Thursday, February 18, 2010

Tentang Memberi dan Menerima

Keterlaluan sekali ya kalau ada orang memberi kita sesuatu lalu pemberiannya tersebut kita buang. Jangankan dibuang, pemberian itu kemudian kita berikan lagi kepada orang lain saja kayaknya sudah agak2 ga etis ya. Kalau saya jadi orang yang memberi rasanya akan sedikit tersinggung kalau itu terjadi pada pemberian saya.

Namun justru persis hal seperti itulah yang saya lakukan hari Minggu yang lalu. Saya membuang sebagian besar pemberian seseorang pada kami.......!! Tapi saya ga punya pilihan lain selain membuangnya. Disimpan ga mungkin, dipakai apalagi. Di antaranya yang saya buang adalah buttercream kadaluwarsa yang sudah sebagian terpakai (dipakai oleh si pemberi), roti frozen yang sudah lebih dari setengahnya terpakai dan juga ternyata sebagian ingredientsnya mengandung unsur yang kami yakini ga halal dikonsumsi, tortillas yg walaupun nampaknya belum dipakai tapi juga mengandung ingredients yang ga halal dikonsumsi. Dan beberapa items lagi yang terpaksa saya buang dengan alasan yang sama. Items yang lain yang hampir semuanya adalah makanan2 bekas pakai terpaksa saya selamatkan karena saya ga punya alasan yang kuat untuk membuangnya dan setelah beberapa kali inspeksi nampaknya masih cukup aman untuk dikonsumsi walaupun beberapa kemasannya sudah tidak representatif lagi. Bukan hanya kemasannya yang tidak representatif, tapi beberapa items yang lainnya lagi malah isinya sudah lebih dari tigaperempatnya dipakai yang kalau orang Sunda bilang sudah "jarijipeun" kalau mau dikonsumsi lagi, tapi saya belum tega untuk membuangnya

Karena merasa alasan-alasan saya cukup kuat, maka saya tidak merasa bersalah telah membuang sebagian besar makanan2 pemberian tersebut dan tidak merasa telah menyinggung perasaan si pemberi (tapi terus terang saya ga bilang2 sama dianya kalau saya sudah buang2 pemberiannya ). Sebaliknya, saya yang malah berusaha untuk tidak tersinggung, berusaha untuk berkali2 mengingatkan diri sendiri untuk berhusnuzon pada si pemberi dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa si pemberi punya niat yang baik memberikan semua makanan2 sisa tersebut pada kami.

Ugh.....salahkah saya kalau tersinggung...?! Salahkah saya kalau saya tidak bisa mencegah hati saya berkata, "Ini teh ngasih atau ngebuang...?" Ah dasar deh, ada ada aja cobaan buat 'menggoyang' kebersihan hati......

Satu pelajaran penting yang saya ambil dari kejadian ini adalah saya harus semakin berhati2 dalam memberi sesuatu pada seseorang, terutama kepada orang2 yang "less fortunate". Jangan sampai saya memberi sesuatu, walaupun dengan niat baik, tapi pemberian itu malah menyinggung perasaan dan menyakiti hati orang yang saya beri. Selain sikap dan ucapan saya saat memberi yang harus dijaga jangan sampai menyakiti hati si penerima, apa2 yang saya berikanpun harus saya jaga dalam bentuk dan representasi yang tidak membuat si penerima merasa direndahkan atau dihina.

P.S.: "jarijipeun" itu artinya bisa dibilang agak2 menjijikkan begitu....

Monday, February 8, 2010

Kisah seorang sahabat

Dia sahabat saya sejak kelas 1 SD. Sebutlah namanya Rina. Selain sahabat dia juga saingan saya, kami susul menyusul memperebutkan ranking di kelas. Kadang2 karena nilainya sama Wali Kelas kami membagi ranking di antara kami berdua, jadilah kami berdua dapat ranking 1.5 😁 Sampai kelas 2 SMP kami selalu sekelas. Sejak SMP ini geng kami bertambah yang tadinya hanya saya, dia, Tanti, dan Devina (nama samaran semuanya, maaf :D), sekarang bertambah 4 orang lagi, total jadi 8 orang. Makin seru...!! Makin heboh...Makin banyak kekonyolan2 yang kami lakukan 😂 Ketika naik kelas 3 SMP, orang tuanya memutuskan untuk memindahkan Rina ke SMP lain. Bukan main sedihnya kami harus berpisah dengan Rina. Kamipun membuat semacam farewell party kecil2an buat Rina. Tanti yang kreatif menggubah sebuah lagu khusus untuk acara perpisahan Rina, kamipun menyanyikannya bersama2 sambil bertangis2an  Ah bodornya....klo diingat2 lagi....hehehe....Tapi seru dan berkesan.

Sejak Rina pindah SMP saya jadi makin jarang ketemu Rina. Apalagi setelah kami masuk SMA dan mulai kuliah. Jangankan dengan Rina, dengan sahabat2 satu geng yang lainpun saya makin jarang ketemu, malah bisa dibilang ga pernah ketemu lagi. Awal tahun 90an saya dapat kabar ibunya Rina meninggal. Innalillaahi.....saya sedih sekali. Saya yang waktu SD dulu sering sekali main ke rumah Rina, tentu saja jadi dekat dengan ibunya Rina yang baik, cantik dan ramah. Selain itu juga orang tua Rina dan orang tua saya saling mengenal. Ayahnya Rina dan bapak saya alm. bekerja di institusi yang sama. Sayang ketika saya datang menengok ke rumahnya, Rina sedang tidak ada di rumah. Padahal saya ingin sekali bertemu dengannya setelah bertahun2 lamanya kita ga pernah kontak lagi.

Tahun berlalu, berbagai kesibukanpun menenggelamkan kami. Alhamdulillaah suatu hari - kalau tidak salah di akhir tahun 90an - saya akhirnya bisa ketemu lagi dengan Rina di sebuah acara pernikahan, saya lupa pernikahan siapa. Yang jelas tanpa saya sangka Rinapun ada di acara tersebut...! Senang sekali bisa ketemu lagi dengannya. Rina masih tetap cantik dan ramah seperti dulu (oh ya Rina kecil mirip Santi Sardi lho.....😍), badannya agak kegemukan saat itu. Diapun dengan semangat berbagi resep bagaiman caranya supaya gemuk (sejak kecil kami memang kuyuuusss...dan susah banget bisa gemuk....:-D). Pertemuan yang sangat berkesan, bahkan sampai sekarang.

Sejak pertemuan terakhir itu saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan Rina. Apalagi kemudian saya harus ikut suami saya pindah2 ke sana ke mari, semakin tipislah kemungkinan saya bertemu ataupun kontak dengan Rina. Sampai suatu hari di pertengahan tahun 2000an, salah satu sahabat saya yang juga satu geng dengan Rina dulu waktu jaman SMP (sebut saja namanya Malika) mengabarkan sebuah berita yang luar biasa mengejutkannya. Rina sakit....!! There's something wrong with her mental health.......Rina seperti tidak punya lagi semangat hidup. Kondisinya bagaikan peribahasa "hidup segan matipun tak mau"😭 Sedih sekali mendengarnya, sedih luar biasa...!! Rina sahabatku, Rina yang pintar, Rina yang rajin belajar, Rina yang cantik, ramah dan periang. Ada denganmu sahabatku.....😢 Ingin rasanya saya bisa menolongnya. Tapi apa yang bisa saya lakukan....??!! Ayahnya saja malu mengakui kalau jiwa Rina sakit, dan tidak ingin orang lain tahu tentang keadaan Rina 😥 Ada rasa bersalah dalam hati ini, karena bertahun2 saya seolah2 tidak peduli dengannya. Saya tidak pernah melakukan sesuatu untuk menolongnya. Tapi apa yang bisa saya lakukan...?! Jarak memisahkan kami begitu jauhnya....(alasan yang luar biasa bagusnya ya.....hiks....)

Makin lama kondisi Rina nampaknya semakin parah. Over the years, beberapa kali saya tanyakan kondisinya pada Malika, tapi tidak pernah terdengar ada kemajuan. Pagi tadi, saya terima sebuah mesej dari Malika di inbox FB. Katanya Rina tidak pulang dari kemaren...!! Hari Minggu siang (hari Sabtu malam waktu Boise) Rina pamit untuk beli pembalut. Sejak itu Rina belum pulang lagi ke rumah....!!!😭 Rina oh Rina....di mana kamu..? Apa yang terjadi denganmu. Ya Allah...lindungi sahabatku. Jangan biarkan terjadi apa2 padanya, ya Allah.....kembalikan Rina pada keluarganya....

Sahabat2ku, mohon doa untuk Rina ya........Saya sungguh tidak bisa menyebutkan nama aslinya di sini, tapi tolong doakan sahabatku itu ya.