Tuesday, April 17, 2012

Dan Sang Ratupun Berkeliaran di Jalanan

Entah apa yang menjadi pemicunya, hasrat untuk bisa nyetir mobil itu tiba-tiba saja datang menyelinap ke dalam hatiku. Ketika itu saya masih duduk di bangku SMA.  Namun apalah daya, keluarga kami bukanlah keluarga berada. Jangankan membeli mobil, bisa makan cukup setiap hari dan masih ada biaya untuk sekolahpun sudah harus sujud syukur. Sering saya merasa iri melihat teman-teman yang orang tuanya berada membawa mobil sendiri ke sekolah atau ke kampus. Sempat terpikir untuk ikut kursus nyetir, toh untuk bisa nyetir tidak harus punya mobil. Tapi bahkan untuk mengutarakan keinginan tersebut pada Emak, ibu saya, pun saya tidak berani. Ikut kursus berarti harus keluar uang lagi. Jangankan untuk membiayai kursus menyetir, terkadang untuk membeli buku-buku pelajaran sekolahpun saya tidak tega meminta uangnya pada Emak. Maka saya pendam dalam-dalam keinginan tersebut sambil kadang-kadang berkhayal bahwa satu hari saya akan bisa dengan piawai menyetir mobil ke sana ke mari.

Hasrat yang saya pendam selama bertahun-tahun itupun akhirnya bisa terlaksana di awal tahun 2005 (ugh…..butuh waktu yang lama sekali untuk mewujudkan mimpi sederhana ini…! 🙈😅 ). Saat itu tentu saja saya sudah lulus kuliah, sudah menikah sudah pula berbuntut dua orang anak laki-laki dan seorang bayi mungil nan lucu berusia 2 bulan. 

Setelah akhirnya saya bisa nyetir dunia saya memang rasanya berubah, jadi lebih berwarna-warni...! Kalau ingin lebih berhiperbola lagi, saya merasa seperti burung yang bisa bebas terbang ke sana ke mari. Waktu itu kami tinggal di sebuah kota nan asri bernama Al Ain di United Arab Emirat. Kapanpun ada kesempatan untuk nyetir selalu saya pergunakan dengan baik. Tidak ada kesempatanpun, saya ciptakan kesempatan itu dengan membuat alasan-alasan beraneka-ragam. Dari sekedar membawa si bungsu jalan-jalan ke mall, mencari bumbu masakan yang tidak bisa didapat di supermarket dekat rumah, sampai menjemput si sulung dan adiknya dari sekolah, padahal sudah ada bis jemputan yang dengan setia mengantar dan menjemput mereka ke dan dari sekolah setiap hari. Saya betul-betul menikmati kemahiran baru ini. Sedikitpun tidak terlintas dalam pikiran saya saat itu bahwa setahun kemudian saya akan terpaksa menjadikan hobby baru tersebut sebagai sebuah profesi....!

    Kurang dari satu tahun sejak saya mulai menikmati sebuah kemahiran yang sudah bertahun-tahun lamanya saya impikan itu kami sekeluarga pindah ke sebuah kota kecil bernama Boise di daerah Northwest Amerika Serika, tepatnya di sebuah state bernama Idaho. Satu-satunya transportasi yang tersedia di sini adalah bis kota. Tidak ada tram, tidak ada kereta api, tidak ada MRT, apalagi angkot dan ojeg. Bis yang adapun sangat tidak bisa diandalkan untuk bisa pergi ke mana-mana dengan nyaman. Bukan karena kondisi bisnya yang bobrok, reyot, panas nan bau, tapi karena waktu tunggunya yang paling cepat adalah 30 menit saja. Lebih parah lagi, tidak semua tempat-tempat strategis semacam supermarket dan toko-toko kebutuhan sehari-hari terlewati oleh jalur bis. Kalaupun ada yang terlewati oleh bis, kami harus berganti bis lebih dari satu kali. Kalau jadwal bisnya tidak tepat, maka pergantian dari satu bis ke bis yang lainnya bisa memakan waktu satu jam. Kondisi yang sudah sulit itu akan dipersulit lagi kalau seandainya kami harus menunggu bis di tengah dinginnya musim dingin atau di tengah teriknya panas matahari musim panas yang bisa mencapai suhu 40 derajat saja. Oleh sebab itu mobil di sini bukan lagi sebuah kemewahan, tapi sudah menjadi kebutuhan primer. Antar-jemput anak-anak, antar-jemput suami, belanja, jalan-jalan, antar-jemput anak-anak untuk kegiatan extra kurikuler, berkunjung ke rumah teman, pergi ke masjid, pergi ke tempat olah raga, sekedar pergi ke toko untuk beli bahan masakan yang terlupa, semuanya harus dilakukan dengan mengendarai mobil. Kegiatan yang tadinya hanya saya nikmati sebagai sebuah hobby, sekarang sudah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak boleh tidak harus saya lakukan. Maka, sang Ratu rumah tanggapun harus menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan kota Boise. Tidak kalah dengan supir angkot di Bandung…! 😎

    Ada sebuah anekdot dalam bahasa Inggris yang bunyinya begini: “Why are we called stay-at-home Mom while in fact we spend most of our time on the road?”, terjemahan bebasnya kurang lebih adalah: “Mengapa kami disebut stay-at-home Mom kalau pada kenyataannya kami menghabiskan sebagian besar waktu kami di jalanan”. Anekdot itu ternyata tidak mengada-ada, karena begitulah tipikal kehidupan seorang ibu di sini. Pagi-pagi kami harus mengantar anak-anak ke sekolah, kemudian pergi belanja kebutuhan sehari-hari. Setelah beberapa jam di rumah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, kami harus kembali ke sekolah menjemput anak-anak. Kemudian dilanjutkan dengan mengantarkan mereka ke tempat kegiatan extra kurikuler. Menjemput mereka kembali setelah kurang lebih satu atau dua jam. Khusus untuk keluarga kami yang hanya punya satu mobil, seringkali saya masih harus pula menjemput atau bahkan mengantar suami dari dan ke kantor. Kegiatan mondar-mandir rumah-sekolah-kantor suami ini kadang harus diselingi pula dengan kunjungan ke pom bensin, bengkel, toko, supermarket, balai kota untuk bayar tagihan sampah atau perpustakaan umum.

    Bicara tentang suami saya, dia sejatinya pergi dan pulang ke dan dari kantor dengan memanfaatkan jasa bis kota. Kami sengaja mencari rumah yang dilalui oleh bis kota dengan rute downtown di mana kantornya berada. Kebetulan pula kami bisa mendapatkan rumah yang letaknya tidak jauh dari halte bis. Secara teori, sangatlah mudah bagi suami saya untuk pergi ke kantor naik bis kota. Pulang dari kantorpun, secara teori, dia bisa dengan mudah naik bis kota karena kebetulan kantornya tidak jauh dari halte bis kota. Namun pada kenyataannya banyak sekali hal-hal yang membuat dia terkadang harus memohon belas kasihan sang Ratu untuk mengantarnya ke kantor. Terkadang dia harus pula merayu sang Ratu dengan rayuan mautnya agar sang Ratu berkenan menjemputnya dari kantor. Alasannya luar biasa banyak ragamnya. Dari alasan sepele karena ketinggalan bis, sampai harus tinggal lebih lama di kantor karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga sangat tidak memungkinkan baginya untuk pulang naik bis. Bis terakhir di kota kecil ini hanyalah sampai jam 6 sore saja. Maka sang Ratu yang baik hati dan tidak sombong inipun harus selalu siap siaga setiap hari menanti panggilan dinas mulia dari sang Raja.
    Ada saatnya panggilan itu datang tanpa disangka-sangka atau setelah saya punya rencana matang untuk melakukan sesuatu yang lain. Tentu saja saya tidak punya pilihan lain selain menyelesaikan apapun yang tengah saya lakukan secepatnya, dan bergegas menjemput beliau. 
Contohnya saja, suatu hari di tengah musim dingin, tengah saya asyik masak untuk makan malam, tiba-tiba datang telepon dari suami saya, 

“Dek, jemput Abang dong di Glenwood”
“Haaahh...??! Ngapain Abang di Glenwood? Bukannya seharusnya bis Abang udah nyampe 10 menit yang lalu?”
“Iya, Abang tadi ketiduran di bis. Pas bangun udah sampai di Glenwood bisnya....”

Sebetulnya Glenwood itu tidak jauh dari rumah kami. Tapi kenyataan bahwa saya harus berhenti memasak padahal saya ingin cepat-cepat menyelesaikannya supaya anak-anak tidak terlambat makan malam, membuat saya sedikit kesal dengan kesalahan konyol yang dilakukan suami saya......tertidur di bis! Kejadian seperti ini bukan terjadi satu atau dua kali saja. (Kejadian dia tiba-tiba minta dijemput maksudnya, bukan ketiduran di bis.... 😂) Alasannya ya itu tadi, tiba-tiba ada kerjaan yang harus diselesaikan, tiba-tiba ada meeting, tiba-tiba ada student yang minta ketemu. Atau alasan yang sama konyolnya dengan tertidur di bis: terlambat ngejar bis...!😰

    Lalu bagaimana dengan anak-anak? Pekerjaan rutin mengantar dan menjemput mereka ke dan dari sekolah sih tidak perlu ditanyakan lagi. Itu sudah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebetulnya mereka bisa memanfaatkan jasa bis sekolah, tapi apalah daya saya adalah seorang ibu yang paranoid. Terlalu banyak “bagaimana kalau” berkeliaran di kepala saya setiap kali saya membayangkan harus membiarkan anak-anak diantar-jemput oleh bis sekolah. Salah seorang kawan saya pernah bertanya dengan herannya, “Why? Won’t it make your life easier to let your kids go by bus?” (“Kenapa? Bukankah hidupmu akan jauh lebih mudah kalau kamu  biarkan anak-anakmu naik bis sekolah?”). 
Yah, saya hanya bisa tersenyum padanya dan menjelaskan alasan saya apa adanya. Dia hanya bisa mengerutkan kening, terlihat sulit mempercayai ke-paranoid-an saya. Tapi tidak bisa dipungkiri banyak sekali manfaat yang saya rasakan dengan seringnya saya bolak-balik mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah. Saya jadi bisa lebih terikat dengan sekolah beserta isinya, dari mulai murid-murid lain, guru-guru, staff, bahkan penjaga sekolah. Selain itu saya juga bisa mengenal lebih banyak lagi orang tua-orang tua murid yang lain. Yang tidak kalah pentingnya adalah saya bisa memberikan jaminan rasa aman pada anak-anak, bahwa Ibu akan selalu ada di sini siap mengantarkan ke manapun mereka merasa perlu untuk diantar atau dijemput. Kenyataan bahwa saya tidak punya profesi lain selain menjadi stay-at-home Mom dan supir pribadi membuat jadwal saya sangat luwes dan bisa menyesuaikan dengan jadwal mengantar dan menjemput anak-anak ini.

    Proses mengantar dan menjemput ini akan lebih seru lagi di hari Jum’at. Saya harus datang ke dua sekolah yang berbeda menjemput si sulung di Junior High (SMP) dan adiknya di Elementary School (SD) untuk selanjutnya saya antarkan mereka ke masjid untuk sholat Jumat. Selesai sholat Jumat saya antarkan mereka kembali ke sekolah masing-masing dan suami ke kantornya. Setelah suami aman sampai di kantornya, sayapun harus kembali ke sekolah anak-anak untuk menjemput mereka setelah sekolah usai. Pertama menjemput anak saya yang kedua dan ketiga di Elementary School, kemudian menjemput si sulung di sekolahnya di Junior High. Setelah kurang lebih 2 jam istirahat di rumah, sayapun kembali memboyong anak-anak ke masjid untuk acara ngaji keluarga. Jadi tidak heran kalau Jum’at malam sekembalinya kami ke rumah saya akan langsung lengser ke kamar dan ambruk...!

    Jadi begitulah, saya terus berusaha untuk tetap ikhlas menjadikan hobby baru saya sebagai sebuah profesi yang cukup melelahkan tanpa mengharapkan balasan materi. Apakah saya bahagia dengan profesi baru ini? Sejujurnya, ada saat-saat di mana saya begitu lelah menghabiskan sebagian besar waktu saya di depan setir. Ada saat-saat ketika membayangkan harus kembali duduk di depan setir saja sudah membuat saya mual. Namun selebihnya, saya hanya bisa bersyukur bahwa Allah sudah mengabulkan cita-cita masa kecil saya, walaupun pada kenyataannya cita-cita ini terlaksana melebihi porsi yang dulu selalu saya impikan. Kalau dulu saya selalu memanfaatkan kesempatan setiap ada alasan untuk nyetir, sekarang justru sebaliknya. Setiap ada kesempatan saya tidak harus nyetir, saya manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun saya juga harus jujur mengatakan bahwa hidup saya akan menderita kalau saya tidak bisa nyetir lagi sama sekali. Hal ini sudah saya buktikan ketika di akhir tahun 2008 kami sempat pindah ke Singapur. Selama kurang lebih 3 bulan saja kami tinggal di sana, saya harus dengan rela menanggalkan profesi saya sebagai seorang supir pribadi. Bukan karena tidak ada yang bisa diantar dan dijemput, tapi karena kami sama sekali tidak mampu untuk punya mobil ! Saya masih harus mengantar dan menjemput anak ke sekolah, saya masih harus belanja ke sana ke mari. Tapi semuanya harus saya lakukan dengan naik turun bis dan MRT, terkadang taksi. Percayalah, saya betul-betul merindukan untuk kembali jadi supir pribadi. Saya betul-betul merindukan saat-saat duduk di belakang setir. Ternyata nyetir buat saya bukan hanya sekedar sebuah profesi, tapi juga sarana untuk refreshing. Saat itulah saya menyadari bahwa walaupun sudah jadi profesi, nyetir tetaplah sebuah hobby buat saya.

    Maka, setelah kami pindah lagi ke Boise, setelah sekarang saya kembali menjadi seorang supir pribadi, setiap saya dilanda rasa lelah dan bosan dengan profesi ini saya akan langsung mengembalikan ingatan saya ke masa 3 bulan kami tinggal di Singapura. Sekarang saya semakin yakin, selelah dan sebosan apapun, saya akan selalu mencintai profesi ini, dan seperti istilah orang sini, “I wouldn’t trade it for the world…!”.... 🙏😇