Saya tidak tahu apakah penggunaan frasa "rasa bahasa" adalah tepat untuk mewakili apa yang ingin saya sampaikan. Tapi yang saya maksudkan dengan "rasa bahasa" di sini adalah pemilihan kata yang tepat untuk mengekspresikan atau menyampaikan apa yang kita maksud dalam suatu bahasa tertentu. Tidak punya "rasa bahasa" artinya tidak punya kemampuan untuk memilih kata yang tepat yang sesuai dengan maksud yang ingin kita sampaikan menurut "rasa bahasa" suatu bahasa tertentu. Bingung kan menangkap yang saya maksud? 😂 Baiklah, saya sampaikan saja dengan memakai contoh sebagai berikut:
Kata "call" dalam Bahasa Indonesia secara harfiah berarti memanggil. English speaking people (orang-orang berbahasa Inggris) menggunakan kata tersebut tidak hanya literally (secara harfiah) untuk memanggil seseorang (call out to someone) tapi juga untuk "menelepon". Nah, suatu hari anak saya, yang saat itu belum pandai berbahasa Indonesia, berkata kepada saya: "Ibu, Bi Aden memanggil Ibu" padahal maksudnya adalah "Ibu, Bi Aden menelepon Ibu". Dia memakai kata "memanggil" karena dia menerjemahkan secara harfiah kata "call" ke dalam Bahasa Indonesia. Jadi terdengar lucu kan di telinga kita orang Indonesia? 😅😆 Tapi di telinga orang Amerika atau orang Inggris atau orang-orang yang berbahasa Inggris lainnya (native English speaker) kalimat itu tidak terdengar aneh dan lucu, karena mereka tidak punya "rasa bahasa" Bahasa Indonesia 😁
Sama halnya dengan native speaker Bahasa Inggris yang tidak punya "rasa bahasa" Bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya dengan native speaker Bahasa Indonesia yang tidak punya "rasa bahasa" Bahasa Inggris. Contohnya:
Kata "protrude, protruding" dalam Bahasa Inggris secara harfiah berarti "menonjol". Kita tidak bisa menggunakan kata ini ketika kita ingin mengatakan "Dia hebat sekali, prestasinya sangat menonjol". Di telinga native speaker kalimat "She's great. Her achievement is protruding" itu terdengar aneh dan lucu, bahkan bisa jadi kalau kita bicara seperti itu kepada mereka, mereka tidak mengerti apa yang kita maksudkan (bisa dipastikan mereka akan berkata, "It doesn't make sense" 😆), karena kata itu hanya dipakai untuk sesuatu yang tangible (apa ya Bahasa Indonesianya "tangible", jadi pokoknya "protruding" itu hanya dipakai untuk misalnya paku yang menonjol di dinding, atau seseorang yang terluka karena kecelakaan tulangnya patah sampai menonjol ke luar daging, gitulah maksudnya...😁).
Contoh kedua adalah kata "to fulfill" yang secara harfiah berarti "untuk memenuhi". Kata ini dipakai untuk misalnya to fulfill my ambition atau to fulfill your desires, dan sejenisnya. Akan terdengar aneh di telinga (native speakers) kalau kita menggunakan kata ini untuk, misalnya to fulfill my expenses. Karena expenses tidak bisa dipenuhi oleh to fulfill....hehehehee...🙊
Sekali lagi, ketimpangan ini terjadi karena pengguna Bahasa Indonesia tidak punya "rasa bahasa" Bahasa Inggris.
Contoh lainnya yang paling mudah dan paling sering dilakukan oleh non-native English speakers (baca: orang Indonesia, red.😁) adalah kata "open" dan "close". Native speakers tidak pernah berkata "I open my shoes when I get home", karena ungkapan yang benar adalah "I take off my shoes when I get home". Merekapun tidak pernah berkata, "I always close the light before I go to sleep", karena ungkapan yang benar adalah, "I always switch off the light before I go to sleep".
Dan banyak lagi kata-kata lain yang penggunaannya sangat tidak tepat karena diakibatkan oleh tidak adanya "rasa bahasa" yang dimiliki oleh seseorang. Itu baru dalam masalah kesalahan penggunaan kata-kata, belum lagi dalam masalah penggunaan struktur kalimat. Tapi ngga usahlah itu dibahas di sini ya, tambah panjang lagi nanti tulisan saya ini. Sakit tangan ngetiknya..... 🙈😅
Masalah "rasa bahasa" inilah yang menjadi culprit (apa yaaa Bahasa Indonesianya "culprit", maaff...🙏) kenapa anak-anak kami ketika duduk di kelas Bahasa Inggris di sekolahnya di Indonesia sini seringkali malah jadi kebingungan, ngga paham pelajaran Bahasa Inggris mereka di sini (hadeeeuuuhh...padahal Bahasa Inggris teh bahasa sehari2 mereka di rumah 🙈), dan berujung dari jeblognya nilai Bahasa Inggris mereka di rapot! Unbelievable, right?! Belum lagi kekecewaan mereka dengan performance guru-guru Bahasa Inggris mereka 😟
Semua itu terjadi karena pelajaran Bahasa Inggris mereka di sekolah memakai "rasa bahasa" Bahasa Indonesia! Masih "untung" kalau yang tidak tepat itu penggunaan katanya, yang parah itu kalau bahkan struktur bahasanyapun pakai "rasa bahasa" Indonesia. Kalau kata seorang teman saya mah: "Bahasa Inggris rasa Indonesia" 😂
Ketidakmampuan untuk memiliki "rasa bahasa" juga bisa terjadi apabila kita hanya bisa berpikir dalam suatu bahasa tetapi harus menyampaikan apa yang kita pikirkan ke dalam bahasa lain.
Nah, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa punya "rasa bahasa" yang tepat untuk suatu bahasa tertentu? Jawabannya adalah by immersing yourself in that particular language. Cara yang paling jitu tentu saja dengan 'immersing ourselves' dengan native speakers. Bergaul, ngobrol dan beraktivitas dengan mereka. Cara kedua adalah dengan banyak membaca buku-buku dalam bahasa tersebut. Well...paling tidak itu berdasarkan pengalaman pribadi saya. Pelajaran formal Bahasa Inggris yang saya dapatkan hanyalah beberapa tahun di bangku sekolah dan beberapa bulan saja di tempat kursus. Apakah pelajaran formal itu membantu saya dalam menguasai Bahasa Inggris? Iya, tapi kecil sekali porsinya. Terutama adalah itu sama sekali tidak membantu saya untuk memiliki "rasa bahasa" Bahasa Inggris. Porsi terbesar yang sangat membantu saya adalah immersing myself in native environment dan banyak membaca buku-buku Bahasa Inggris, serta nonton program-program/film seri/movie berbahasa Inggris tanpa subtitle Bahasa Indonesia. Untuk percakapan, yang banyak membantu, selain tentu saja ngobrol dan beraktifitas dengan para native speakers, adalah membaca novel dan komik berbahasa Inggris.
Jadi, sok atuhlah kalau pengen fluent berbahasa Inggris itu (terutama para guru Bahasa Inggris di sekolah) jangan hanya cukup dengan belajar teori aja, tapi banyak-banyaklah juga baca buku berbahasa Inggris, sering-seringlah nonton program berbahasa Inggris (tanpa subtitle Bahasa Indonesia), dan kalau bisa, carilah kesempatan untuk ngobrol dan bergaul dengan native speakers.
No comments:
Post a Comment