Sunday, May 20, 2007

Happy birthday, my dear

You don't often get the praise
you're so deserving of
Though everyday throughout the year
you're thought about with love
So now is the time to let you know
with thanks in great amounts
For being such a loving husband
in every way that counts.


Happy birthday my dear husband, the other half of my soul.

keselamatan atas dirimu,
pada hari kau dilahirkan,
dan pada hari kau diwafatkan,
dan pada hari kau dibangkitkan kelak,
aamiin, aamiin, aamiin.

20 Mei 1971
20 Mei 2007


Wednesday, May 16, 2007

Sholat Isya menjelang summer

Dengan semakin mendekatnya musim panas, waktu sholatpun semakin bergeser, waktu sholat maghrib dan sholat isya jadi bergeser semakin malam. Sekarang ini sholat maghrib baru mulai jam 21.03 dan sholat isya mulai jam 22.41. Buat kami para orang tua sih ya ga jadi masalah, apalagi saya dan suami saya sudah biasa begadang. Yang jadi masalah tentu saja buat anak2, jangankan waktu isya, waktu maghrib aja udah melewati jam tidur mereka.

Dulu, jaman kami masih di Belanda saya masih ngasih kompensasi sama anak2 untuk tidak melaksanakan sholat maghrib (buat Hanif, akhirnya saya suruh dia sholat maghrib sebelum tidur walopun belum masuk waktu) dan isya. Saat summer terakhir kami di Belanda Hanif masih 7 taun dan Abdih baru 4 taun. Saya masih belum tega merubah waktu tidur mereka yang jam 20.30 itu (jam segini mereka sudah harus ada di atas tempat tidur. Jadi siap2 tidur, mulai dari ganti baju dan gosok gigi, dilakukan sebelum jam segitu), takutnya aktivitas mereka di sekolah terganggu karena kurang tidur.

Sekarang usia Hanif sudah 10 taun dan Abdih sudah 7 taun, sudah ga mungkin lagi mereka diberi kompensasi untuk tidak melakukan sholat maghrib dan isya. Awalnya saya cukup bingung juga gimana caranya supaya mereka ga tinggal sholat tapi waktu tidur mereka tetap tidak terganggu. Lama saya pikirkan masalah ini-jauh sebelum waktu sholat bergeser semakin malam-tapi rasanya hampir ga mungkin ngatur waktu sholat maghrib dan isya disesuaikan dengan waktu tidur mereka yang jam 20.30 itu. Kami tidak punya pilihan lain selain memutuskan bahwa apapun yang terjadi anak2 ga boleh sampai tinggal sholat. Klopun sampai waktu tidur mereka harus berubah, kalaupun mereka sampai harus tidur jauh lebih lambat dari waktu tidur yang seharusnya, so what? Kewajiban tetaplah kewajiban, mereka harus mulai diajak untuk menyadari hal ini. Ada kalanya kita harus mengorbankan kepentingan lain untuk melaksanakan satu kewajiban, termasuk waktu tidur mereka yang berkurang.

It sounds so cruel, doesn't it? Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya kami hanya bisa tawakal. Anak2 kekurangan waktu tidur mereka tokh untuk melaksanakan perintah Allah, maka serahkan saja semuanya padaNya. Atas kehendakNya, anak2 akan tetap sehat dan tidak terganggu aktivitasnya di sekolah walopun waktu tidur mereka berkurang. Namun saya juga tahu saya harus melakukan sesuatu juga sebagai usaha saya untuk menyiasati agar anak2 tidak menjadi buruk kondisinya gara2 kurang tidur. Buat Hanif sebenernya ga ada masalah krn Hanif memang butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya dia bisa tertidur. Klopun dia masuk tempat tidur jam 20.30 dia baru akan tertidur satu jam atau bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai 2 jam kemudian (apalagi klo dia sempat tertidur siangnya). Maka khusus buat Abdih, sepulang sekolah, setelah selesai sholat dhuhur saya wajibkan dia untuk tidur siang (ada kalanya dia ga mau nurut, saking pengennya main sama abangnya, dia milih ga mau tidur siang, dan malamnya dia akan sangat terkantuk2 nunggu sholat isya tiba, malah kadang suka sampai tertidur dan harus dibangunin lagi pas waktunya sholat isya ). Setelah sholat shubuh saya bolehkan mereka tidur lagi sampai jam 7, trus kemudian siap2 pergi sekolah.

Ya alhamdulillaah so far so good, walopun harus tidur jauh lebih lambat, keesokan harinya mereka tetap bisa bangun pagi, sholat shubuh ga telat dan di sekolahpun mereka ga sampai harus terkantuk2. Kebayang kan nanti saat 'puncaknya', sholat maghrib jam 9.31pm, sholat isya jam 11.21pm, dan sholat shubuh jam 4.16am. Untung saat itu mereka tengah summer vacation


Sunday, May 13, 2007

Mother's Day

Ga sabar nunggu sampai hari Minggu, hari Jumat Hanif dan Abdih udah heboh menyerahkan mother's day gifts yang udah mereka bikin dan persiapkan beberapa hari sebelumnya bersama guru dan teman2nya di sekolah.

"Happy early mother's day, ibu" seru mereka dengan manisnya.

Duuuh ibu jadi terharuuuu banget. Makasih ya sayang2ku. Hadiahnya manis2 banget. Ini bukan mother's day pertama yang ibu lewatkan bersama mereka, dan bukan juga mother's day pertama di mana mereka sibuk menyiapkan kado jauh2 hari sebelumnya bersama teman2 dan guru2nya di sekolah. Tapi tetep aja perasaan ibu selalu sama, seneng, bahagia, dan lebih2 terharu. Terharu dengan perhatian mereka, anak2 ibu. Ternyata mereka punya cinta yang besar untuk ibu. Selama ini ibu selalu merasa ibulah yang paling pandai dan paling menyayangi mereka. Kasih sayang mereka ga ada apa2nya dibanding rasa sayang dan cinta ibu untuk mereka. Tapi setiap kali hari ibu tiba ibu seperti diingatkan kembali, bahwa mereka juga punya rasa sayang dan cinta yang mungkin sama besarnya dengan rasa sayang dan cinta ibu buat mereka.

Ibu jadi teringat peribahasa yang mengatakan, "kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa". Setelah punya anak, apalagi setelah mereka pandai mengungkapkan kasih sayang mereka pada ibu, seringkali ibu mempertanyakan kebenaran peribahasa tersebut. Kadang ibu jadi merasa betapa egoisnya bunyi peribahasa itu. Tidakkah peribahasa tsb. menunjukkan keangkuhan yang luar biasa dari seorang ibu. Benarkah kasih seorang anak hanya sepanjang galah? "Sepanjang galah" itu kan untuk menggambarkan betapa kasih sayang seorang anak terhadap ibu atau orang tuanya sangatlah terbatas. Bandingkanlah dengan "kasih ibu sepanjang masa", menunjukkan betapa kasih sayang seorang ibu tidak berbatas, tak kan pernah hilang.

Melihat anak2 ibu sekarang rasanya ibu tidak tega untuk menuduh mereka punya kasih sayang yang hanya sepanjang galah buat ibu (dan juga ayah). Mungkin dengan berlalunya waktu dengan beranjaknya mereka dewasa kasih sayang itu akan mengalami perubahan cara pengungkapan, bukan, sekali lagi, bukan berkurang!! Ibu tengok hati ibu sendiri, kemudian bertanya pada diri sendiri, apakah rasa cinta dan sayang ibu untuk nenek dan aki Dudu telah hilang ataupun berkurang dengan berlalunya waktu dan bergantinya masa?Jawabnya adalah tidak!! Sampai kapanpun ibu akan terus mencintai dan menyayangi nenek dan aki Dudu, dan rasa ini tidak pernah berkurang sedikitpun sejak dulu. Maka, ibu rasa begitu pulalah dengan anak2 ibu (dan bahkan mungkin dengan seluruh-atau okelah kita bilang sebagian besar-anak2 di dunia ini). Bukankah kebutuhan mereka akan kehadiran ayah dan ibu saja sudah merupakan bukti rasa cinta dan sayang mereka pada kami?

Happy Mother's Day