Sunday, July 18, 2021

Catatan Isoman Hari Ke-4: Ketika Covid Menyapa dan Saya Menangis Karenanya

Saya menangis tersedur-sedu sore ini setelah mendengar berita salah seorang sahabat saya di masa kuliah dulu, Dini Mentari, meninggal setelah berhari-hari berjuang karena terinfeksi covid. 

Awalnya saya menangis karena sedih kehilangan lagi seorang sahabat. Terakhir saya bertemu dengannya adalah 3 tahun yang lalu, somewhere in 2018. Tidak pernah ada yang menyangka memang berapa lama lagi jatah usia seseorang di dunia ini. Yang bisa kita katakan apabila orang terdekat kita meninggal hanyalah something like, "Who could've thought it was our last moment together", etc. Setelah beberapa lama menangis karena terbawa perasaan sedih kehilangan, tiba-tiba menyelinap dalam hati saya perasaan sedih yang lain, bukan karena kehilangan sahabat. 

Since the first time I found out that I contracted covid, I've always had a feeling of comfort that I've been fully vaccinated. I would cheerfully tell people here and there that the symptoms I've got are very mild, thanks to the vaccine. Especially since almost all the symptoms have gone away, I've felt even more comfortable with the fact that I've been fully vaccinated. I was so sure 100% that I didn't have severe symptoms because of the vaccine. I suddenly realized this evening that having been vaccinated or not doesn't have anything to do with the fact that I only had mild symptoms. I didn't have severe symptoms because of Allah's will. Being vaccinated is just one of Allah's ways to manifest His will for me. On the contrary, having been vaccinated or not, it is in His absolute Power too that I would die because of covid. I should be prepared for any possibilities at this point. I should be ready, should Allah has decreed that I would die because of covid. I have to prepare myself to be in a total absolute state of ikhlas. Thus, I shouldn't have the feeling of comfort that I have mild symptoms of covid due to the vaccine I got. 


Monday, April 26, 2021

Kasih Anak Sepanjang Galah


Masih ingat dengan sebuah peribahasa yang berbunyi "Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah?". Circa 2010-2011 saya pernah menulis status Facebook yang isinya kira-kira mengabarkan bahwa saya sudah tidak setuju lagi dengan peribahasa itu. Saya tidak setuju dengan bagian "kasih anak sepanjang galah". Saya tiba-tiba berpendapat begitu setelah melihat ungkapan-ungkapan cinta yang tulus (walau kadang lugu) dari ketiga anak laki-laki saya waktu itu. Mereka sering sekali tiba-tiba datang memeluk saya atau mencium saya sambil berkata, "I love you, Ibu". Si Bungsu setiap pagi akan datang mendekati saya lalu meminta, "I want huggy2, Ibu". Si Sulung yang, every now and then,  meminta saya untuk datang ke kamarnya karena ingin curhat.

The Magic Words

Satu hal yang dipelajari oleh anak-anak kami dari masa kecil mereka di US adalah "the magic words", yaitu "please and thank you". Anak-anak Amerika sejak kecil selalu diajari untuk mengucapkan "please" setiap kali mereka meminta atau menanyakan sesuatu, dan mengucapkan "thank you" setiap kali mereka menerima sesuatu atau seseorang memberikan pertolongan kepada mereka dalam bentuk apapun. Pembiasaannya dimulai sejak mereka bisa mengucapkan their first words. Contoh pembiasaan yang paling umum dilakukan oleh ibu-ibu Amriki adalah tidak akan memberikan apapun kepada balita mereka sampai si balita mengucapkan "please". Pembiasaan ini kemudian dilakukan pula oleh guru-guru mereka di sekolah. (Oh...saya yakin tentunya anak-anak di Indonesia juga diajari dan punya kebiasaan yang sama 😊)

Hampir 7 tahun kemudian setelah kami pindah dari US, kebiasaan ini tetap menempel pada si Bungsu kami, Sajid Djunaedy, yang sekarang sudah mulai berkumis dan sudah lebih tinggi dari Ibunya😆 Mengucapkan "please" kadang dia suka lupa, tapi dia tidak pernah lupa sedikitpun untuk mengucapkan "thank you" setiap kali seseorang memberinya sesuatu atau setelah dia menerima pertolongan dari seseorang. Bahkan setiap kali dia selesai mengambil makanan di atas meja makan - tidak pernah absen dan tidak pernah lupa - ia selalu mengucapkan "Thank you, Ibu" (atau kalau Abangnya yang masak, "Thank you, Abang" 😄).

As simple as it may seem, as insignificant as it looks to some people, diam-diam saya merasa bersyukur karena kebiasaan ini tidak sedikitpun hilang dari hidupnya. Rabbi hablii minash shoolihiin 🤲💖

Monday, March 1, 2021

Ouf Friends, Our Community, Our Family

Once you're part of a community you will be part of that community forever no matter where you are now. When they lost someone among them, you mourn with them even though you are miles away from them. When a horrific tragedy happens amidst them, you also feel deeply saddened by it. 

I just came across this horrific tragedy that happened 2 years ago in Boise, around 6 years after we moved out of this beautiful memorable town. 

https://www.nwpb.org/2018/07/05/mother-of-boise-attack-victim-mourns-loss-of-daughter/

It happened to a single mother who came to Boise as a refugee with her then 6 months old baby. I couldn't help but picture myself being there with the Boise Muslim Community mourning the tragedy together (or to be precise: being shocked by it together with the community). As part of the community, she is one of us. Her sadness is our sadness. I would've been there helping her with whatever I could. The sisters and I would've been gathered in our masjid to plan something to help her cope with her loss.

Boise, a place that is so close to my heart, where my sons grew up, where I also grew up with them, where I made friends that after a while turned into something closer to extended family. 

**sekarang waktunya ganti persneling ke Bahasa Indonesia 😁**

Sebagain besar komunitas Muslim di Boise terdiri dari pengungsi dari berbagai negara. Ketika kami masih tinggal di sana, jumlah terbesar adalah pengungsi dari Afganistan, Somali, dan Bosnia. Selain meninggalkan negara mereka yang tengah ditimpa masalah besar, mereka juga tiba di Boise dengan membawa berbagai masalah mereka sendiri. Masalah keluarga, dan masalah psikologi dari dalam diri mereka sendiri. Yang kemudian hari setelah mereka cukup settled in tinggal di Boise, tidak jarang masalah-masalah tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk. Beberapa berakhir dengan perceraian dengan pasangannya, beberapa yang lain harus terus berhadapan dengan masalah perilaku anak-anaknya, dan sebagain lagi struggling dengan dirinya sendiri. 

Terjun langsung bergaul dan berhadapan dengan para pengungsi dan berbagai permasalahannya inilah justru yang menjadi salah satu penyebab kenapa saya sangat betah tinggal di Boise. Sebagai volunteer di Islamic Center of Boise saya harus berhadapan langsung dengan mereka, kalaupun tidak setiap hari, paling tidak 3 kali seminggu ketika saya mengajar mengaji anak-anak mereka di Sunday School atau mengajar ngaji para sisters setiap hari Jumat malam, atau saat ikut hadir untuk sholat Jumat. Dan ditambah pula dengan kesempatan bergaul lebih lama dengan mereka saat kami menghadiri Community Dinner yang diadakan sebulan sekali di masjid. 

~bersambung yaaa....