Wednesday, May 6, 2020

Pintu yang Tertutup dan Terbuka

"Ketika satu pintu tertutup, Allah akan bukakan bagi kita pintu(-pintu) yang lain. Tetapi seringkali kita malah sibuk meratapi pintu yang sudah tertutup itu, dan enggan memasuki pintu yang sudah terbuka."

Memang ya yang membuat hidup kita susah, riweuh dan merana itu sebagian besarnya adalah gara-gara apa yang kita mau tidak sejalan dengan yang Allah kehendaki, tapi kita keukeuh-sumukeuh-sumadireukeuh ingin agar apa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah segalanya sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Sehingga selain hidup kita jadi susah, riweuh dan merana, kita juga jadi sulit sekali mensyukuri apa yang hadir dalam kehidupan kita. Seringkali malah lupa bahwa apapun yang hadir itu adalah tamu dari Allah yang harus kita muliakan. Hanya hal-hal yang menyenangkan saja yang kita terima sebagai tamu dengan tangan terbuka. Kita banting pintu dan tolak mentah-mentah kedatangan hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan kehendak hati kita, padahal tamu tidak menyenangkan ini tidak akan datang mengetuk pintu kita tanpa kehendak dan izin Allah. Bahkan bisa jadi tamu yang tidak menyenangkan inilah yang akan mengangkat derajat kita ke tingkat yang lebih tinggi. Bisa jadi Allah mendatangkan tamu yang tidak menyenangkan/musibah sebagai sarana kita untuk membersihkan diri/jiwa kita, sehingga kelak kita bisa kembali padaNya dengan keadaan jiwa yang bersih. 

فَأَمَّا ٱلۡإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَٮٰهُ رَبُّهُ ۥ فَأَكۡرَمَهُ ۥ وَنَعَّمَهُ ۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكۡرَمَنِ ٜ وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَٮٰهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهُ ۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". 
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku telah menghinakanku".
QS. 89:15-16

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ. لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَٮٰڪُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 
[Kami jelaskan yang demikian itu] supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
QS. 57:22-23

Sedihnya, itulah yang tengah terjadi pada saya. Sampai saat ini saya masih struggling untuk berhenti meratapi pintu yang telah tertutup, semata karena apa yang ada di balik pintu itu terasa begitu indah dan menyenangkan; dan struggling untuk berada di balik pintu yang sudah terbuka dengan penuh keikhlasan dan kebersyukuran. 

Saturday, May 2, 2020

Ramadhan di Rumah Saja

Sebetulnya #RamadhandiRumahAja itu adalah semacam deja vu bagi keluarga kami, khususnya anak-anak kami. Sepanjang sejarah kehidupan keluarga kami, 13 kali Ramadhan kami habiskan di 4 negara yaitu Singapura, Belanda, Uni Emirat Arab, dan USA. Dari ke-13 kali Ramadhan tersebut, hanya Ramadhan selama di USA sajalah anak-anak kami punya kesempatan untuk merasakan sholat tarawih di masjid di setiap malam Ramadhan. Selama Ramadhan di Singapura, hanya beberapa kali saja kami sempat ikut sholat tarawih di masjid atau di ruangan terbuka di bawah block flat HDB. Itu semua adalah sedekat mungkin kepada suasana Ramadhan normal yang bisa kami rasakan. Selebihnya tentu saja Ramadhan di negri orang jauh dari suasana Ramadhan normal nan ramai seperti di negri sendiri, Indonesia-Raya- merdeka-merdeka ini 😄

Sehingga ketika sekarang kami harus menjalani #RamadhandiRumahAja, tarawih #dirumahsaja, sholat 5 waktu #dirumahsaja, dan aktivitas Ramadhan lainnya #dirumahsaja, kami (terutama anak-anak kami) tidak merasa terlalu kehilangan suasana Ramadhan yang ramai seperti yang dirindukan oleh sebagian besar umat Muslim di negara kita ini (kalau masalah rindu sih, saya sudah merindukan suasana 'Ramadhan-yang-ramai' sejak pertama kali harus menjalani Ramadhan jauh dari kampung halaman 22 tahun yang lalu dan berlanjut sampai sepanjang 16 tahun kemudian 😅), malah sekarang kami merasa seperti kembali ke tahun-tahun di masa silam ketika kami habiskan malam-malam Ramadhan kami #dirumahsaja.

Kondisi #RamadhandiRumahAja seperti sekarang ini, bahkan sebetulnya jauh lebih baik dari kondisi kami ketika kami harus menjalani Ramadhan di negri orang nun jauh dari keramaian suasana Ramadhan di negri sendiri. Kenapa? Karena kenyataan bahwa sekarang mereka harus menghabiskan hampir semua waktu mereka di rumah, membuat kami bisa lebih intensif menjalankan program-program Ramadhan untuk mereka. 

Salah satu program Ramadhan yang paling saya suka adalah kultum. Ketiga anak kami dan ayahnya harus bergiliran menyampaikan kultum di pagi hari setelah usai sholat dhuhur. Ini merupakan latihan yang bagus sekali untuk mereka. Mereka belajar bagaimana menyiapkan script materi kultum dan teknik penyampaiannya. Mempersiapkan dan menyampaikan materi yang pendek itu ternyata lebih sulit dibandingkan menyampaikan materi yang panjang lebih dari 7 menit. Kalau menurut suami saya dibutuhkan kemampuan penguasaan materi yang sangat dalam untuk mampu melakukan itu. 

-bersambung yaaa......