu, berbagai kesibukanpun menenggelamkan kami. Alhamdulillaah suatu hari - kalau tidak salah di akhir tahun 90an - saya akhirnya bisa ketemu lagi dengan Rina di sebuah acara pernikahan, saya lupa pernikahan siapa. Yang jelas tanpa saya sangka Rinapun ada di acara tersebut...! Senang sekali bisa ketemu lagi dengannya. Rina masih tetap cantik dan ramah seperti dulu (oh ya Rina kecil mirip Santi Sardi lho.....๐Ÿ˜), badannya agak kegemukan saat itu. Diapun dengan semangat berbagi resep bagaiman caranya supaya gemuk (sejak kecil kami memang kuyuuusss...dan susah banget bisa gemuk....:-D). Pertemuan yang sangat berkesan, bahkan sampai sekarang.

Sejak pertemuan terakhir itu saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan Rina. Apalagi kemudian saya harus ikut suami saya pindah2 ke sana ke mari, semakin tipislah kemungkinan saya bertemu ataupun kontak dengan Rina. Sampai suatu hari di pertengahan tahun 2000an, salah satu sahabat saya yang juga satu geng dengan Rina dulu waktu jaman SMP (sebut saja namanya Malika) mengabarkan sebuah berita yang luar biasa mengejutkannya. Rina sakit....!! There's something wrong with her mental health.......Rina seperti tidak punya lagi semangat hidup. Kondisinya bagaikan peribahasa "hidup segan matipun tak mau"๐Ÿ˜ญ Sedih sekali mendengarnya, sedih luar biasa...!! Rina sahabatku, Rina yang pintar, Rina yang rajin belajar, Rina yang cantik, ramah dan periang. Ada denganmu sahabatku.....๐Ÿ˜ข Ingin rasanya saya bisa menolongnya. Tapi apa yang bisa saya lakukan....??!! Ayahnya saja malu mengakui kalau jiwa Rina sakit, dan tidak ingin orang lain tahu tentang keadaan Rina ๐Ÿ˜ฅ Ada rasa bersalah dalam hati ini, karena bertahun2 saya seolah2 tidak peduli dengannya. Saya tidak pernah melakukan sesuatu untuk menolongnya. Tapi apa yang bisa saya lakukan...?! Jarak memisahkan kami begitu jauhnya....(alasan yang luar biasa bagusnya ya.....hiks....)

Makin lama kondisi Rina nampaknya semakin parah. Over the years, beberapa kali saya tanyakan kondisinya pada Malika, tapi tidak pernah terdengar ada kemajuan. Pagi tadi, saya terima sebuah mesej dari Malika di inbox FB. Katanya Rina tidak pulang dari kemaren...!! Hari Minggu siang (hari Sabtu malam waktu Boise) Rina pamit untuk beli pembalut. Sejak itu Rina belum pulang lagi ke rumah....!!!๐Ÿ˜ญ Rina oh Rina....di mana kamu..? Apa yang terjadi denganmu. Ya Allah...lindungi sahabatku. Jangan biarkan terjadi apa2 padanya, ya Allah.....kembalikan Rina pada keluarganya....

Sahabat2ku, mohon doa untuk Rina ya........Saya sungguh tidak bisa menyebutkan nama aslinya di sini, tapi tolong doakan sahabatku itu ya.

Saturday, January 30, 2010

Hampiiir saja tertipu......*pfiuh*.....

Lagi asik browsing sana browsing sini eeh tiba2 nemu website ini: http://www.cosmeticsdatabase.com/
Isinya tentang data2 kosmetik2 apa saja dan bahan2 apa saja yang terkandung dalam kosmetik yang aman dan yang berbahaya untuk dipakai. Dari mulai foundation sampai parfum. Tadinya sih ga terlalu tertarik buat mengeksplor website tersebut, tapi trus penasaran juga pen nyobain ngecek kosmetik yang biasa saya pake status 'kebahayaannya' seperti apa ya. Setelah saya search merk day cream dan night cream yang biasa saya pake, terkejut kentutlah saya waktu saya lihat status merk tersebut ada di daerah "merah", yang artinya 'highly hazardous".....!! Waduuh masak siiih....mesti ganti doong....mana baru aja beli persediaan baru, masih penuh dong isinya. Saya eksplor lagi, sapa tau ada harapan, dari merk yang sama ada produk lain yang lebih safe.....eeeh ternyata kaga ada...!!! Hampir semua produk dari merk yang selalu setia saya pakai sejak jaman kuliah dulu itu berada di daerah "merah" semua....!!! Lengkap di situ dicantumkan every single ingredient yg terkandung di dalamnya dengan masing2 resiko penggunaannya pada tubuh dan kulit. Ga tanggung2 resikonya pun salah satunya adalah kanker....!! Yakh, alamat harus dibuang semua dong persediaan......

Masih belum mau menerima kenyataan, saya coba cek lagi merk lain yang compact face powder dan parfumnya selalu setia saya pakai......eng ing eeengng......wow ternyata sama saja....!!! Ada di daerah merah juga....! Wadduuh masak saya harus buang juga semuanya....rugi doongng....... Dari merk ini sih lumayan lah dari beratus produk yang mereka keluarkan, ada beberapa (cuman 5 biji kali!) yang statusnya di daerah "hijau" meaning "low hazard" meaning "aman dikonsumsi". Akhirnya saya 'iseng' meresearch beberapa merk lain lagi yang cukup terkenal macam "Estee Lauder", "L'oreal", "Clinique".....hasilnya sama saja. Mereka semua statusnya "merah"....Kok bisa yaaa.....

Waduuuh dah patah semangat nih, harus ganti merk kosmetik, borongan pula gantinya. Ya sudah saya coba cek merk2 apa saja yang menurut website ini aman dipakai. Ternyata cukup banyak juga tuh merk2 yang muncul....tapii....semuanya asing di telinga saya. Ketika saya cek ke website salah satu merk.....oo-oow...harganyapun aduhai....!! Mau hidup aman dan sehat kok ya muahhall yaa..... Tapi for some obvious reasons tiba2 saya kok jadi ragu ya..... Ini website beneran ga sih, jangan2 hoax doang. Jangan2 cuman pengen nakut2in kostumer, atau semata2 promosi produk2nya mereka aja.

Akhirnya saya search "Enviromental Working Group" di Goggle, daan....eng ing eengng.....ketemulah yang satu ini: http://activistcash.com/organization_overview.cfm/o/113-environmental-working-group
Ternyata oh ternyataaa.....legalah saya....ga usah ganti2 merk lagi, ga usah buang persediaan yang masih ada, ga usah buang uang.....!!!

Artikel tersebut menarik banget, baca deh sampai selesai. Di situ ada sindiran sinis juga terhadap produk2 organik. Saya sih bukan konsumen produk organik....ga kuku harganya euy....Padahal kalo menurut artikel tersebut harga mahal dari produk2 organik itu cuman politik aja. Dengan propaganda hebat dan gede2an tentang betapa penting dan sehatnya mengkonsumsi produk organik, para produsen meraup keuntungan gede2an. Padahal produk2 non-organik tidak lebih kurang sehatnya atau tidak lebih berbahaya untuk dikonsumsi dibanding produk2 organik. Persis kasus susu formula di Indonesia. Ibu2 korban iklan berbondong2 membeli susu formula buat anak2nya, yang paling mahal seolah2 yang paling bagus buat bayi2 atau anak2 mereka. Padahal yang namanya susu ga ditambah kandungan macem2 juga udah sehat. Walopun konon kabarnya menurut orang2 yang sinis dengan susu dan ga menganggap susu itu penting, konsumsi susu berlebihan juga ga bagus buat kesehatan. Menurut mereka lagi asupan kalsium jauh lebih sehat kalo didapat dari bahan makanan lain macam ikan, buah2an, sayuran, dsb. Katanya lhoo..... Saya sih masih percaya2 aja lah sama susu.....

Laaah ini kok jadi ngacapruk ya, dari ngomongin kosmetik malah jadi ngomongin susu formula.....Maaf ya sodara2 lagi kambuh isengnya..... Maaf sudah disuguhi bacaan iseng yang ga guna.....hehe....

Tuesday, January 19, 2010

Mengenang kembali kejadian itu.....

Tanggal 22 Desember tahun ini akan genap 31 tahun Bapak meninggal. Menjelang 'peringatan' hari bersejarah (yang sebetulnya tidak perlu diperingati itu), saya tiba2 teringat dengan sebuah tulisan yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa saya tidak pernah mempublish tulisan ini. Mungkin saat itu saya masih malu menceritakan salah satu kisah masa lalu saya kepada khalayak ramai. Tapi setelah saya baca2 lagi, ternyata lumayan juga  buat hiburan....:-D Maka akhirnya saya putuskan saja untuk mempublishnya sekarang 

Selamat menikmati...! 
*********************************************************************************

Jumat Sore, 19 Desember 1980

"Atos lah teu kedah mapageun Bapa nya? Bapa uih nyalira we. Mending jajan we ieu ku Bapa dipasihan artos 5000"
(Ga usah ngejemput Bapa lah, Bapak pulang sendiri aja. Mending juga jajan nih Bapak kasih uang 5000)

Kecewa sekali karena rencana kami untuk menjemput Bapak dan sekalian jalan2 ke Cirebon urung dilaksanakan hanya karena tiba2 Bapak berubah pikiran dengan alasan yang ga jelas. Tapi seneng juga dapat imbalan uang 5000 rupiah (5000 rupiah saat itu kan waaaah banyak sekalliii yaa....) Sudah terbayang2 dengan segala macam benda dan makanan yg bisa dibeli dengan uang sebanyak itu. Maka kami berempat pun mengiyakan sambil tertawa gembira menerima uang 5000 rupiah tersebut.

Sabtu dini hari, 20 Desember 1980

Lepas sholat shubuh kami sekeluarga melepas Bapak pergi ke Cirebon. Bapak pergi dijemput oleh mobil travel 4848 langganannya. Seperti biasa klo melepas Bapak pergi, saya harus memeluk perutnya yg mulai sedikit membuncit....heemmm...rasanya nyamaaan sekali...sambil mencium bau khas Bapak....
Oh ya Bapak pergi ke Cirebon untuk tugas bulanannya (atokah 3 bulanan?ah saya sudah lupa ternyata....) mengajar di sebuat universitas swasta di sana sebagai dosen tamu. Selalunya beliau pergi Sabtu pagi dan kembali ke Bandung Minggu sore. Dari waktu ke waktu sambil jalan2 kami biasanya ikut pergi mengantar atau hanya menjemput beliau diantar Kang Nana ato Kang ....hemm...lupa lagi supir kami yg satu lagi setelah Kang Nana mengundurkan diri itu. Pokonya begitulah, acara menjemput atau ikut bersama Bapak tugas ke luar kota adalah acara yg sangat menyenangkan buat saya dan kakak2 saya saat itu. Tapi tidak wiken ini, krn seperti yg sudah saya ceritakan di atas tiba2 Bapak membatalkan rencana kami menjemput beliau

Minggu sore, 21 Desember 1980

Harusnya pukul 3 sore Bapak sudah pulang, tapi sudah pukul 4 sore yang ditunggu tak kunjung datang. Saya sudah luar biasa gelisahnya, ga pernah dalam sejarah saya menunggu kepulangan Bapak saya segelisah ini. Sampai Emak, ibu saya, pun cemas melihat kegelisahan saya yang luar biasa. Hingga akhirnya beliau meminta Kang Ilan, kakak sulung saya, dan Kang Dodo, kakak sepupu kami yg tinggal bersama kami saat itu, untuk menemani saya jalan2 ke Secapa sekalian Kang Ilan yang saat itu masih kelas 2 SMP belajar motor di sana.

"Jug Delilin jalan2 heula, engke Delilin uih Bapak tos aya di bumi" (Delilin pergi jalan2 aja dulu, nanti pulang ke rumah Bapak sudah ada), begitu Emak berkata pada saya (kalimat2 pertamanya saya ga ingat lagi).

Pergilah saya ditemani Kang Ilan dan Kang Dodo dengan riang gembira karena merasa yakin bahwa nanti pulang dari jalan2 Bapak pasti sudah ada di rumah.

Menjelang maghrib kami pulang, saya yang sudah riang gembira dalam perjalanan pulang harus kecewa ketika sampai di rumah ternyata Bapak masih belum pulang juga....

Mandi...
Sholat Magrib...
Makan malam....
Masih belum juga datang....Air panas yg sudah Emak siapkan sejak sore, sudah dididihkan kembali untuk yang kedua kalinya.
Menjelang tidur....
Belum pulang juga...
Dan kamipun pergi tidur dengan perasaan sedih dan kecewa

Senin dini hari, 22 Desember 1980

Tengah terlelap tidur, tiba2 saya terkejut bangun mendengar suara ribut2 di lantai bawah rumah kami. Ketika lari keluar kamar, melihat ke bawah ke ruang tamu, saya lihat emak tengah menangis dikelilingi beberapa orang teman baik Bapak dan Wa Eban, kakak sulung Emak. Hati saya tersentak seketika, "Ini pasti ada apa2 dengan Bapak....!"
Sayapun lari turun sambil menangis dan berteriak2 memanggil Bapak. Sesampainya di bawah saya langsung lari ke pelukan Wa Eban...Entah dari mana saya mendengarnya, tapi kemudian saya tahu bahwa Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil travel yang ditumpanginya bertabrakan dengan sebuah bis di daerah pinggiran Sumedang.

Setelah reda menangis, saya dan kakak2pun disuruh sholat shubuh. Selesai sholat saya sempatkan berdoa memohon kepada Allah semoga Bapak selamat, tidak kurang satu apapun. Saya ingat betul sambil melipat mukena saya terus membisiikkan doa itu sambil melihat ke luar jendela kamar, dan nun jauh di sana saya melihat sebuah lampu berkelip2. Saat itu dalam benak saya lampu itu seperti secercah harapan yang membuat saya yakin Allah mendengar doa saya, dan saya yakin Bapak pasti selamat

Saya tidak ingat betul apa saja yang terjadi selanjutnya, kejadian yang masih segar dalam ingatan saya hanyalah rumah yang tibak2 penuh sesak oleh tamu2 yang terus berdatangan, dan saya yang luar biasa kebingungan dengan semua kejadian ini. Mengapa kami tak kunjung pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak? Kenapa justru kami harus berdiri di sini di ruang tamu menerima setiap tamu yang tak henti2nya berdatangan?Kenapa Emak terus2an sedih dan menangis setiap ada tamu yang datang dan menyalaminya? Sayapun tak henti2nya merengek minta segera pergi ke rumah sakit. Sampai akhirnya datanglah orang2 memanggul jenazah yg kemudian ditempatkan tepat di tengah2 ruang tamu kami. Saya semakin bingung dengan kehadiran jenazah di ruang tamu itu. Jenazah siapakah itu? Kenapa Bapak kecelakaan bukannya kami pergi ke rumah sakit untuk menengoknya, malah tiba2 saja datang jenazah orang lain ke rumah kami? Rengekan sayapun semakin menjadi. Sehingga akhirnya beberapa orang - saya ga ingat lagi siapa - menghampiri saya, dan bertanya:

"Delilin hoyong ka Bapak? Yuk atuh urang ningali Bapak yuk..."

Betapa gembiranya saya karena akhirnya ada yang mau mendengar keinginan saya dan mau memenuhinya. Tapi saya jadi heran ketika seorang dari mereka malah menggendong saya menghampiri jenazah di tengah ruangan itu. Dan seorang yang lain bersiap2 untuk membuka kain kafannya. Tentu saja saya ketakutan dan minta mereka untuk tidak membukanya......Ah saya makin bingung....makin sedih.....makin ga menentu...kepala saya jadi sakit sekali. Sayapun akhirnya memilih naik ke lantai atas dan main dengan sepupu2 saya. Sambil bermain saya merasakan kepala semakin berdenyut. 

Kurang lebih pukul 10 pagi jenazah tersebut kemudian disholatkan. Selesai sholat kamipun bersiap2 untuk mengantarkan jenazah ke kuburan. Saya masih belum mengerti kenapa kami harus mengantarkan jenazah yang entah siapa itu, dan bukannya pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak. Saya, Emak dan salah satu kakak perempuan saya pergi bersama dalam satu mobil. Mobil salah satu sahabat Bapak, Wa Ami (Ami Raksanagara) dan Wa Iyus (Yus Rusyana). Di dalam mobil sebelum berangkat, Wa Ami menyodorkan nasi bungkus pada kami sambil berkata,

"Tadi enjing2 saur Bapak kedah tuang heula...bla..bla..." 

(ga ingat lagi omongan Wa Ami selanjutnya, hanya kalimat pertama itulah yang saya ingat betul sampai sekarang. Akibat mendengar kata2 itulah keyakinan saya bahwa Bapak selamat semakin kuat).

Sepanjang perjalanan saya menghibur diri, bahwa kami akan pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak setelah pemakaman selesai (saat itu saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa jenazah tersebut (mungkin) adalah jenazah teman Bapak yg meninggal dalam kecelakaan tersebut. Tapi keukeuh ga ngerti kenapa kami harus ikut memakamkannya, sementara Bapak kami 'telantarkan' di rumah sakit). Sampai saat inipun saya tidak mengerti apa sebabnya saya tidak bertanya sedikitpun tentang keberadaan jenazah tersebut.

Sampai di pemakaman - nampaknya sih sedang persiapan penguburan - saya ditemani oleh sahabat Bapak yang lain, Mang Agus (alm). Saya ingat betul beliau ngasih saya coklat yg sudah meleleh, tapi saya seneng sekali krn dia ngasih coklat meleleh tersebut sambil melucu dan ga berhenti ngajak saya ngobrol. Kemudian - nampaknya sih proses penguburan sudah selesai - saya tiba2 dipanggil mendekati kuburan (entah oleh siapa, ga ingat lagi). Seseorang menyodorkan setumpuk bunga dan botol air putih. Saya menerima keduanya sambil bertanya2 dalam hati kenapa saya disodori benda2 tersebut . Kata2 yg kemudian diucapkan orang inilah yg membuat dunia saya seolah terbalik, membuat saya merasa langit runtuh di atas kepala saya (hal yang paling ditakutkan oleh orang2 Galia di komik Asterix bukan...? dan saat itu saya benar2 merasakan apa yang selalu mereka takutkan itu). Tiba2 saya merasa seperti balon kempes yang melayang2 hampa di udara. Saya ingin menangis meraung2 menggali kembali kuburan yang masih basah di hadapan saya ketika saya mendengar orang itu berkata,
"Sok ayeuna Delilineun ngadua di kuburan Bapak...." (Sok sekarang giliran Delilin berdoa di kuburan Bapak)
APA...??!! KUBURAN BAPAK....??!! KENAPA...??!! JADI...??!!Jadi selama ini.....jadi semua harapan2 saya sejak saya berdoa selesainya sholat shubuh tadi pagi...........
Saya hanya bisa menunduk lemas dan lunglai sambil menangis terisak-isak........

Berbagai "kenapa"pun mulai menari2 di kepala saya. Kenapa bisa jadi begini? Kenapa semua terjadi seperti ini...? Kenapa bisa Bapak yang tadi pagi masih baik2 saja sekarang tiba2 meninggal, tiba2 sudah dikubur? Kenapa Bapak yang tadi pagi masih berpesan kepada Wa Ami agar kami tidak lupa sarapan, sekarang tiba2 meninggal?

Pertanyaan2 itu terus berputar di kepala saya. Bertahun2 pertanyaan2 itu berusaha saya jawab sendiri. Dengan berjalannya waktu dan semakin matangnya pemahaman saya, sayapun akhirnya bisa menjawab sendiri pertanyaan2 tersebut tanpa harus mengungkapkannya pada seseorang.

Pertanyaan2 itu tidak pernah saya ungkapkan pada siapapun...bertahun2....hingga hari ini saya memutuskan untuk mengungkapkannya. Walopun saya sudah ga butuh lagi jawaban dari pertanyaan2 tsb. tapi semoga saya bisa lega karena akhirnya sekarang saya bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya di hari Bapak meninggal. Setelah 29 tahun berlalu......

** Semoga setelah mengungkapkan semua ini harapan2 konyol yg sering muncul di hati saya bahwa Bapak is still alive somewhere out there dan satu saat akan muncul di hadapan kami akan hilang tuntas ga ada lagi di pikiran (gila) saya...
** I found out a few years later that due to the impact of the accident my father's face was quite unrecognizable. That's probably why none of us were allowed to see his body. It also made me wondering how they could tell that it was my dad's body. Nobody ever told me what really happened after the accident. I, on the other hand, never bothered to ask anybody. It's another reason for me to have the nagging thought in the back of my head all those years that somehow Bapak was still alive somewhere out there. Silly me.....!!

Surat Wasiat.....Apaan Tuuuh....??!

Obrolan spontan antara saya dan anak2 dalam sebuah perjalanan pulang ntah dari mana (lupa...:-D):

Abdih: "Ibu, if both you and Ayah die, will I go to the orphanage?"
Ibu (confidently): "Ya engga dong Dek, kan masih ada Bi Aden, Nenek, Papa*), Ummi**). Adek, Abang dan Sajid kan bisa tinggal sama mereka"
Abdih: "Adek mau sama Bi Aden...!!"
Hanif: "Hanif mau sama Papa...!! Eh...sama bi Aden juga ding...."
Dasar anak2.....
*): their paternal grandfather
**): their paternal grandmother



Kalo sudah ngomongin masalah kematian memang suka takut dan sedih ya....Apalagi klo harus ngomonginnya sama anak2. Tapi ya mau gimana lagi, itu salah satu kenyataan hidup yang harus kita hadapi satu saat nanti. Walo ga pernah bener2 kepikir ke arah sana, tapi mau ga mau memang ternyata banyak hal yang harus disiapkan....ya iya lah....salah satu tujuan hidup kita kan memang kematian....:-)

Saat ngobrol sama anak2 itu, saya enteng banget mikir "kalo saya dan abang meninggal anak2 toh masih punya keluarga besar di Indonesia yang bakal ngurus mereka". Sama sekali ga kepikir hal2 lain ato masalah2 lain, saya selalu berpikir it'd be as simple as that. Anak2 tinggal dipulangkan ke Indonesia ketemu keluarga besar mereka di sana, hidup sama mereka. That's it...! Tapi kenyataannya tidak semudah itu, sodara2...! Paling tidak di Amrik sini ternyata kejadiannya takkan semudah itu. Seandainya orang tua meninggal dan anak2 tidak punya immediate family yang tinggal di sini, maka mereka akan menjadi tanggung jawab negara alias pengasuhan mereka akan diambil alih oleh pemerintah sampai keluarga terdekat mereka datang dan mengambil alih mereka. Oh...proses pengambilalihannya juga tidak akan semudah dan seotomatis itu...! Harus jelas paperworksnya...! Sudah datang ke sininya juga takkan mudah dan cepat, harus siap2 pula dengan berbagai macam paperworks...walaah...bakal ribet dan kompliketid dong deh pun..... 

Oleh sebab itulah maka betapa urgentnya buat kami untuk segera membuat surat wasiat....Surat wasiat...??!! duuuh betapa asingnya benda itu buat kami....Selama ini kan yg namanya surat wasiat itu cuman ada di dongeng2 dan film2. Itupun kesannya hanya untuk mereka yang punya harta benda nan banyak dan berharga yang cukup untuk anak-cucu tujuh turunan. Lah kami...?? Jangankan cukup untuk 7 turunan, bisa hidup cukup sehari2 saja sudah sujud syukur.....

Maka terkenjut kentutlah adik saya ketika pada suatu hari tanpa tedeng aling2 tanpa peringatan sebelumnya bahkan tanpa penjelasan apa2, tiba2 suami saya mengirimkan surat wasiat kami kepadanya dalam bentuk email attachment.....Diapun heboh bertanya pada saya "Ada apa? Kenapa? Bagaimana?...dst..."

Padahal penjelasannya as simple as that.....yah ga simple juga sih ya.... :-D Pokonya intinya sih surat wasiat itu kami buat karena kami ga tau kapan, di mana dan bagaimana kami akan meninggal. Kami ga punya harta benda, tapi kami punya 3 harta tak ternilai yang harus kami lindungi kesejahteraannya sepeninggal kami. Kami tidak mau hak pengasuhan mereka jatuh ke tangan orang2 yang tidak bisa kami percaya, dan kami tidak mau hidup mereka semakin sulit sepeninggal kami karena tidak ada orang2 yang mereka percaya yang akan mengasuh mereka, walau hanya untuk beberapa hari ataupun beberapa bulan saja. Yang terpenting yang kami cantumkan dalam surat wasiat itu bukan berapa banyak harta yang kami tinggalkan dan bagaimana pembagiannya....itu mah alhamdulillaah suda jelas ya pengaturannya dalam hukum waris Islam......Tapi yang terpenting adalah kami menunjuk legal gurdian(s) untuk anak2 kami yang berhak mengasuh mereka sepeninggal kami dan juga menunjuk siapa2 saja yang punya hak mengasuh mereka sebelum legal gurdian(s) itu datang ke sini untuk 'mengclaim' mereka. Intinya kami menitipkan mereka kepada salah satu keluarga muslim yang kami percaya-salah satu keluarga dari muslim community di sini-sebelum 'guardian angel' mereka (*blink2* Bi Aden....) datang untuk menjemput mereka kembali ke Indonesia. Walaupun pada kenyataannya bla-bla-bla dan blu-blu-blunya banyak, cukup jlimet dan dengan kata2 yang aduhai pula...tapi ya inti surat wasiat kami itu ya itu, cuman itu.

Duuh....tenggorokan saya tiba2 tercekat lagi nih....Ketika membaca draft surat wasiat tersebut pun, tak sadar mata saya menghangat. Betapa ternyata kematian itu begitu dekat, sedekat urat leher kita. Betapa memang kita harus mempersiapkan seluruh jiwa raga kita untuk itu. Hal-hil yang nampak nihil seperti surat wasiat ini adalah salah satunya. Kelihatan sepele dibanding dengan hal2 besar lain yang harus kita persiapkan menyambut datangnya hari H tsb., tapi kalau ingat kesejahteraan dan keselamatan anak2 kita yang jadi taruhannya, betapa ternyata surat wasiat itu juga penting sekali. Yah paling tidak penting untuk kami yang tinggal di negara ini yang peraturannya jauuuh berbeda dan relatif lebih kompliketid dibanding peraturan di negara kita. Kalau tidak salah dalam sebuah hadits Rasulullaah saw.pun menganjurkan kita untuk membuat surat wasiat (benarkah saya? cmiiw...!).

Saya sebenernya pengen berbagi cerita nyata tentang bagaimana akibat kekompliketidan hukum di sini membuat seorang anak kecil (usianya masih di bawah 10 tahun) yang terbaring tak berdaya di sebuah RS setelah sebuah kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya harus jatuh ke tangan State Custody karena orang tuanya tidak meninggalkan surat wasiat. Pamannya yg tinggal di Kanada harus menghire seorang lawyer untuk mendapatkan hak asuh atas anak tsb. Atau cerita nyata lain tentang seorang istri yang kehilangan hak asuh atas anak2nya setelah suaminya masuk penjara hanya karena akte kelahiran anak2 mereka tidak diakui keabsahannya oleh pemerintah di sini. Tapi kalau saya ceritakan semua sampai ke detail2nya nanti bakal tambah puanjang lagi dong 'artikel' saya ini......hehe...ini aja udah mulai pada bosen kan bacanya...? Jadi cukup garis besarnya saja ya sebagai gambaran. Gakkan keluar kok di ujian nanti....hehehehe....

Sekedar penutup dan fyi, surat wasiat itu akhirnya kami tanda tangani di depan 2 orang saksi sehari sebelum kami menempuh perjalanan panjang menuju Atlanta. Walaupun niat untuk membuatnya sudah cukup lama tapi perjalanan inilah yang mendorong kami segera melaksanakan niat tersebut. Pikiran kami saat itu: tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan tersebut, apalagi jarak yang harus kami tempuh saat itu suangatlah puanjang (kurleb 4400 miles pp). Namanya takdir, siapalah yang tahu. Walau alhamdulillaah kami akhirnya kembali dengan selamat ke Boise, tapi tetap saja tokh surat wasiat itu penting keberadaannya dan akan terus berlaku sampai maut menjemput kami. Nanti ke depannya tentu saja akan ada beberapa clausul yang harus diup-date disesuaikan dengan berbagai perubahan sikon