Friday, March 14, 2025

Tentang Menantu (Perempuan)

Saya bukanlah menantu ideal para mertua. Selain buruk rupa, saya juga ngga pandai mengurus rumah tangga terutama masak. Mungkin karena sebab-sebab itu maka dulu saya sering dimarahi oleh mama mertua saya. Papa mertua tidak pernah marah (pada saya), tapi memang sejak awal tidak pernah pula ramah menegur saya, bahkan tidak pernah menegur sama sekali apalagi ngajak ngobrol. Wes lah pokoknya lengkap sudah 😅

Karena sering dimarahi oleh mertua itulah, maka pada suatu hari beberapa puluh tahun yang lalu, dengan nada merajuk, saya bertanya pada ibu saya tentang alasan mengapa beliau tidak pernah memarahi menantunya. Menantu beliau itu adalah istri dari abang tertua saya, anak laki satu-satunya dalam keluarga kami. 

Jawaban Ibu saya sangat tidak terduga. Beliau berkata, "Kenapa Emak harus memarahi teh Yana? Dia adalah kekasih anak Emak. Kekasih anak Emak adalah kekasih Emak juga" (aslinya beliau berkata dalam Basa Sunda tentu saja). 

Wow....saya langsung terdiam, ngga tau harus berkata apa-apa lagi. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dada; kaget ngga menyangka jawabannya seperti itu, kagum atas kelapangan dada beliau, tapi juga iri karena saya tidak mendapatkan perlakuan yang sama dari kedua mertua saya. Yang jelas kata-kata beliau itu sangat berkesan dalam hati saya. Kata-kata yang paling berkesan adalah, "Kekasih anak Emak adalah kekasih Emak juga". Kesan itu begitu dalam terpatri dalam hati saya, sehingga bertahun-tahun kemudian siapa pun yang menjadi 'kekasih' anak-anak saya, saya selalu ikut jatuh hati padanya. Mulai dari sekedar kecengan (padahal kecengan-kecengan mereka itu anak-anak bule, tetep saja bikin saya ikut sayang juga sama para kecengan tersebut 😂), sampai akhirnya mereka memilih calon istri yang sekarang sudah menjadi istri-istri mereka. 

Saya ngga bohong kalau saya bilang bahwa saya menyayangi kedua menantu saya seperti menyayangi anak-anak saya sendiri. Bisa jadi itu akibat dari kesan mendalam yang saya dapatkan dari perkataan ibu saya lebih dari 2 dekade yang lalu, tapi sebab utamanya tentu saja adalah karena Allah swt. berkenan menganugrahkan perasaan sayang itu dalam hati saya sebagaimana Dia Ta'ala telah menganugerahkan perasaan cinta dan kasih sayang yang mendalam di hati saya kepada ketiga anak-anak saya. 

Bagaimana mungkin saya tidak mencintai kedua menantu saya seperti saya mencintai kedua anak laki-laki saya? Bahkan saya tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya anak-anak saya seandainya saya tidak ikut mencintai istri-istri mereka. Betapa sakit hatinya mereka kalau melihat saya sampai tidak menerima istri-istri mereka di dalam hati saya, bahkan sampai membenci mereka dan menganggap mereka saingan. Seorang ibu tentu saja tidak akan tega menyakiti hati anak-anaknya seperti itu. 

Saya benar-benar bersyukur bahwa Allah Ta'ala berkenan melembutkan hati saya sehingga saya bisa mencintai dan menyayangi menantu-menantu saya seperti saya menyayangi anak-anak saya sendiri. Alhamdulillaah wa syukurillaah. Mohon pertolonganMu ya Rabb agar kondisi hati ini tidak akan pernah berubah selamanya 💗💖