Tuesday, September 12, 2023

Surat Terbuka untuk Sahabatku: Bekerja Supaya Dapat Uang Banyak?

My dear friend,

Saya merasa harus menyampaikan ini setelah kita bertemu hari Minggu kemarin. Ini terutama terinspirasi oleh obrolan kita sambil makan siang, khususnya ketika muncul pertanyaan mengapa saya lebih senang dengan pekerjaan saya yang sekarang dibandingkan ketika saya menjadi Kepala Sekolah. Saya merasa harus menyampaikan ini sekarang karena saat itu saya sempat speechless, ngga bisa menemukan dan menyusun kata-kata yang tepat buat disampaikan, ketika ada ungkapan bahwa saya lebih senang dengan pekerjaan saya yang sekarang karena duitnya lebih banyak. 

Sebagai salik sebuah thariqah yang salah satu ajaran utamanya adalah pencarian misi hidup (https://www.qudusiyah.org/id/), saya cukup taken aback mendengar pernyataan ini. Ternyata masih menjadi pendapat umum, bahkan di kalangan muslim, bahwa tujuan bekerja itu adalah semata-mata hanya untuk mencari uang. This believe is completely out of the question di thariqah kami. Dalam setiap pengajian, sering sekali Mursyid kami mengulang-ulang tegurannya kalau kami masih mengkhawatirkan dan masih pusing dengan urusan uang, apalagi kalau sampai menjadikan uang sebagai tujuan untuk bekerja. 

Buat kami, para salik, bekerja sesuai dengan bidang kami masing-masing adalah usaha untuk mencari keutamaan diri, usaha kami untuk mencari amal sholeh sejati kami sebagai implementasi pencarian misi hidup. Bekerja sesuai dengan bidangnya adalah usaha untuk berjalan di atas shirathal mustaqim kami masing-masing. Uang yang seolah-olah kami hasilkan dari pekerjaan itu hakikatnya adalah rizqi yang Allah anugerahkan karena kami sudah melaksanakan amal sholeh kami dengan benar. 

Thus, seharusnya seorang mukmin itu tidak lagi menggantungkan rizqinya kepada berapa banyak proyek yang dia dapat, atau berapa besar gaji yang dia peroleh setiap bulannya. Tidak seharusnya seorang mukmin itu sibuk mencari uang (banyak). Tujuan penciptaan kita di dunia ini terlalu mulia, sehingga akan sia-sia saja waktu kita kalau tidak segera meluruskan pola pikir kita tentang "untuk apa kita bekerja" 

------

Pernah ngga kita berhenti sejenak untuk sekedar bertanya kepada diri sendiri, apakah yang selama ini kita lakukan sudah sesuai dengan tujuan penciptaan kita? Apakah pekerjaan yang kita lakukan, bisnis yang kita usahakan, hal-hal yang kita kerjakan, dlsb. itu sudah mejadi amal sholeh sejati kita?

Pernah ngga kita berhenti sejenak untuk merenungkan sesungguhnya untuk apa sih kita diciptakan ke dunia ini? Merenungkan tentang apa yang sesungguhnya Allah kehendaki untuk kita lakukan di dunia ini specifically? 

Allah tidak menciptakan kita dengan sia-sia. "Rabbanaa maa khalaqta haadza baathila" itu kita ucapkan bukan hanya dalam rangka mengagumi ciptaan-Nya yang ada di sekeliling kita. "Haadza" itu harusnya kita tujukan dulu pada penciptaan diri kita sendiri. 

Allah tidak menciptakan kita tanpa tujuan yang jelas. Masing-masing kita diciptakan dengan tujuan yang unik, masing-masing kita diciptakan dengan mengemban tugas yang spesifik, masing-masing kita mengemban misi hidup kita sendiri yang bisa jadi berbeda dengan misi hidup orang lain.

Mungkin misi hidup kita jadi businesswoman, da'iah, dokter, ustadzah, atau ibu rumah tangga. Bisa jadi misi hidup kita 'hanya' jadi penjahit, tukang pijat, atau tukang cukur. Yang jelas untuk mengemban misi hidup itu, Allah telah membekali kita dengan keutamaan diri yang spesifik juga. Itu yang harus kita gali dan kita cari sepanjang hidup kita. Itulah shirathal mustaqim kita di dunia yang akan menjadi bekal kita menghadap Allah kelak di yaumil akhir, yang akan kita persembahkan kepada-Nya Ta'ala sebagai "mission accomplished". 

Alangkah ruginya kita hidup di dunia apabila tidak kita habiskan untuk mencari jati diri sejati itu. 

Ketika kita sudah tahu bahwa tujuan hidup kita adalah mencari shirathal mustaqim kita masing-masing, maka apapun yang kita kerjakan haruslah sesuai dengan tujuan hidup kita ini. Maka ketika kita bekerja, bukan lagi uang (banyak) yang menjadi tujuan. Kalau kita sudah mengerjakan amal sholeh sejati kita, maka rizqi itu akan datang dengan sendirinya. Itulah makna sesungguhnya dari "Allah yang akan menjamin rizqi kita". 

Salah satu modal kita dalam mencari misi hidup adalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidang yang dimudahkan untuk kita, mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan passion dan keutamaan diri kita. Bekal yang Allah berikan kepada kita untuk mencari misi hidup kita adalah kemampuan untuk mengenali diri kita, we as a whole lengkap dengan segala macam kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya, termasuk segala macam bentuk hawa nafsu di dalam diri yang menjadi hijab kita dalam mengenal Allah dan petunjuk-petunjuk-Nya. 

Sebagian dari kemampuan itu adalah mampu mengidentifikasi passion kita dalam mengerjakan sesuatu. Sebuah anugerah petunjuk yang harus disyukuri ketika kita bisa dengan jujur mengatakan bahwa kita tidak cocok atau tidak mampu mengerjakan suatu pekerjaan, tapi bisa merasakan passion di bidang pekerjaan yang lain. Passion ini yang akan menjadi modal besar untuk semakin fokus dalam pencarian misi hidup kita. 

Itulah yang terjadi pada saya ketika saya menerima tawaran untuk menjadi Kepala Sekolah, dan kemudian setelah 2 tahun mencoba, berhasil mengenali dengan penuh kejujuran pada diri sendiri (dan kepada Mursyid saya) bahwa that area is not where my passion is. 

Jadi kalau ada yang bertanya mengapa saya sekarang lebih senang bekerja sebagai engineer dibandingkan ketika saya bekerja sebagai Kepala Sekolah, jawabannya bukan karena sekarang penghasilan saya lebih besar. NO NO NO..... it's a big NO answer! ☝

#terinspirasiolehobrolanbersamaparasahabat


Wednesday, February 22, 2023

It's All About Sajid - My Youngest one



7 years old Sajid ran around the house pretending he could read and write in Japanese. He even invented his own Japanese letters 😂 I never really gave serious thought to it. I assumed that it was just another of his silly actions as with his other ones that entertained us immensely on a daily basis 😆


10 years later now, he has achieved some things as proof that what he did years ago was not merely an act of silliness, but the first signs of his passion for the Japanese language. He has passed N2 JLPT certification (the 2nd highest level with N1 being the highest one. He had to go through N3 and N4  levels of certification previously, and skipped N5, the lowest level). And yesterday, he won first place in the national Japanese speech competition. 


I couldn't be prouder of him. May these achievements become the beginning of his future successes and the first steps toward achieving his goals.