(((Klo di Singapur ada yang namanya Singlish (singkatan dari "Singapore-English), di Belanda ada Dutchlish dan di Arab, Rablish (dua yg terakhir, maaf, hanya istilah karangan saya sendiri;-D), maka di Boise, tepatnya di Pierce Park Village, ada yang namanya "Sajlish". Bagaimana istilah ini bisa muncul? Begini ceritanya,
Sejak Sajid lahir saya dan suami saya selalu bicara menggunakan Bahasa Indonesia kepadanya. Setelah pindah ke Emirat dan kemudian pindah ke sini kami tetap tidak membiasakan diri untuk berbicara bahasa Inggris dengannya. Maksud dan tujuannya tentu saja jelas sekali, kami tidak ingin Sajid lupa dengan bahasa ibunya dan kami ingin Sajid mahir berbicara Bahasa Indonesia dulu sebelum dia kemudian mengenal Bahasa Inggris. Namun apalah daya sebelum dia benar2 mahir bicara dalam Bahasa Indonesia, dia harus terekspos begitu hebatnya dengan Bahasa Inggris. Mulai dari film2 DVD yg dia tonton, kemudian buku2 yang saya bacakan untuknya (sayang sekali kami betul2 hanya punya sedikit sekali koleksi buku anak2 dalam bahasa Indonesia. Masak saya harus bacakan majalah Femina dan Kartini padanya...

), sampai akhirnya abang2nya pun tidak bisa menahan diri untuk mulai bicara bahasa Inggris di rumah baik di antara mereka berdua atau dengan kami, ayah dan ibunya. Belum lagi klo Sajid saya bawa keluar rumah, ke tengah2 keramaian 'manusia2 asing' yang berbicara dalam bahasa 'asing'. Akhirnya dia mulai mengerti bahwa ternyata banyak sekali makhluk2 di luar dirinya yang bicara dengan bahasa lain yang awalnya terdengar aneh dan tidak jelas artinya di telinga dia. Apa yang terjadi selanjutnya?
Karena seringnya 'dibombardir' oleh bahasa yang aneh dan sulit diikuti itu, akhirnya-setelah beberapa bulan tinggal di sini-bayiku ini ingin juga ikut2an bicara bahasa aneh tersebut. Namun apalah daya kemampuan dia untuk menangkap kata2 dalam bahasa aneh tsb. sangatlah minim, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah bahasa yang tidak kalah anehnya. Saya sendiri awalnya tidak menyadari bahasa aneh ini, saya cuman heran kok Sajid-yg saat itu baru menginjak usia 2 taun-yg sudah mulai bisa ngomong (dlm bahasa Indonesia) tiba2 jadi ngoceh ga jelas lagi. Tapi lama2 setelah saya perhatikan lagi, dia ngoceh ga jelas itu hanya ketika bertemu dengan orang2 asing ato klo sedang berusaha ngajak ngobrol anak2 bule di luar rumah. Satu contoh, klo saya bawa dia ke toddler story-telling di library dia akan dengan hebohnya menyapa anak2 bule di sekelilingnya, atau berteriak sambil nunjuk2 ke arah sang storyteller, tentu saja menggunakan bahasa anehnya. Mengertilah saya kemudian bahwa ternyata Sajid sedang berusaha bicara dalam bahasa Inggris! Demikianlah, maka "Sajlish"pun tercipta, Sajid-English, bahasa Inggris versinya Sajid

Awalnya Sajid ngoceh Sajilish hanya klo berada di luar rumah di tengah2 orang2 yang berbicara bahasa Inggris, namun lama-kelamaan di rumahpun dia mulai sering sekali ngoceh menggunakan Sajlish ini. Pada mulanya dia hanya ngoceh sendiri di depan TV sambil nonton Thomas kesayangannya atau sambil 'baca buku', bicara dengan kami masih menggunakan bahasa Indonesia. Lama kelamaan dengan kamipun dia mulai ngomong pake Sajlish. Maka mulailah konflik sering terjadi, ketika dia dengan hebohnya ngomong Sajlish sementara saya sama sekali clueless dengan apa yg dia omongkan. Dia keukeuh ngomong Sajlish saya keukeuh ga ngerti. Sampai akhirnya ga jarang saya sendiri frustasi berusaha memahami apa yang Sajid inginkan sementara dia keukeuh menyampaikannya dalam Sajlish, kalau sudah begini dengan frustasinya saya akan bilang, "Sajid pliiiiss ngomongnya pake bahasa Indonesia Naaak....Ibu ga ngerti apa yang Sajid mauuu...!"

Dia jadi frustasi juga krn saya ga ngerti2 apa yang dia mau sambil nangis dan marah2 dalam (keukeuh) Sajilishnya!!

Hari2pun berlalu, setelah berminggu2 bahkan berbulan2 Sajlish tercipta, akhirnya Sajid mulai bisa menangkap beberapa kata dengan jelas dan sudah pula bisa mengasosiasikannya dengan makna yang terkandung di dalam kata2 tersebut. Maka, Sajlish yg awalnya hanya ocehan2 ga jelas yang bener2 incomprehensible sekarang sudah mulai mewujud dalam bentuk kata2, bahkan kalimat (sangat sederhana) yg yaaah lumayan lah bisa dimengerti

Misal klo dia ingin sesuatu dia sudah bisa bilang, "Awon Thomas" atau "Awon dis" atau "Awon ambila", dlsb., yang maksudnya "I want Thomas", "I want this" dan "I want umbrella". Klo dia ingin megang sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dia akan bilang, "Kenay si?", maksudnya "Can I see?"...hehe..masih ga nyambung....;-D Klo dia minta tolong sesuatu dia akan bilang, "Ke nyu hepmi bla bla bla..?", maksudnya "Can you help me-blablablanya masih jabbering incomprehensible-?". Klo denger suara yg terasa aneh di kupingnya dia akan bilang, "Wos det saun?" ("What's that sound?"). Klo nyari Ibu dia akan teriak2, "Iiii..buuu...wel aaayuuu..?!". Klo ditanya trus dia ga tau jawabnya, dia bilang dengan lempengnya, "Adonow.."

Satu hari saya sedang sibuk di dapur tiba2, "Krompyang...gedubrag...breng brong..!!" saya-dengan tak sengaja-menjatuhkan sesuatu. Tiba2 dari arah ruang depan, ada suara mungil yg berteriak, "Ibu...hot heppen..!"...hihihi...anakku udah bisa bilang, "What happen..."!! Isn't it amazing..?? Yah buat saya ibunya ya amazinglah....Namanya juga anak sendiri, serasa yang paling pinter sedunia!!

Selain itu, sekarang begitu denger satu kata, dia bisa langsung mengucapkannya dengan (lumayan) jelas, walo kadang belum ngerti apa artinya. Semakin hari vocab englishnya semakin bertambah, warna2pun (tiba2) dia sudah tahu dan sudah pula bisa mengucapkannya dengan (lumayan) baik dan benar, angka favoritnya (walo kalo berhitung masih ngaco!...hehehe...) adalah "fol" sambil nunjukkin keempat jarinya . Hingga satu saat ketika kami belanja dan sedang bayar, si kasir nanya umurnya dia, dengan semangat dia tunjukkin jari2nya dan bilang "Fol!"

Jadi sekarang dia kalo ngomong campur2, antara Sajlish dan English. Tapi hebatnya klo ngomong pake basa Indonesia ga pernah campur2

Bukan hebat siih sebenernya :-), ga pernah campur2 krn klo ngomong bahasa masih kalimat2 singkat, sementara klo ngomong Sajlish (yg campur2 dengan english) kan maunya dia ngomong nyerocos panjang2, yg klo menurut dia sih kalimat lengkap yang baik dan benar

Saya sebetulnya inginnya Sajid jadi "the proper bilingual child". Dari beberapa artikel tentang bilingual yang pernah saya baca, ada satu yang saya yakini kebenarannya sampai sekarang, yaitu bahwa untuk menjadi the proper bilingual seorang anak harus terekspos dalam dua bahasa dengan baik dan benar juga. Maksudnya begini, dia harus punya dua lingkungan yang berbicara dengan 2 bahasa yang berbeda kepadanya dengan kontinyu dan konsisten. Dua lingkungan tersebut bisa berupa kedua orang tuanya yang masing2 berbahasa berbeda dengan konsisten dan kontinyu kepadanya, atau bisa jadi orang tua dan baby sitter atau pengasuh lainnya yang punya interaksi yang kontinyu dengannya. Misal, klo ibunya konsisten bicara dalam bahasa Indonesia maka ayahnya harus konsisten bicara dalam bahasa Inggris. Demikian pula, klo baby sitter/pengasuh/nenek/kakek/tante bicara konsisten dalam satu bahasa maka kedua orang tuanya harus konsisten bicara dalam bahasa yg lain. Untuk anak2 usia sekolah, dua lingkungan itu juga bisa berupa lingkungan sekolah dan lingkungan rumah (yang ini sih pendapat pribadi saya aja berdasarkan pengalaman sendiri yang tumbuh sebagai anak bilingual, walo bilingualnya 'cuman' bahasa indonesia dan sunda, tapi tetep wee bilingual kan..hehe).
Yang terjadi pada Sajid, saya sadar, tidak seideal itu. Saya dan suami saya berusaha untuk konsisten bicara dalam bahasa Indonesia kepadanya, abang2nya bicara campur2, sementara lingkungan selebihnya (TV, buku2, orang2 di luar rumah) bicara konsisten dalam bahasa Inggris. Semoga saja kondisi ini, walopun tidak ideal, masih bisa menjadikan Sajid anak bilingual yang baik dan benar.

Oh ya, klo mau denger bagaimana bunyinya Sajlish itu,
di sini ada sedikit contohnya ;-) (tapi beribu maaf hanya bisa diakses oleh 'contacts' saya saja)