Saturday, May 2, 2020

Ramadhan di Rumah Saja

Sebetulnya #RamadhandiRumahAja itu adalah semacam deja vu bagi keluarga kami, khususnya anak-anak kami. Sepanjang sejarah kehidupan keluarga kami, 13 kali Ramadhan kami habiskan di 4 negara yaitu Singapura, Belanda, Uni Emirat Arab, dan USA. Dari ke-13 kali Ramadhan tersebut, hanya Ramadhan selama di USA sajalah anak-anak kami punya kesempatan untuk merasakan sholat tarawih di masjid di setiap malam Ramadhan. Selama Ramadhan di Singapura, hanya beberapa kali saja kami sempat ikut sholat tarawih di masjid atau di ruangan terbuka di bawah block flat HDB. Itu semua adalah sedekat mungkin kepada suasana Ramadhan normal yang bisa kami rasakan. Selebihnya tentu saja Ramadhan di negri orang jauh dari suasana Ramadhan normal nan ramai seperti di negri sendiri, Indonesia-Raya- merdeka-merdeka ini 😄

Sehingga ketika sekarang kami harus menjalani #RamadhandiRumahAja, tarawih #dirumahsaja, sholat 5 waktu #dirumahsaja, dan aktivitas Ramadhan lainnya #dirumahsaja, kami (terutama anak-anak kami) tidak merasa terlalu kehilangan suasana Ramadhan yang ramai seperti yang dirindukan oleh sebagian besar umat Muslim di negara kita ini (kalau masalah rindu sih, saya sudah merindukan suasana 'Ramadhan-yang-ramai' sejak pertama kali harus menjalani Ramadhan jauh dari kampung halaman 22 tahun yang lalu dan berlanjut sampai sepanjang 16 tahun kemudian 😅), malah sekarang kami merasa seperti kembali ke tahun-tahun di masa silam ketika kami habiskan malam-malam Ramadhan kami #dirumahsaja.

Kondisi #RamadhandiRumahAja seperti sekarang ini, bahkan sebetulnya jauh lebih baik dari kondisi kami ketika kami harus menjalani Ramadhan di negri orang nun jauh dari keramaian suasana Ramadhan di negri sendiri. Kenapa? Karena kenyataan bahwa sekarang mereka harus menghabiskan hampir semua waktu mereka di rumah, membuat kami bisa lebih intensif menjalankan program-program Ramadhan untuk mereka. 

Salah satu program Ramadhan yang paling saya suka adalah kultum. Ketiga anak kami dan ayahnya harus bergiliran menyampaikan kultum di pagi hari setelah usai sholat dhuhur. Ini merupakan latihan yang bagus sekali untuk mereka. Mereka belajar bagaimana menyiapkan script materi kultum dan teknik penyampaiannya. Mempersiapkan dan menyampaikan materi yang pendek itu ternyata lebih sulit dibandingkan menyampaikan materi yang panjang lebih dari 7 menit. Kalau menurut suami saya dibutuhkan kemampuan penguasaan materi yang sangat dalam untuk mampu melakukan itu. 

-bersambung yaaa......


No comments:

Post a Comment