Wednesday, April 28, 2010

Pil pahit atau shock therapy ?

Saya baru saja memutuskan buat ngasih shock therapy sama salah seorang teman saya di sini. Selama ini setiap kali dia curhat saya selalu menghiburnya dengan kata2 yang memang pengen dia dengar saya ucapkan yaitu saya selalu membelanya dan saya malah cenderung untuk selalu menyetujui sikapnya yang menjelek2an suaminya.....astaghfirullaah....Saya pikir sudah saatnya sekarang saya stop dia untuk tidak terus2an complain tentang masalah2 dia dengan suaminya pada saya. Sudah saatnya saya menyetop dia untuk tidak terus2an menjelek2kan suaminya pada saya (dan pada orang lain juga). Bohong kalau saya bilang "bukan karena saya sudah capek hate dengernya", karena pada kenyataannya salah satu sebabnya ya memang saya sudah capek dengernya, sudah fed-up, sudah getting too annoyed by it ! Satu kali dua kali mungkin bolehlah ya denger seseorang complain tentang masalah rumah tangganya, tapi klo terus2an? Kalau 8 dari 10 pertemuan isinya hanya membicarakan kejelekan2 suaminya?! Halaaah......lebih dari capek hate itu sih namanya.....๐Ÿ˜ฃTambahan lagi saya takut dosa saya tambah numpuk. Apalagi setelah beberapa hari yang lalu suami saya mengingatkan bahwa kalau kita punya masalah dengan suami kita, kita hanya boleh membicarakannya dengan 3 orang yaitu ibu mertua, bapak mertua atau marriage counselor. Nah lho...!

Maka, itulah juga salah satunya yang saya sampaikan padanya. Ngaku deh itu hanya eufimisme dari yang sebenernya pengen saya ungkapin: "SORRY, DEAR. I'M GETTING REALLY ANNOYED BY YOUR COMPLAINS. IT'S SIMPLY BEEN TOO MUCH FOR ME. I'M FED UP! STOP COMPLAINING ABOUT YOUR HUSBAND TO ME, OK...!!" ...hehehe...(sumpah pengen banget sebenernya saya ngomong kek gitu dengan nada ketus, tapi kan saya juga harus menjaga supaya dia ga sakit hati dengan kata2 saya ๐Ÿ˜‡)

Untunglah saya juga masih baik hati, masih punya niat baik sama dia...ehem.....๐Ÿ˜Ž Saya  pengen juga dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, saya masih pengen juga liat dia bisa menyelesaikan masalah2nya dengan suaminya sendiri tanpa harus terlalu tergantung sama orang lain. Maka sayapun bilang sama dia klo sudah saatnya buat dia untuk membandingkan hidupnya dengan orang2 lain yang jauh lebih tidak beruntung dibanding dia. Saya suruh dia membandingkan hidupnya dengan seorang sister yang baru saja kehilangan suaminya yang kena deportasi gara2 punya masalah dengan pemerintah, yang kemudian setelah suaminya balik ke kampungnya nun jauh di negeri sebrang sana dia tiba2 menceraikan sister tsb. dan mengabaikan anak2nya. Saya suruh juga dia bandingkan hidupnya dengan sister yang lain yang juga baru saja diceraikan oleh suaminya taun lalu. Kemudian karena desperate pengen nikah lagi dia mutusin buat jauh2 pergi ke Mesir mengejar jodoh yang lain. Alih2 dapet suami yang lebih baik eh....baru beberapa hari nikah sudah diceraikan pula oleh suami barunya itu. Selanjutnya saya suruh dia bandingkan hidupnya dengan hidup para refugees. Salah satunya adalah seorang janda refuge dari Afghan yang datang ke Boise bersama 2 orang anak laki2nya. Suaminya meninggal ditembak orang saat perang. Setelah sampai di sini dia harus banting tulang kerja menghidupi keluarganya.

Seburuk apapun suaminya (at least itu menurut pandangan dia, wallahu a'lam kejadian sebenernya seperti apa, saya sendiri ga tau gimana caranya buat mencari tahu. Dan memang ga pengen tahu ๐Ÿ˜) paling tidak dia masih punya suami yang mampu memberinya nafkah (dia sendiri bahkan bisa jadi stay at home mom). Paling tidak anaknya masih punya ayah yang sayang padanya (oh suaminya itu sangat sayang dan care banget sama anaknya). "So start counting your blessings, and stop counting your miseries" adalah salah satu kalimat yang saya ungkapkan padanya. Terakhir saya mengingatkan dia untuk pandai2 mensyukuri nikmat Allah, karena Allah akan menambah nikmatnya pada kita klo kita pandai mensyukurinya.

Well...sebenernya semua 'nasehat2' yang saya berikan padanya itu adalah juga nasehat buat diri saya sendiri. Betapa banyak sekali blessings yang harus saya syukuri, dan sering kali saya lupakan untuk saya syukuri. Betapa banyak orang2 di sekeliling saya yang ternyata masih jauh lebih tidak beruntung dibanding saya. Sesusah2nya hidup saya, selalu masih banyak orang2 di luar sana yang jauuuuh lebih susah hidupnya dibanding saya.......(in fact, hidup saya ga susah2 amat kok, cuman saya aja yang kadang terlalu dibawa perasaan...๐Ÿ˜…)

ูَุจِุฃَูŠِّ ุขَู„َุงุกِ ุฑَุจِّูƒُู…َุง ุชُูƒَุฐِّุจَุงู†ِ  

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

ูˆَุฅِุฐْ ุชَุฃَุฐَّู†َ ุฑَุจُّูƒُู…ْ ู„َุฆِู†ْ ุดَูƒَุฑْุชُู…ْ ู„َุฃَุฒِูŠุฏَู†َّูƒُู…ْ ูˆَู„َุฆِู†ْ ูƒَูَุฑْุชُู…ْ ุฅِู†َّ ุนَุฐَุงุจِูŠ ู„َุดَุฏِูŠุฏٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (14:7)

Demikianlah saudara2.....๐Ÿ˜Š

5 comments:

  1. makasi ceritanya teh...semoga kita selalu menjadi orang yg bersyukur...apa kbr?

    ReplyDelete
  2. Setujuuuu...hehehehe

    *dilarang menjelek-jelekkan suami. dulu kenapa mau pas nikah? dijodohin? aay, lalu kenapa mau dijodohin? hahaha, artinya, dulu kan kita yang memilih, menerima pria itu sebagai suami. knapa sekarang komplen? ya ga?

    ReplyDelete
  3. Teh eta mah teu pait-pait teuing panginten,...malah kayak penghiburan juga heheheh,...mudah-mudahan sister-nya nangkep kebosenan teteh, kali aja saking lembutnya teteh ngomong dia mah nggak ngeh kalo sebenarnya teteh teh pengen menstop dia hahahaha,....

    ReplyDelete
  4. kalau temannya bisa bahasa Indonesia, coba deh buka website Kick Andy (www.kickandy.com) dan nonton 2 episode terakhir mengenai cinta tanpa batas... yang satu mengenai suami cacat, yang kedua mengenai isteri yang cacat... very inspiring...

    ReplyDelete