Friday, August 31, 2007

Izin sholat Jumat dari sekolah

Pagi ini saya dan suami saya datang ke sekolah anak2 untuk bertemu guru kelasnya Hanif, Mr. Heller dan Kepala Sekolah, Dr. Olsen. Kami bermaksud untuk memintakan izin mereka agar Hanif bisa di'excuse' setiap hari Jumat siang untuk sholat Jumat. Hanif bulan Oktober nanti sudah berumur 11 tahun, jadi sudah ga ada alasan lagi bwt kami untuk memberikan dispensasi padanya untuk tidak melaksanakan sholat Jumat. Mungkin seharusnya sudah sejak setaun yang lalu hal ini kami lakukan. Tapi taun lalu 'excuse' kami adalah Hanif masih dalam masa adaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Hanif berani sholat di sekolah di depan guru dan teman2nya saja sudah merupakan satu prestasi yang luar biasa buat kami. Sehingga akhirnya kami putuskan untuk menundanya hingga taun ajaran baru taun ini.

Walopun kami yakin ini adalah hak kami dan pihak sekolah tidak seharusnya mempermasalahkannya, tetep saja saya deg2an ketika kami berjalan menuju sekolah. Perasaan khawatir permintaan izin kami akan ditolak tetep aja hadir dalam hati saya

Tujuan pertama kami adalah kelasnya Hanif, ketemu dengan guru kelasnya. Untung di sini sama seperti di Belanda ketemuan dengan guru2 atau kepala sekolah ataupun sekretaris sekolah ga ribet harus pake janjian segala, ga kayak di Emirat yang penuh dengan birokrasi bahkan pihak orang tua tidak diizinkan untuk ketemu langsung dengan guru2. Jadi kami bisa melenggang dengan bebasnya langsung menuju ruang kelas. Tetap dengan hati deg2an (saya maksudnya yang deg2an, si Abang sih keliatannya tenang2 ajah) kamipun bertemu dengan Mr. Heller dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Suami saya menjelaskan dengan (cukup) panjang (tapi tidak) lebar kenapa Hanif harus melaksanakan sholat Jumat, thus he must excuse himself from his class every Friday afternoon. (Tidak terlalu) di luar dugaan, Mr. Heller merespon penjelasan kami dengan simpatik dan sangat memahami kebutuhan Hanif untuk sholat Jumat. Salah satunya dia berkata,
"Oh, it's fine with me, if it is very important for him" sambil tersenyum penuh pengertian (bohong deng.....dia tersenyum tapi ga tau tuh penuh pengertian ato engganya mah..hehe..)

Singkat cerita, selesailah urusan kami dengan Mr. Heller yang dengan tidak keberatan memberikan izinnya untuk Hanif untuk keluar kelas setiap hari Jumat siang. Tujuan kami selanjutnya adalah school office untuk ketemu Dr. Olsen, sang Kepala Sekolah.

Singkat cerita (lagi), setelah kami jelaskan semuanya (persis seperti penjelasan kami kepada Mr. Heller), Dr. Olsen bersahut,
"Wow....I've never heard about this before. It's very interesting!"
(responnya ini persis sama dengan respon dia ketika taun lalu kami menjelaskan kepadanya tentang Hanif dan Abdih yang harus puasa sepanjang bulan Ramadhan thus ga makan dan ga minum saat makan siang di sekolah). Intinya, Dr. Olsen mengizinkan dan mendukung Hanif yang harus 'bolos' setiap Jumat dari jam 12.45 p.m. (saat Ibu datang menjemput) sampai kurang lebih jam 13.50 (saat Hanif kembali lagi ke sekolah setelah sholat Jumat usai). Dia bahkan kemudian bertanya tentang bagaimana dengan hari2 yang lain di mana Hanif harus sholat di siang hari di tengah waktu sekolah (sholat Dhuhur maksudnya). Dia bertanya haruskah Hanif disiapkan tempat khusus untuk sholat yang sepi dan bebas dari kerumunan teman2nya. Apakah Hanif harus dia panggil turun ke kantornya dia, dan melaksanakan sholat di sana. Dr. Olsen juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana Hanif menghadapi pandangan heran dan aneh dari kawan2nya melihat dia harus sholat di sekolah. Kami jawab bahwa sebetulnya Hanif boleh sholat di mana saja, sejauh itu nyaman buat dia, ga harus disediakan tempat khusus. Mengenai kekhawatirannya, kami jawab bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus Hanif hadapi. Kamipun tak lupa mengatakan bahwa Hanif sudah pernah melakukannya satu kali taun lalu di kelasnya Mrs. Scofield. Akhirnya Dr. Olsen memutuskan untuk bicara dan bertanya langsung saja sama Hanif, apa maunya Hanif.

Respon Dr. Olsen yang demikian bukan saja membuat kami lega, tapi sungguh2 membuat kami bersyukur atas nikmat Allah kepada kami. Pihak sekolah Hanif bukan hanya mengizinkan dan mendukung kami, bahkan bersedia memfasilitasi Hanif untuk bisa sholat dengan nyaman di sekolah. Ini benar2 sebuah nikmat dari Allah yang luar biasa besarnya buat kami, sehingga kami dan anak2 kami bisa dengan mudah melaksanakan ibadah kami kepadaNya. Saya serasa melayang ketika berjalan keluar sekolah, hatipun terasa berbunga2 Hanya dengan kehendak dan kuasa Allahlah semua ini bisa begitu mudah untuk kami, hanya Allahlah yang telah membukakan hati mereka untuk menerima kami dengan tangan terbuka.

Selanjutnya saya hanya bisa berdoa semoga Allah swt. selalu memudahkan dan melancarkan jalan kami dan anak2 kami serta keturunan2 mereka kelak untuk melaksanakan ibadah kepadaNya, kapanpun dan di manapun kami berada.

Monday, August 27, 2007

sahabat

Masih inget lagunya Sherina yang ini?:
"Betapa bahagianya,
punya banyak teman,
alangkah senangnya..." (cuman hapal sampe situ aja siih...hehe..)

Saat ini hati saya terasa begitu 'penuh', I feel a sudden warmth swelled over me. I still can't believe it that Allah has granted me one of the biggest blessings in my life, best friends and friendship.

Saya jadi teringat tulisan Kahlil Gibran berjudul "Sahabat" dalam bukunya "Sang Nabi" (sebuah buku yang dihadiahkan salah seorang sahabat di ulang tahun saya yang ke 17).
Maaf ya Mas Kahlil saya kutip puisinya di sini, semoga ga keberatan.

Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata "Tidak" di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata "Ya".
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam  persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika  kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

Saturday, August 25, 2007

Hanif, Abdih dan NBA

Abdih : "Ibu, I wish I was in college now"
Ibu     : "Why?"
Abdih : "So that I can play for the NBA"
Ibu     :" Hmmm........"

****
Hanif : "Ibu, kata Ibu kan Hanif boleh jadi apa aja yang penting sholeh, iya kan?"
Ibu    : "Iya, terus..?"
Hanif : "Hanif mau jadi NBA player Ibu..."
Ibu    : "Hmmm, hmmm....."
Ibu lagi : "Ok, tapi walo bagaimanapun Hanif harus ke college dulu. Setelah itu let's see.... Yang penting Ibu mau Hanif harus ke college dulu." (maksa ih si Ibu...hehe...)
Hanif : "Oke.."

****
Hanif : "Ibu, I wanna go to college here in the US"
Ibu    : "NBA kan..?"
Hanif : "Hehe...." sambil tersipu2.

****
Suatu hari setelah baca buku biografi salah satu pemain NBA bernama Kevin Garnett yang dia pinjam dari perpus sekolah,
Hanif (dengan mimik muka 'penuh kemenangan') : "Ibu, do you know? Kevin Garnett skipped college! He went straight to NBA!"
Ibu (dengan nada tegas)  : "So....?! What did you mean by that? You don't wanna go to college either?"
Hanif (tersipu2) : "Emm...engga siiih...."


******
Entah sejak kapan anak 2 itu tergila2 sama yang namanya bola basket. Padahal dulu, sejak heboh Piala Dunia 2002 sampai beberapa bulan pertama setelah kami pindah ke sini, soccer was always their fav! Yang kemudian menimbulkan ide2; "Hanif mau jadi pemain sepak bola" atau "Hanif mau jadi wasit sepak bola". Awal2 mereka sekolah di sini, guru2 mereka, temen2 mereka (baik yang sekelas maupun yang tidak), bahkan beberapa orang ibu dari temen2 mereka, begitu hafalnya dengan hobi Hanif dan Abdih ini. Karena setiap recess ga ada lain yang mereka mainkan selain sepak bola. Berteman pun dengan anak2 yang cinta sepak bola. Entah angin apa dan dari mana yang menghembuskan ide bola basket ke telinga mereka. Klo cuman hobi sih ga papa, ini pake pengen pula jadi pemain NBA. Serius pula (ternyata) keinginannya itu. Kayaknya ga ada hari tanpa ngomongin NBA, pemain2 NBA, NBA draft dan entah apalagi lah istilahnya, ga ngerti! Pokonya Ibu dah mulai kewalahan dengernya!

Sampai berapa lamakah obsesi mereka untuk jadi pemain basket dan kemudian jadi pemain NBA (dipikirnya gampang jadi pemain NBA....) akan bertahan? Apakah kemudian nasibnya akan sama dengan obsesi mereka untuk jadi pemain bola yang terlupakan setelah mereka berpindah ke lain hati? I have no idea!! Kita lihat saja nanti gimana perkembangan selanjutnya. Klo boleh jujur, Ibu sih berharap semoga it won't last long..!!


Friday, August 24, 2007

Singapore1997


Jalan2 di NUS, entah di depan gedung apa, lupa :-)

Bulan Juli 1997, Ibu, Hanif dan Ummi (neneknya Hanif, mamanya Ayah) pergi ke Singapore nganterin Ayah yang mau ngambil S2 di NUS. Saat itu Hanif baru berusia 9 bulan dan Ibu...ga usah lah disebutin usia Ibu ya, ga penting...hehe..Bittersweet juga sih jalan2 ke Singapur kali ini (emang dah berapa kali jalan2 ke sono Bu...? orang ini yg pertama kalinya...hehehe...). Satu sisi seneng banget bisa jalan2 ke Singapur (inilah pengalaman pertama Ibu ke luar negeri...:-D), sisi lain sedih juga krn jalan2nya dalam rangka perpisahan ...hiks..Berpisah dengan suami pula...hiks..hiks...Untuk setaun lamanya pula...hikshikshiiiks....Jadi kebayang kan ketika balik dari sana, walopun tangan penuh membawa belanjaan, tapi hati terasa hampa krn sebagian jiwaku tertinggal di sana....:(( (meni puitis nya...hehe..). Di erpot pas kami mo balik ke Jakarta, perpisahannya sih disiapkan untuk setauneun....eeeh...baru tiga bulan dah kurunyung lagi si ayah muncul di Bandung!...Ga kuku cenah harus lama2....Akhirnya yg katanya mo pisahan setaun teh hampir 4 bulan sekali ketemu!!...hahaha...Alhamdulillaah selalu ada aja rejekinya bwt ongkos pulang ;-)

Setaun kemudian, tepatnya tgl 28 Agustus 1998, alhamdulillaah, Ibu dan Hanif bisa nyusul Ayah ke sana (sayang keberangkatan kami tsb. tak tercatat dalam tinta sejarah krn ga punya kamera! Foto2 yg di bawah ini aja dapet make kamera pinjeman!!...hehe...), dan kamipun bisa berkumpul kembali dengan bahagianya, suwit2 lah pokonya ;-) Dan dari sinilah petualangan kami sekeluarga bermula. Cerita2 selanjutnya tentang petualangan kami tersebut, tunggu saja tanggal mainnya yaaa....;-)

Ujan2an Bagian 2




Yang ini bagian 2nya, supaya Kakak Nada lebih puas lagi nonton Sajid ujan2an...;-) Inget ya Kakak Nada, jangan ngacay yaa....;-D
Ini Sajid ga mau berenti main ujannya, dari depan rumah diterusin deh ke samping rumah :-)

Ujan2an Bagian 1




Video yang ini spesial pake telor dipersembahkan buat Kakak Nada di Holland Dr. , Singapore, yang kabarnya pengen (sekali) main ujan2an. Disertai pesan sponsor dari Sajid: "Kakak Nada, jangan ngacay ya nontonnyaa...";-)
Ini Sajid ujan2an di rumah Nenek di Bandung, waktu kami lagi liburan musim panas taun 06 yang foto2nya ada di photo gallery.

Sajid baca buku dengan Sajlishnya




Ga pernah berhasil ngerekam Sajid dengan ocehan Sajlishnya yang panjang dan lengkap, krn sekarang dia sudah sangat 'sadar kamera', jadi belum selesai direkam dia selalunya udah 'bereaksi' duluan :-( Yang ini diambil sebulan sesudah ultahnya yang kedua, sebelum dia bisa menghasilkan kata2 dalam Sajlish yg bisa dicerna dan dimengerti ;-)

Tuesday, August 21, 2007

My Silly Abdih

 Suatu hari di meja makan,
Abdih : "Ayah, the food is going down my asparagus"
Ayah (sambil mengerutkan kening dan nahan tawa) : "Asparagus?? Where is your asparagus...?"
Abdih (sambil nunjuk tenggorokannya) : "Here...."
Ayah (sambil ngakak) : "Ooooh...you meant esophagus..!"
Badih...Badih...

*****

Ibu lagi asyik kencan dengan neng Kokom di ruang belajar. Hanif, Abdih dan Sajid tengah asyik main di ruang depan. Krn khawatir Sajid kenapa2 tanpa pengawasan Ibu, maka Ibu berpesan pada Hanif dan Abdih,
"Hanif, Abdih, can you keep an eye on Sajid for me pleaeaeaea....s"
"Oke Ibu...", sahut keduanya.
Ga lama kemudian, Hanif muncul di pintu ruang belajar, laporan,
"Ibu, Abdih jagain Sajid sambil matanya ditutup satu!"
Saking asyiknya Ibu kencan sama neng Kokom ga sempat lagi Ibu mikir panjang dan mencerna dengan baik omongan Hanif tsb. Tanpa babibu lagi langsung aja Ibu meradang,
"Kenapa Abdih seperti itu sih!! Kan udah Ibu bilang bwt jagain Sajid!"
Ibu pikir Abdih sedang-seperti biasa-pasang aksi gangguin Sajid dan ga mau jagain Sajid seperti yang Ibu minta.
Sambil nyengir Hanif kemudian bilang,
"Kan Ibu tadi bilang supaya "keep AN eye on Sajid", jadi sekarang Abdih tutup satu matanya sambil jagain Sajid"
Ibu yg sudah bener2 melepaskan perhatian dari Neng Kokom jadi ikutan nyengir sekaligus ngakak deh...Emang bisa ya nyengir sekaligus ngakak...hehehe...Ya bisa aja deh, namanya juga Ibu ;-) Ngakak krn baru sadar dengan kekonyolan Abdih, nyengirnya karna malu sendiri, belum2 udah main hantam aja marah2!

Thursday, August 2, 2007

Sajlish

 (((Klo di Singapur ada yang namanya Singlish (singkatan dari "Singapore-English), di Belanda ada Dutchlish dan di Arab, Rablish (dua yg terakhir, maaf, hanya istilah karangan saya sendiri;-D), maka di Boise, tepatnya di Pierce Park Village, ada yang namanya "Sajlish". Bagaimana istilah ini bisa muncul? Begini ceritanya,

Sejak Sajid lahir saya dan suami saya selalu bicara menggunakan Bahasa Indonesia kepadanya. Setelah pindah ke Emirat dan kemudian pindah ke sini kami tetap tidak membiasakan diri untuk berbicara bahasa Inggris dengannya. Maksud dan tujuannya tentu saja jelas sekali, kami tidak ingin Sajid lupa dengan bahasa ibunya dan kami ingin Sajid mahir berbicara Bahasa Indonesia dulu sebelum dia kemudian mengenal Bahasa Inggris. Namun apalah daya sebelum dia benar2 mahir bicara dalam Bahasa Indonesia, dia harus terekspos begitu hebatnya dengan Bahasa Inggris. Mulai dari film2 DVD yg dia tonton, kemudian buku2 yang saya bacakan untuknya (sayang sekali kami betul2 hanya punya sedikit sekali koleksi buku anak2 dalam bahasa Indonesia. Masak saya harus bacakan majalah Femina dan Kartini padanya...), sampai akhirnya abang2nya pun tidak bisa menahan diri untuk mulai bicara bahasa Inggris di rumah baik di antara mereka berdua atau dengan kami, ayah dan ibunya. Belum lagi klo Sajid saya bawa keluar rumah, ke tengah2 keramaian 'manusia2 asing' yang berbicara dalam bahasa 'asing'. Akhirnya dia mulai mengerti bahwa ternyata banyak sekali makhluk2 di luar dirinya yang bicara dengan bahasa lain yang awalnya terdengar aneh dan tidak jelas artinya di telinga dia. Apa yang terjadi selanjutnya?

Karena seringnya 'dibombardir' oleh bahasa yang aneh dan sulit diikuti itu, akhirnya-setelah beberapa bulan tinggal di sini-bayiku ini ingin juga ikut2an bicara bahasa aneh tersebut. Namun apalah daya kemampuan dia untuk menangkap kata2 dalam bahasa aneh tsb. sangatlah minim, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah bahasa yang tidak kalah anehnya. Saya sendiri awalnya tidak menyadari bahasa aneh ini, saya cuman heran kok Sajid-yg saat itu baru menginjak usia 2 taun-yg sudah mulai bisa ngomong (dlm bahasa Indonesia) tiba2 jadi ngoceh ga jelas lagi. Tapi lama2 setelah saya perhatikan lagi, dia ngoceh ga jelas itu hanya ketika bertemu dengan orang2 asing ato klo sedang berusaha ngajak ngobrol anak2 bule di luar rumah. Satu contoh, klo saya bawa dia ke toddler story-telling di library dia akan dengan hebohnya menyapa anak2 bule di sekelilingnya, atau berteriak sambil nunjuk2 ke arah sang storyteller, tentu saja menggunakan bahasa anehnya. Mengertilah saya kemudian bahwa ternyata Sajid sedang berusaha bicara dalam bahasa Inggris!  Demikianlah, maka "Sajlish"pun tercipta, Sajid-English, bahasa Inggris versinya Sajid

Awalnya Sajid ngoceh Sajilish hanya klo berada di luar rumah di tengah2 orang2 yang berbicara  bahasa Inggris, namun lama-kelamaan di rumahpun dia mulai sering sekali ngoceh menggunakan Sajlish ini. Pada mulanya dia hanya ngoceh sendiri di depan TV sambil nonton Thomas kesayangannya atau sambil 'baca buku', bicara dengan kami masih menggunakan bahasa Indonesia. Lama kelamaan dengan kamipun dia mulai ngomong pake Sajlish. Maka mulailah konflik sering terjadi, ketika dia dengan hebohnya ngomong Sajlish sementara saya sama sekali clueless dengan apa yg dia omongkan. Dia keukeuh ngomong Sajlish saya keukeuh ga ngerti. Sampai akhirnya ga jarang saya sendiri frustasi berusaha memahami apa yang Sajid inginkan sementara dia keukeuh menyampaikannya dalam Sajlish, kalau sudah begini dengan frustasinya saya akan bilang, "Sajid pliiiiss ngomongnya pake bahasa Indonesia Naaak....Ibu ga ngerti apa yang Sajid mauuu...!" Dia jadi frustasi juga krn saya ga ngerti2 apa yang dia mau sambil nangis dan marah2 dalam (keukeuh) Sajilishnya!!

Hari2pun berlalu, setelah berminggu2 bahkan berbulan2 Sajlish tercipta, akhirnya Sajid mulai bisa menangkap beberapa kata dengan jelas dan sudah pula bisa mengasosiasikannya dengan makna yang terkandung di dalam kata2 tersebut. Maka, Sajlish yg awalnya hanya ocehan2 ga jelas yang bener2 incomprehensible sekarang sudah mulai mewujud dalam bentuk kata2, bahkan kalimat (sangat sederhana) yg yaaah lumayan lah  bisa dimengerti Misal klo dia ingin sesuatu dia sudah bisa bilang, "Awon Thomas" atau "Awon dis" atau "Awon ambila", dlsb., yang maksudnya "I want Thomas", "I want this" dan "I want umbrella". Klo dia ingin megang sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dia akan bilang, "Kenay si?", maksudnya "Can I see?"...hehe..masih ga nyambung....;-D Klo dia minta tolong sesuatu dia akan bilang, "Ke nyu hepmi bla bla bla..?", maksudnya "Can you help me-blablablanya masih jabbering incomprehensible-?". Klo denger suara yg terasa aneh di kupingnya dia akan bilang, "Wos det saun?" ("What's that sound?"). Klo nyari Ibu dia akan teriak2, "Iiii..buuu...wel aaayuuu..?!". Klo ditanya trus dia ga tau jawabnya, dia bilang dengan lempengnya, "Adonow.."

Satu hari saya sedang sibuk di dapur tiba2, "Krompyang...gedubrag...breng brong..!!" saya-dengan tak sengaja-menjatuhkan sesuatu. Tiba2 dari arah ruang depan, ada suara mungil yg berteriak, "Ibu...hot heppen..!"...hihihi...anakku udah bisa bilang, "What happen..."!! Isn't it amazing..?? Yah buat saya ibunya ya amazinglah....Namanya juga anak sendiri, serasa yang paling pinter sedunia!! Selain itu, sekarang begitu denger satu kata, dia bisa langsung mengucapkannya dengan (lumayan) jelas, walo kadang belum ngerti apa artinya. Semakin hari vocab englishnya semakin bertambah, warna2pun (tiba2) dia sudah tahu dan sudah pula bisa mengucapkannya dengan (lumayan) baik dan benar, angka favoritnya (walo kalo berhitung masih ngaco!...hehehe...) adalah "fol" sambil nunjukkin keempat jarinya . Hingga satu saat ketika kami belanja dan sedang bayar, si kasir nanya umurnya dia, dengan semangat dia tunjukkin jari2nya dan bilang "Fol!" Jadi sekarang dia kalo ngomong campur2, antara Sajlish dan English. Tapi hebatnya klo ngomong pake basa Indonesia ga pernah campur2 Bukan hebat siih sebenernya :-), ga pernah campur2 krn klo ngomong bahasa masih kalimat2 singkat, sementara klo ngomong Sajlish (yg campur2 dengan english) kan maunya dia ngomong nyerocos panjang2, yg klo menurut dia sih kalimat lengkap yang baik dan benar

Saya sebetulnya inginnya Sajid jadi "the proper bilingual child". Dari beberapa artikel tentang bilingual yang pernah saya baca, ada satu yang saya yakini kebenarannya sampai sekarang, yaitu bahwa untuk menjadi the proper bilingual seorang anak harus terekspos dalam dua bahasa dengan baik dan benar juga. Maksudnya begini, dia harus punya dua lingkungan yang berbicara dengan 2 bahasa yang berbeda kepadanya dengan kontinyu dan konsisten. Dua lingkungan tersebut bisa berupa kedua orang tuanya yang masing2 berbahasa berbeda dengan konsisten dan kontinyu kepadanya, atau bisa jadi orang tua dan baby sitter atau pengasuh lainnya yang punya interaksi yang kontinyu dengannya. Misal, klo ibunya konsisten bicara dalam bahasa Indonesia maka ayahnya harus konsisten bicara dalam bahasa Inggris. Demikian pula, klo baby sitter/pengasuh/nenek/kakek/tante bicara konsisten dalam satu bahasa maka kedua orang tuanya harus konsisten bicara dalam bahasa yg lain. Untuk anak2 usia sekolah, dua lingkungan itu juga bisa berupa lingkungan sekolah dan lingkungan rumah (yang ini sih pendapat pribadi saya aja berdasarkan pengalaman sendiri yang tumbuh sebagai anak bilingual, walo bilingualnya 'cuman' bahasa indonesia dan sunda, tapi tetep wee bilingual kan..hehe).

Yang terjadi pada Sajid, saya sadar, tidak seideal itu. Saya dan suami saya berusaha untuk konsisten bicara dalam bahasa Indonesia kepadanya, abang2nya bicara campur2, sementara lingkungan selebihnya (TV, buku2, orang2 di luar rumah) bicara konsisten dalam bahasa Inggris. Semoga saja kondisi ini, walopun tidak ideal, masih bisa menjadikan Sajid anak bilingual yang baik dan benar.

Oh ya, klo mau denger bagaimana bunyinya Sajlish itu, di sini ada sedikit contohnya ;-) (tapi beribu maaf hanya bisa diakses oleh 'contacts' saya saja)