Showing posts with label anakanak. Show all posts
Showing posts with label anakanak. Show all posts

Friday, March 14, 2025

Tentang Menantu (Perempuan)

Saya bukanlah menantu ideal para mertua. Selain buruk rupa, saya juga ngga pandai mengurus rumah tangga terutama masak. Mungkin karena sebab-sebab itu maka dulu saya sering dimarahi oleh mama mertua saya. Papa mertua tidak pernah marah (pada saya), tapi memang sejak awal tidak pernah pula ramah menegur saya, bahkan tidak pernah menegur sama sekali apalagi ngajak ngobrol. Wes lah pokoknya lengkap sudah πŸ˜…

Karena sering dimarahi oleh mertua itulah, maka pada suatu hari beberapa puluh tahun yang lalu, dengan nada merajuk, saya bertanya pada ibu saya tentang alasan mengapa beliau tidak pernah memarahi menantunya. Menantu beliau itu adalah istri dari abang tertua saya, anak laki satu-satunya dalam keluarga kami. 

Jawaban Ibu saya sangat tidak terduga. Beliau berkata, "Kenapa Emak harus memarahi teh Yana? Dia adalah kekasih anak Emak. Kekasih anak Emak adalah kekasih Emak juga" (aslinya beliau berkata dalam Basa Sunda tentu saja). 

Wow....saya langsung terdiam, ngga tau harus berkata apa-apa lagi. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dada; kaget ngga menyangka jawabannya seperti itu, kagum atas kelapangan dada beliau, tapi juga iri karena saya tidak mendapatkan perlakuan yang sama dari kedua mertua saya. Yang jelas kata-kata beliau itu sangat berkesan dalam hati saya. Kata-kata yang paling berkesan adalah, "Kekasih anak Emak adalah kekasih Emak juga". Kesan itu begitu dalam terpatri dalam hati saya, sehingga bertahun-tahun kemudian siapa pun yang menjadi 'kekasih' anak-anak saya, saya selalu ikut jatuh hati padanya. Mulai dari sekedar kecengan (padahal kecengan-kecengan mereka itu anak-anak bule, tetep saja bikin saya ikut sayang juga sama para kecengan tersebut πŸ˜‚), sampai akhirnya mereka memilih calon istri yang sekarang sudah menjadi istri-istri mereka. 

Saya ngga bohong kalau saya bilang bahwa saya menyayangi kedua menantu saya seperti menyayangi anak-anak saya sendiri. Bisa jadi itu akibat dari kesan mendalam yang saya dapatkan dari perkataan ibu saya lebih dari 2 dekade yang lalu, tapi sebab utamanya tentu saja adalah karena Allah swt. berkenan menganugrahkan perasaan sayang itu dalam hati saya sebagaimana Dia Ta'ala telah menganugerahkan perasaan cinta dan kasih sayang yang mendalam di hati saya kepada ketiga anak-anak saya. 

Bagaimana mungkin saya tidak mencintai kedua menantu saya seperti saya mencintai kedua anak laki-laki saya? Bahkan saya tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya anak-anak saya seandainya saya tidak ikut mencintai istri-istri mereka. Betapa sakit hatinya mereka kalau melihat saya sampai tidak menerima istri-istri mereka di dalam hati saya, bahkan sampai membenci mereka dan menganggap mereka saingan. Seorang ibu tentu saja tidak akan tega menyakiti hati anak-anaknya seperti itu. 

Saya benar-benar bersyukur bahwa Allah Ta'ala berkenan melembutkan hati saya sehingga saya bisa mencintai dan menyayangi menantu-menantu saya seperti saya menyayangi anak-anak saya sendiri. Alhamdulillaah wa syukurillaah. Mohon pertolonganMu ya Rabb agar kondisi hati ini tidak akan pernah berubah selamanya πŸ’—πŸ’–

Wednesday, February 22, 2023

It's All About Sajid - My Youngest one



7 years old Sajid ran around the house pretending he could read and write in Japanese. He even invented his own Japanese letters πŸ˜‚ I never really gave serious thought to it. I assumed that it was just another of his silly actions as with his other ones that entertained us immensely on a daily basis πŸ˜†


10 years later now, he has achieved some things as proof that what he did years ago was not merely an act of silliness, but the first signs of his passion for the Japanese language. He has passed N2 JLPT certification (the 2nd highest level with N1 being the highest one. He had to go through N3 and N4  levels of certification previously, and skipped N5, the lowest level). And yesterday, he won first place in the national Japanese speech competition. 


I couldn't be prouder of him. May these achievements become the beginning of his future successes and the first steps toward achieving his goals.  

 







Monday, April 26, 2021

The Magic Words

Satu hal yang dipelajari oleh anak-anak kami dari masa kecil mereka di US adalah "the magic words", yaitu "please and thank you". Anak-anak Amerika sejak kecil selalu diajari untuk mengucapkan "please" setiap kali mereka meminta atau menanyakan sesuatu, dan mengucapkan "thank you" setiap kali mereka menerima sesuatu atau seseorang memberikan pertolongan kepada mereka dalam bentuk apapun. Pembiasaannya dimulai sejak mereka bisa mengucapkan their first words. Contoh pembiasaan yang paling umum dilakukan oleh ibu-ibu Amriki adalah tidak akan memberikan apapun kepada balita mereka sampai si balita mengucapkan "please". Pembiasaan ini kemudian dilakukan pula oleh guru-guru mereka di sekolah. (Oh...saya yakin tentunya anak-anak di Indonesia juga diajari dan punya kebiasaan yang sama 😊)

Hampir 7 tahun kemudian setelah kami pindah dari US, kebiasaan ini tetap menempel pada si Bungsu kami, Sajid Djunaedy, yang sekarang sudah mulai berkumis dan sudah lebih tinggi dari IbunyaπŸ˜† Mengucapkan "please" kadang dia suka lupa, tapi dia tidak pernah lupa sedikitpun untuk mengucapkan "thank you" setiap kali seseorang memberinya sesuatu atau setelah dia menerima pertolongan dari seseorang. Bahkan setiap kali dia selesai mengambil makanan di atas meja makan - tidak pernah absen dan tidak pernah lupa - ia selalu mengucapkan "Thank you, Ibu" (atau kalau Abangnya yang masak, "Thank you, Abang" πŸ˜„).

As simple as it may seem, as insignificant as it looks to some people, diam-diam saya merasa bersyukur karena kebiasaan ini tidak sedikitpun hilang dari hidupnya. Rabbi hablii minash shoolihiin πŸ€²πŸ’–

Tuesday, June 29, 2010

Video on My Eyes

Sajid: "Ibu, I want to see the Eye Doctor" (beberapa minggu yang lalu Ibu memang baru periksa mata. Kebetulan Sajid dan Abdih dibawa. Mereka ikut bahkan sampai ke tempat periksa, menunggu dengan sabarnya sang Eye Doctor meriksa mata Ibu dengan cermat dan seksama)

Ibu (puzzled): "Eye Doctor....?"

Sajid: "Yes. I want to ask question to Eye Doctor"

Ibu (still puzzled tapi mulai hayang seuri): "Question...?! What question, honey?"

Sajid: "I want to ask him why my eyes keep making video..."

Ooooh hahaha....Jadi sudah berminggu2 eh..bahkan berbulan2 Sajid selalu merasa terganggu dengan semua 'film' yang dia lihat (menurut dia) dari matanya. Dulu sih dia pake istilah "film", entah kenapa sudah beberapa minggu terakhir ini berubah jadi "video".

Kemaren ketika lagi jalan sama Ayah dan Ibu, tiba2 dia nyeletuk, "Ibu, why you cannot see video from my eyes?"
Euleueuuh....kumaha atuh ibu jawabnya. Setelah mikir beberapa detik yasud Ibu jawab aja begini (kira2 begini): "Karena video di mata Sajid khusus untuk mata Sajid aja, ga bisa diliat sama orang lain"
Eeeeh langsung protes dia, "No...! I can see your video...!!"
Hahahaha....iya gituh...? Sajid ah ada-ada aja....


*masih sedikit bingung dan masih meraba2 tentang apa yang sebenernya Sajid maksudkan dengan "video/film on my eyes" ituπŸ˜†*

Saturday, July 11, 2009

5 Weeks Into Summer Vacation

Ga kerasa 5 minggu sudah liburan berlalu, anak2pun... belum terlihat bosan ternyata alhamdulillaah.... Abdih ada aja yg pengen dia kerjain di rumah, udah jelas klo wiken selalu ada acara. Dari mulai hari Jumat sampai Minggu. Hanif jelas gada waktu buat bosen, karena tiap weekdays dia harus pergi summer school. Eh dia udah mulai bosen ding, bosen sama summer school....hehe....Kalo dipikir memang Hanif belum sempet bener2 ngerasain libur dari sejak awal liburan. Minggu pertama liburan malah minggu yang paling sibuk buat dia. Dari pagi sampai sore jadwalnya penuh...! Summer school mulai jam 7.45 sampai 11.35, jam 1.00 udah harus mulai lagi Writing Camp sampai jam 4 sore. Ibupun jadi luar biasa juga sibuknya, bolak-balik-anter-jemput-keliling2. Jam 11.30 udah harus siap jemput Hanif, udah gitu langsung ke kantor si Ayah nganterin makan siang. Dari kantor ayah ramai2 menuju tempat piknik karena akhirnya anak2pun harus makan siang bareng Ayah sambil piknik krn setelah makan siang Hanif harus langsung dianterin ke tempat Writing Camp, ga mungkin sempet makan siang di rumah. Asik juga sih makan siang sambil piknik tiap hari selama seminggu itu 

Selesai nganterin Hanif, giliran para krucils kecil minta dikasih kegiatan. Yasud ke mana lagi kalo bukan tour de playground....:-D Lumayan lah setidaknya selama mereka main - Sajid main sama Abang Abdih jadi ada yang jagain, Ibu ga harus terus ngikutin dia - Ibu bisa duduk2 sambil baca buku. Anggap aja istirahat sejenak, karena setelah itu harus lanjut lagi nganterin mereka pulang terus langsung balik lagi ke downtown jemput Hanif. Ibu sih sebetulnya pengen mereka main lebih lama gitu, sampai waktunya jemput Hanif. Tapi ini engga, baru 30-45 menit udah minta pulang Panas kali ya karna emang seminggu itu lagi panas2nya. Nanti selesai jemput Hanif sesampainya di rumah kadang Ibu sempet istirahat tapi seringnya selalu ada aja yg mesti diselesein.....duh padahal dah cape nih keliling2.....Belum lagi klo tiba2 telepon berdering dan sang ayah minta dijemput karena harus lembur sampe malem. Pulang malem=udah gada bis, jadi yaa supir pribadi harus siap siaga, lanjut lagiiii......taaarik Mang...!

Tapi untunglah super sibuknya cuman di minggu pertama aja. Minggu2 selanjutnya cuman harus jemput Hanif dari summer school dan nganterin makan siang ke kantor si Ayah di downtown. Anak2 ga minta lagi main ke playground karena Hanif udah kecapean jadi pengen diem di rumah aja, dan klo Abangnya di rumah maka Abdihpun maunya main di rumah aja sama Abangnya. Si krucil terkecil biasanya ikut2an aja....:-D

Kadang kasian juga sih liat Hanif sejauh ini belum sempet bener2 berlibur. Sampai akhir Juli dia harus sekolah terus. Walo cuman setengah hari tapi lumayan juga dia ngerasa 'rugi' krn liburannya harus terkorupsi selama 2 bulan. Dia harus ikut summer school karena kebetulan dia keterima di sebuah sekolah di sini yang namanya TVMSC singkatan dari Treasure Valley  Mathematics and Science Center. Sebuah sekolah setingkat SMP dan SMA yang hanya fokus ke pelajaran matematik dan science saja. Jadi nanti taun ajaran depan Hanif bakal pergi ke dua sekolah. Setengah hari di TVMSC, setengah hari di sekolah umum di Junior High. Kalo untuk ukuran orang sini sih emang keliatan terlalu ambisius. Apalagi karena katanya TVMSC ini mayan berat beban pelajarannya. Tapi ya klo cuman ngandelin pelajaran di sekolah umum aja, khususnya untuk matematik dan science, kami ga yakin Hanif bakal dapet 'lebih'. Jadi kami putuskan buat masukkin Hanif ke sekolah ini. Waktu Hanif ikut test masuk sekolah khusus ini saya terus terang aja agak ga yakin Hanif bakal keterima (perasaan ga yakinnya mungkin krn timbul dari rasa ketakutan bakal ga keterima ya :-D) karena saingannya ternyata banyak banget dan sebagian besar anak2 Chinese dan India...!! Di sini anak2 Chinese dan India kan terkenal pinter2. Duh ngeper juga sih....makanya aga2 'iseng2 berhadiah' juga sih waktu itu. Tapi alhamdulillaah bisa keterima, ada hikmahnya juga Hanif sempet mencicipi belajar matematik dan science di Singapur selama 3 bulan

Nah... summer school ini harus Hanif ambil karena Hanif belum pernah dapet pelajaran 7th Grade Accelerated Math yang jadi salah satu syarat masuk ke TVMSC waktu dia seharusnya duduk di 6th grade taun lalu. Tahun lalu itu kan dia cuman sempet sehari aja masuk 6th Grade di sini, setelah itu keburu terbang ke Singapur. Walo ternyata sebagian besar pelajaran di semester I yg lalu (sekarang dia lagi ngejalanin semester 2, satu semester lamanya sebulan) udah dia pelajari waktu di SIngapur dulu.....!Ya udah lah ga papa itung2 reviewing, jadi nanti pas sekolah mulai ga banyak yang lupa lagi pelajarannya....

Hanif keterima di TVMSC jadi achievement kedua yang berhasil dia raih setelah kami pindah lagi ke sini dan dia balik lagi sekolah di Collister. Achievement pertama yang ga kalah membuat ayah dan ibu bangga sekali sama dia adalah "President Award for Educational Achievement". Award ini diberikan untuk anak2 yang berhasil meraih prestasi dan menunjukkan kesungguhan serta kerja keras selama di sekolah. Walo selama sekolah di Collister nilai2 rapot dia selalu bagus, tapi kami sama sekali ga nyangka Hanif bisa kepilih dapet award ini. Yah alhamdulillaah walo baru 'cuman' setingkat SD semoga ini jadi langkah awal Hanif buat mencapai cita2nya dan buat terus berprestasi ke depannya, teruuus dan teruusss.....amiin.

Well....5 minggu sudah hampir berlalu, there are 7 more weeks to go...!! Masih harus mikir lagi nih rencana ke depan mau diapain itu anak2 yang masih panjang (ternyata) liburannya. Yang jelas Abdih udah cukup lah 'bersenang2'nya udah harus mulai program yg lebih serius. Hanif sebaliknya, selesai summer school harus bikin program 'bersenang2'.....
Ya sudah atuh saya mau nyiapin dulu program2 tersebut ya.....Mariii......

Sunday, April 20, 2008

My Babies' Toilet Training

courtesy of https://www.subpng.com/png-16iaid/download.html


 Some people say we must start as early as possible, others say we must start after our babies reach the age of 1.5 years, most people say we must start when they're 2 years old. Me..? I couldn't care less about what people say. I know my baby better than anybody else, furthermore I know MYself better. I know too well that every baby, every child, is unique. Children who come from the same home, who came from the same womb, who raised by the same parents, can be as different as day and night. So...I can't expect too much from my own sons, can I?

I started to toilet-train Hanif when he was about 1.5 years old, and it took months-almost half a year-for him to finally fully toilet-trained!! Not only had I disregarded his readiness, but  I also hadn't taken my own readiness into account when I started. And to make things worse, there was pressure from my surroundings too. When the pressure is so great, it's always difficult-very difficult, i tell you-to succsesfully achieve our goal faster than we expected. That's what happened in Hanif's case. It was difficult, tiring, not to mention distressing!!πŸ˜–

***cut dulu...! Capek ah ngomong pake english........πŸ˜† Mending klo bener englishnya...hihi...yah namanya juga usaha. Saking pengennya bisa ngomong english dengan baik dan benar...dimaklum aja lah yaw-haw namanya juga belajhar....πŸ˜…***

Back to the main issue. Jadi inget satu kejadian, saking udah cape dan letih serta stressnya Hanif setiap kali pipis di celana diingetin sama Ibu (kadang dengan halus lebih seringnya dengan dimarahinπŸ˜žπŸ™ˆ) dengan kata2 (yg ga bosen2nya ibu ulang2 terus), "Hanif....pipis di mana...?!", akhirnya dengan ga kalah kesalnya dia jawab dengan ketus, "DI KULKAS!!" 😱
PO0KKK...!!! Serasa ditabok deh Ibu, ternyata anakku dah kesel banget diingetin (dan diomelin) bwt pipis di toilet lagi dan lagi dan lagi dan lagi......hiks....Butuh waktu berbulan2 lagi dari sejak kejadian 'pipis di kulkas' ini sampai akhirnya Hanif fully toilet-trained πŸ˜“

Belajar dari kejadian Hanif, Ibu jadi lebih hati2 lagi mentoilet-train Abdih. Ditekadkan dalam hati ga akan 'under-pressure' baik ke Abdihnya lebih2 ke Ibunya. Jadi take it easy ajalah. Alhamdulillaah ga sampai seminggu Abdih berhasil ditoilet-train. Sampai takjub sendiri, segitu mudahnya, alhamdulillaah. Cuman sempet 'kecelakaan' satu kali aja, ngompol ke karpet. Bahkan ternyata akibat kecelakaan inilah (padahal cuman sekali2nya itu), Abdih kapok ga mau pipis di celana lagi. Bukaaaan...kapoknya bukan karna dimarahin sama Ibu...!! Kapoknya krn kaget liat celana dan karpet tiba2 basah kena pipisnya dia, biasanya kan klo pipis langsung terserap di diaper ga kerasa basahnya....hihi...

Lalu bagaimana dengan Li'l Sajid, si 'anak ayah'? Kali ini jauuuh lebih santai lagi....πŸ˜‚ Yang pertama kali berhasil adalah mentoilet-train Sajid untuk BAB. Hanya butuh waktu kurleb 2 minggu saja, dan itupun sudah selesai sejak hampir setaun yg lalu. Melangkah menuju toilet-train untuk pipis, agak2 susah dan maju-mundur. Sampai usia Sajid 2,5 tahun dia masih keliatan santai2 aja berkeliaran dengan diaper yg sudah penuh. Padahal salah satu tanda kesiapan anak untuk ditoilet-train adalah sudah tidak merasa nyaman dengan diaper-penuhnya. Halaaah ini 2,5 taun aja masih cuek-bebek. Setiap kali diajak pipis ke kamar mandi langsung teriak marah, apalagi klo tengah asyik main sama Thomas and the gank, duuuuh....syusysyssaaaah....πŸ˜– Ya udah deh tenang2 aja dulu, pelan2 banget aja dulu deh. Takutnya terburu2 juga malah bikin stress, pangpangna stress ma ibunya....hehe...Bahaya....kasus Hanif selalu jadi 'panduan', ga boleh terjadi lagi. Akhirnya saking pelan2 dan hati2 banget eeeh...malah jadi terlupakan deh proses toilet-trainnya...hehe...Sadar2 lagi pas menjelang ulang taunnya ke-3..."Eh iya ya...udah hampir 3 taun kok masih pake diaper...."πŸ˜… Biar aja lah di sini mah banyak kok anak2 bule yg umur 3 taun masih keliaran pake diaper dengan manis dan lucunya....hihi...

Sponge Bob potty by www.walmart.com

Jadi begitulah beberapa bulan sebelum ulang taunnya yg ke-3, setelah diajak, dibujuk dan dibiasain lagi dan lagi dan lagi bwt pipis di 'sponge bob', berhasillah Sajid 'tertoilet training'...horreee....Prosesnya juga ternyata cukup cepat, cuman butuh waktu kurleb seminggu aja untuk pembiasaan dia pipis di "sponge-bob potty"nya. Dan taraaa....he's now fully toilet-trained...bahkan  tidur malampun udah ga harus pake diaper lagi...! Alhamdulillaah. Satu tugas Ibu sudah terselesaikan dengan baik, legghhaaaaa....buanget rasanya...πŸ’ƒπŸ˜ SO, ready for the next baby.....??!!....Ya jelas engga dong ah!! πŸ˜†

Notes:
~ ini tulisan dah basi banget sebetulnya. mulai ditulis sejak tgl 10 feb, baru selesai hari ini, 20 April, setelah berbulan2 proses toilet-train Sajid kelar-sumelar....;-D

Thursday, April 10, 2008

Collister Holiday Concert




Suara biola solo yg terdengar adalah suara biola yg dimainkan Hanif, ga sempet terekam lama. Tapi da main solonya juga cuman dikit banget kok...hehe...Nothing special....eh eh eh....special banget lhoooo bwt Ibunya sih....;-) Klo mau liat foto2nya ke sini aja: http://ibuhanif.multiply.com/photos/album/18/Collister_Holiday_Concert_07

Sunday, October 7, 2007

7 Oktober 1996/2007


"Ibu, why you're looking so gloomy?"

"Ibu, are you exhausted?"
"Ibu, you're looking worried...."
Pertanyaan2 dan pernyataan tersebut Hanif ungkapkan dengan penuh perhatian bahkan kadang dengan muka penuh kekhawatiran.
****

"Ibu....mau ke kamar Hanif ngga?"
"Ada apa sayang..?"
"I want to talk to you" or sometimes, "There's something I need to discuss"
"Di sini aja kenapa Nak?"
"I want to keep it only between you and me"
Klo sudah begitu itu tandanya dia mau curhat. Dan klo dia curhat dia ga mau ayahnya denger, sayapun ga boleh ngebocorin apa yang dia curhatkan ke ayahnya ;-)
Bahagia sekali ketika selesai dia curhat dan setelah saya ngasih 'masukkan' (which is mostly in the form of 'long-lecture' and more often than not some tears involved ;-D), lantas dia bilang,
"Hati Hanif lega sekarang, Ibu...."
Ah...anakku....
****

Best of all is:
"Ibu, you're the best mother I've ever had..." (oh my...langsung melayang ke negri di awan ngga siiih....)
"Tapi Ibu kan galak sama Hanif..."
"Hmmm...engga koook...engga terlalu..." jawabnya dengan tersipu2
****

That's my Hanif, my first-born, my no-longer-best-little boy (he's my best BIG boy now...;-)). He's growing up into a sensitive, care pre-teen. Bahkan sejak dia kecil saya sudah 'curiga' klo Hanif ini punya perasaan yang halus, sangat perasa dan sensitif. Namun saya tidak menyangka klo dia kemudian bisa begitu care dengan perasaan orang lain, terutama perasaan saya ibunya. It's probably because he's a sensitive person to begin with. Alhamdulillaah I've never viewed sensitivity as a personality flaw or weakness and I don't want Hanif to view it that way either.

Hanif Ahmad Kautsar Djunaedy, lahir di Bandung tanggal 7 Oktober 1996, hari ini usianya genap 11 tahun. 11 TAHUN...?? ya 11 tahun...! Subhanallaah, walhamdulillaah. Saya sendiri rasanya masih tidak percaya my best little boy sudah bukan little boy lagi sekarang. Tidak percaya saya punya anak yang sudah hampir baligh. Oh my...where were I...where have I been?? Kemudian dalam hatipun timbul ungkapan2 klasik: rasanya baru kemaren saya lahirkan dia, rasanya baru kemaren saya toilet trained dia, baru kemaren pertama masuk sekolah, dan 'baru kemaren-baru kemaren' yang lainnya. How fast time flies.....And then I realize something, what have I done for him so far?

My dear Hanif, my son, my jewel, my qurrotaa'yun,
I was thinking of you today,
when I realized that I haven't told you in a while
how wonderful it is to have you for a son...

Sometimes, of course, I worry about you,
but that's just a natural part of being a parent.
More often,
I think about how special you are,
and how much joy your cheerfulness and willlingness to help out
have added to my life...

I may have criticized you at times,
I may have tried at times to change you,
but I love you just the way you are...
and the way you are makes me very proud.
( unknown author)

Happy birthday my baby, my best little boy. We'll always love you and be there for you, insya Allah

(Note: It took me one whole month to eventually post this entry. Sorry for the delay. I simply didn't feel like MPing these last few weeks ;-))


 

Friday, August 31, 2007

Izin sholat Jumat dari sekolah

Pagi ini saya dan suami saya datang ke sekolah anak2 untuk bertemu guru kelasnya Hanif, Mr. Heller dan Kepala Sekolah, Dr. Olsen. Kami bermaksud untuk memintakan izin mereka agar Hanif bisa di'excuse' setiap hari Jumat siang untuk sholat Jumat. Hanif bulan Oktober nanti sudah berumur 11 tahun, jadi sudah ga ada alasan lagi bwt kami untuk memberikan dispensasi padanya untuk tidak melaksanakan sholat Jumat. Mungkin seharusnya sudah sejak setaun yang lalu hal ini kami lakukan. Tapi taun lalu 'excuse' kami adalah Hanif masih dalam masa adaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Hanif berani sholat di sekolah di depan guru dan teman2nya saja sudah merupakan satu prestasi yang luar biasa buat kami. Sehingga akhirnya kami putuskan untuk menundanya hingga taun ajaran baru taun ini.

Walopun kami yakin ini adalah hak kami dan pihak sekolah tidak seharusnya mempermasalahkannya, tetep saja saya deg2an ketika kami berjalan menuju sekolah. Perasaan khawatir permintaan izin kami akan ditolak tetep aja hadir dalam hati saya

Tujuan pertama kami adalah kelasnya Hanif, ketemu dengan guru kelasnya. Untung di sini sama seperti di Belanda ketemuan dengan guru2 atau kepala sekolah ataupun sekretaris sekolah ga ribet harus pake janjian segala, ga kayak di Emirat yang penuh dengan birokrasi bahkan pihak orang tua tidak diizinkan untuk ketemu langsung dengan guru2. Jadi kami bisa melenggang dengan bebasnya langsung menuju ruang kelas. Tetap dengan hati deg2an (saya maksudnya yang deg2an, si Abang sih keliatannya tenang2 ajah) kamipun bertemu dengan Mr. Heller dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Suami saya menjelaskan dengan (cukup) panjang (tapi tidak) lebar kenapa Hanif harus melaksanakan sholat Jumat, thus he must excuse himself from his class every Friday afternoon. (Tidak terlalu) di luar dugaan, Mr. Heller merespon penjelasan kami dengan simpatik dan sangat memahami kebutuhan Hanif untuk sholat Jumat. Salah satunya dia berkata,
"Oh, it's fine with me, if it is very important for him" sambil tersenyum penuh pengertian (bohong deng.....dia tersenyum tapi ga tau tuh penuh pengertian ato engganya mah..hehe..)

Singkat cerita, selesailah urusan kami dengan Mr. Heller yang dengan tidak keberatan memberikan izinnya untuk Hanif untuk keluar kelas setiap hari Jumat siang. Tujuan kami selanjutnya adalah school office untuk ketemu Dr. Olsen, sang Kepala Sekolah.

Singkat cerita (lagi), setelah kami jelaskan semuanya (persis seperti penjelasan kami kepada Mr. Heller), Dr. Olsen bersahut,
"Wow....I've never heard about this before. It's very interesting!"
(responnya ini persis sama dengan respon dia ketika taun lalu kami menjelaskan kepadanya tentang Hanif dan Abdih yang harus puasa sepanjang bulan Ramadhan thus ga makan dan ga minum saat makan siang di sekolah). Intinya, Dr. Olsen mengizinkan dan mendukung Hanif yang harus 'bolos' setiap Jumat dari jam 12.45 p.m. (saat Ibu datang menjemput) sampai kurang lebih jam 13.50 (saat Hanif kembali lagi ke sekolah setelah sholat Jumat usai). Dia bahkan kemudian bertanya tentang bagaimana dengan hari2 yang lain di mana Hanif harus sholat di siang hari di tengah waktu sekolah (sholat Dhuhur maksudnya). Dia bertanya haruskah Hanif disiapkan tempat khusus untuk sholat yang sepi dan bebas dari kerumunan teman2nya. Apakah Hanif harus dia panggil turun ke kantornya dia, dan melaksanakan sholat di sana. Dr. Olsen juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana Hanif menghadapi pandangan heran dan aneh dari kawan2nya melihat dia harus sholat di sekolah. Kami jawab bahwa sebetulnya Hanif boleh sholat di mana saja, sejauh itu nyaman buat dia, ga harus disediakan tempat khusus. Mengenai kekhawatirannya, kami jawab bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus Hanif hadapi. Kamipun tak lupa mengatakan bahwa Hanif sudah pernah melakukannya satu kali taun lalu di kelasnya Mrs. Scofield. Akhirnya Dr. Olsen memutuskan untuk bicara dan bertanya langsung saja sama Hanif, apa maunya Hanif.

Respon Dr. Olsen yang demikian bukan saja membuat kami lega, tapi sungguh2 membuat kami bersyukur atas nikmat Allah kepada kami. Pihak sekolah Hanif bukan hanya mengizinkan dan mendukung kami, bahkan bersedia memfasilitasi Hanif untuk bisa sholat dengan nyaman di sekolah. Ini benar2 sebuah nikmat dari Allah yang luar biasa besarnya buat kami, sehingga kami dan anak2 kami bisa dengan mudah melaksanakan ibadah kami kepadaNya. Saya serasa melayang ketika berjalan keluar sekolah, hatipun terasa berbunga2 Hanya dengan kehendak dan kuasa Allahlah semua ini bisa begitu mudah untuk kami, hanya Allahlah yang telah membukakan hati mereka untuk menerima kami dengan tangan terbuka.

Selanjutnya saya hanya bisa berdoa semoga Allah swt. selalu memudahkan dan melancarkan jalan kami dan anak2 kami serta keturunan2 mereka kelak untuk melaksanakan ibadah kepadaNya, kapanpun dan di manapun kami berada.

Saturday, August 25, 2007

Hanif, Abdih dan NBA

Abdih : "Ibu, I wish I was in college now"
Ibu     : "Why?"
Abdih : "So that I can play for the NBA"
Ibu     :" Hmmm........"

****
Hanif : "Ibu, kata Ibu kan Hanif boleh jadi apa aja yang penting sholeh, iya kan?"
Ibu    : "Iya, terus..?"
Hanif : "Hanif mau jadi NBA player Ibu..."
Ibu    : "Hmmm, hmmm....."
Ibu lagi : "Ok, tapi walo bagaimanapun Hanif harus ke college dulu. Setelah itu let's see.... Yang penting Ibu mau Hanif harus ke college dulu." (maksa ih si Ibu...hehe...)
Hanif : "Oke.."

****
Hanif : "Ibu, I wanna go to college here in the US"
Ibu    : "NBA kan..?"
Hanif : "Hehe...." sambil tersipu2.

****
Suatu hari setelah baca buku biografi salah satu pemain NBA bernama Kevin Garnett yang dia pinjam dari perpus sekolah,
Hanif (dengan mimik muka 'penuh kemenangan') : "Ibu, do you know? Kevin Garnett skipped college! He went straight to NBA!"
Ibu (dengan nada tegas)  : "So....?! What did you mean by that? You don't wanna go to college either?"
Hanif (tersipu2) : "Emm...engga siiih...."


******
Entah sejak kapan anak 2 itu tergila2 sama yang namanya bola basket. Padahal dulu, sejak heboh Piala Dunia 2002 sampai beberapa bulan pertama setelah kami pindah ke sini, soccer was always their fav! Yang kemudian menimbulkan ide2; "Hanif mau jadi pemain sepak bola" atau "Hanif mau jadi wasit sepak bola". Awal2 mereka sekolah di sini, guru2 mereka, temen2 mereka (baik yang sekelas maupun yang tidak), bahkan beberapa orang ibu dari temen2 mereka, begitu hafalnya dengan hobi Hanif dan Abdih ini. Karena setiap recess ga ada lain yang mereka mainkan selain sepak bola. Berteman pun dengan anak2 yang cinta sepak bola. Entah angin apa dan dari mana yang menghembuskan ide bola basket ke telinga mereka. Klo cuman hobi sih ga papa, ini pake pengen pula jadi pemain NBA. Serius pula (ternyata) keinginannya itu. Kayaknya ga ada hari tanpa ngomongin NBA, pemain2 NBA, NBA draft dan entah apalagi lah istilahnya, ga ngerti! Pokonya Ibu dah mulai kewalahan dengernya!

Sampai berapa lamakah obsesi mereka untuk jadi pemain basket dan kemudian jadi pemain NBA (dipikirnya gampang jadi pemain NBA....) akan bertahan? Apakah kemudian nasibnya akan sama dengan obsesi mereka untuk jadi pemain bola yang terlupakan setelah mereka berpindah ke lain hati? I have no idea!! Kita lihat saja nanti gimana perkembangan selanjutnya. Klo boleh jujur, Ibu sih berharap semoga it won't last long..!!


Friday, August 24, 2007

Ujan2an Bagian 2




Yang ini bagian 2nya, supaya Kakak Nada lebih puas lagi nonton Sajid ujan2an...;-) Inget ya Kakak Nada, jangan ngacay yaa....;-D
Ini Sajid ga mau berenti main ujannya, dari depan rumah diterusin deh ke samping rumah :-)

Ujan2an Bagian 1




Video yang ini spesial pake telor dipersembahkan buat Kakak Nada di Holland Dr. , Singapore, yang kabarnya pengen (sekali) main ujan2an. Disertai pesan sponsor dari Sajid: "Kakak Nada, jangan ngacay ya nontonnyaa...";-)
Ini Sajid ujan2an di rumah Nenek di Bandung, waktu kami lagi liburan musim panas taun 06 yang foto2nya ada di photo gallery.

Sajid baca buku dengan Sajlishnya




Ga pernah berhasil ngerekam Sajid dengan ocehan Sajlishnya yang panjang dan lengkap, krn sekarang dia sudah sangat 'sadar kamera', jadi belum selesai direkam dia selalunya udah 'bereaksi' duluan :-( Yang ini diambil sebulan sesudah ultahnya yang kedua, sebelum dia bisa menghasilkan kata2 dalam Sajlish yg bisa dicerna dan dimengerti ;-)

Tuesday, August 21, 2007

My Silly Abdih

 Suatu hari di meja makan,
Abdih : "Ayah, the food is going down my asparagus"
Ayah (sambil mengerutkan kening dan nahan tawa) : "Asparagus?? Where is your asparagus...?"
Abdih (sambil nunjuk tenggorokannya) : "Here...."
Ayah (sambil ngakak) : "Ooooh...you meant esophagus..!"
Badih...Badih...

*****

Ibu lagi asyik kencan dengan neng Kokom di ruang belajar. Hanif, Abdih dan Sajid tengah asyik main di ruang depan. Krn khawatir Sajid kenapa2 tanpa pengawasan Ibu, maka Ibu berpesan pada Hanif dan Abdih,
"Hanif, Abdih, can you keep an eye on Sajid for me pleaeaeaea....s"
"Oke Ibu...", sahut keduanya.
Ga lama kemudian, Hanif muncul di pintu ruang belajar, laporan,
"Ibu, Abdih jagain Sajid sambil matanya ditutup satu!"
Saking asyiknya Ibu kencan sama neng Kokom ga sempat lagi Ibu mikir panjang dan mencerna dengan baik omongan Hanif tsb. Tanpa babibu lagi langsung aja Ibu meradang,
"Kenapa Abdih seperti itu sih!! Kan udah Ibu bilang bwt jagain Sajid!"
Ibu pikir Abdih sedang-seperti biasa-pasang aksi gangguin Sajid dan ga mau jagain Sajid seperti yang Ibu minta.
Sambil nyengir Hanif kemudian bilang,
"Kan Ibu tadi bilang supaya "keep AN eye on Sajid", jadi sekarang Abdih tutup satu matanya sambil jagain Sajid"
Ibu yg sudah bener2 melepaskan perhatian dari Neng Kokom jadi ikutan nyengir sekaligus ngakak deh...Emang bisa ya nyengir sekaligus ngakak...hehehe...Ya bisa aja deh, namanya juga Ibu ;-) Ngakak krn baru sadar dengan kekonyolan Abdih, nyengirnya karna malu sendiri, belum2 udah main hantam aja marah2!

Thursday, August 2, 2007

Sajlish

 (((Klo di Singapur ada yang namanya Singlish (singkatan dari "Singapore-English), di Belanda ada Dutchlish dan di Arab, Rablish (dua yg terakhir, maaf, hanya istilah karangan saya sendiri;-D), maka di Boise, tepatnya di Pierce Park Village, ada yang namanya "Sajlish". Bagaimana istilah ini bisa muncul? Begini ceritanya,

Sejak Sajid lahir saya dan suami saya selalu bicara menggunakan Bahasa Indonesia kepadanya. Setelah pindah ke Emirat dan kemudian pindah ke sini kami tetap tidak membiasakan diri untuk berbicara bahasa Inggris dengannya. Maksud dan tujuannya tentu saja jelas sekali, kami tidak ingin Sajid lupa dengan bahasa ibunya dan kami ingin Sajid mahir berbicara Bahasa Indonesia dulu sebelum dia kemudian mengenal Bahasa Inggris. Namun apalah daya sebelum dia benar2 mahir bicara dalam Bahasa Indonesia, dia harus terekspos begitu hebatnya dengan Bahasa Inggris. Mulai dari film2 DVD yg dia tonton, kemudian buku2 yang saya bacakan untuknya (sayang sekali kami betul2 hanya punya sedikit sekali koleksi buku anak2 dalam bahasa Indonesia. Masak saya harus bacakan majalah Femina dan Kartini padanya...), sampai akhirnya abang2nya pun tidak bisa menahan diri untuk mulai bicara bahasa Inggris di rumah baik di antara mereka berdua atau dengan kami, ayah dan ibunya. Belum lagi klo Sajid saya bawa keluar rumah, ke tengah2 keramaian 'manusia2 asing' yang berbicara dalam bahasa 'asing'. Akhirnya dia mulai mengerti bahwa ternyata banyak sekali makhluk2 di luar dirinya yang bicara dengan bahasa lain yang awalnya terdengar aneh dan tidak jelas artinya di telinga dia. Apa yang terjadi selanjutnya?

Karena seringnya 'dibombardir' oleh bahasa yang aneh dan sulit diikuti itu, akhirnya-setelah beberapa bulan tinggal di sini-bayiku ini ingin juga ikut2an bicara bahasa aneh tersebut. Namun apalah daya kemampuan dia untuk menangkap kata2 dalam bahasa aneh tsb. sangatlah minim, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah bahasa yang tidak kalah anehnya. Saya sendiri awalnya tidak menyadari bahasa aneh ini, saya cuman heran kok Sajid-yg saat itu baru menginjak usia 2 taun-yg sudah mulai bisa ngomong (dlm bahasa Indonesia) tiba2 jadi ngoceh ga jelas lagi. Tapi lama2 setelah saya perhatikan lagi, dia ngoceh ga jelas itu hanya ketika bertemu dengan orang2 asing ato klo sedang berusaha ngajak ngobrol anak2 bule di luar rumah. Satu contoh, klo saya bawa dia ke toddler story-telling di library dia akan dengan hebohnya menyapa anak2 bule di sekelilingnya, atau berteriak sambil nunjuk2 ke arah sang storyteller, tentu saja menggunakan bahasa anehnya. Mengertilah saya kemudian bahwa ternyata Sajid sedang berusaha bicara dalam bahasa Inggris!  Demikianlah, maka "Sajlish"pun tercipta, Sajid-English, bahasa Inggris versinya Sajid

Awalnya Sajid ngoceh Sajilish hanya klo berada di luar rumah di tengah2 orang2 yang berbicara  bahasa Inggris, namun lama-kelamaan di rumahpun dia mulai sering sekali ngoceh menggunakan Sajlish ini. Pada mulanya dia hanya ngoceh sendiri di depan TV sambil nonton Thomas kesayangannya atau sambil 'baca buku', bicara dengan kami masih menggunakan bahasa Indonesia. Lama kelamaan dengan kamipun dia mulai ngomong pake Sajlish. Maka mulailah konflik sering terjadi, ketika dia dengan hebohnya ngomong Sajlish sementara saya sama sekali clueless dengan apa yg dia omongkan. Dia keukeuh ngomong Sajlish saya keukeuh ga ngerti. Sampai akhirnya ga jarang saya sendiri frustasi berusaha memahami apa yang Sajid inginkan sementara dia keukeuh menyampaikannya dalam Sajlish, kalau sudah begini dengan frustasinya saya akan bilang, "Sajid pliiiiss ngomongnya pake bahasa Indonesia Naaak....Ibu ga ngerti apa yang Sajid mauuu...!" Dia jadi frustasi juga krn saya ga ngerti2 apa yang dia mau sambil nangis dan marah2 dalam (keukeuh) Sajilishnya!!

Hari2pun berlalu, setelah berminggu2 bahkan berbulan2 Sajlish tercipta, akhirnya Sajid mulai bisa menangkap beberapa kata dengan jelas dan sudah pula bisa mengasosiasikannya dengan makna yang terkandung di dalam kata2 tersebut. Maka, Sajlish yg awalnya hanya ocehan2 ga jelas yang bener2 incomprehensible sekarang sudah mulai mewujud dalam bentuk kata2, bahkan kalimat (sangat sederhana) yg yaaah lumayan lah  bisa dimengerti Misal klo dia ingin sesuatu dia sudah bisa bilang, "Awon Thomas" atau "Awon dis" atau "Awon ambila", dlsb., yang maksudnya "I want Thomas", "I want this" dan "I want umbrella". Klo dia ingin megang sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dia akan bilang, "Kenay si?", maksudnya "Can I see?"...hehe..masih ga nyambung....;-D Klo dia minta tolong sesuatu dia akan bilang, "Ke nyu hepmi bla bla bla..?", maksudnya "Can you help me-blablablanya masih jabbering incomprehensible-?". Klo denger suara yg terasa aneh di kupingnya dia akan bilang, "Wos det saun?" ("What's that sound?"). Klo nyari Ibu dia akan teriak2, "Iiii..buuu...wel aaayuuu..?!". Klo ditanya trus dia ga tau jawabnya, dia bilang dengan lempengnya, "Adonow.."

Satu hari saya sedang sibuk di dapur tiba2, "Krompyang...gedubrag...breng brong..!!" saya-dengan tak sengaja-menjatuhkan sesuatu. Tiba2 dari arah ruang depan, ada suara mungil yg berteriak, "Ibu...hot heppen..!"...hihihi...anakku udah bisa bilang, "What happen..."!! Isn't it amazing..?? Yah buat saya ibunya ya amazinglah....Namanya juga anak sendiri, serasa yang paling pinter sedunia!! Selain itu, sekarang begitu denger satu kata, dia bisa langsung mengucapkannya dengan (lumayan) jelas, walo kadang belum ngerti apa artinya. Semakin hari vocab englishnya semakin bertambah, warna2pun (tiba2) dia sudah tahu dan sudah pula bisa mengucapkannya dengan (lumayan) baik dan benar, angka favoritnya (walo kalo berhitung masih ngaco!...hehehe...) adalah "fol" sambil nunjukkin keempat jarinya . Hingga satu saat ketika kami belanja dan sedang bayar, si kasir nanya umurnya dia, dengan semangat dia tunjukkin jari2nya dan bilang "Fol!" Jadi sekarang dia kalo ngomong campur2, antara Sajlish dan English. Tapi hebatnya klo ngomong pake basa Indonesia ga pernah campur2 Bukan hebat siih sebenernya :-), ga pernah campur2 krn klo ngomong bahasa masih kalimat2 singkat, sementara klo ngomong Sajlish (yg campur2 dengan english) kan maunya dia ngomong nyerocos panjang2, yg klo menurut dia sih kalimat lengkap yang baik dan benar

Saya sebetulnya inginnya Sajid jadi "the proper bilingual child". Dari beberapa artikel tentang bilingual yang pernah saya baca, ada satu yang saya yakini kebenarannya sampai sekarang, yaitu bahwa untuk menjadi the proper bilingual seorang anak harus terekspos dalam dua bahasa dengan baik dan benar juga. Maksudnya begini, dia harus punya dua lingkungan yang berbicara dengan 2 bahasa yang berbeda kepadanya dengan kontinyu dan konsisten. Dua lingkungan tersebut bisa berupa kedua orang tuanya yang masing2 berbahasa berbeda dengan konsisten dan kontinyu kepadanya, atau bisa jadi orang tua dan baby sitter atau pengasuh lainnya yang punya interaksi yang kontinyu dengannya. Misal, klo ibunya konsisten bicara dalam bahasa Indonesia maka ayahnya harus konsisten bicara dalam bahasa Inggris. Demikian pula, klo baby sitter/pengasuh/nenek/kakek/tante bicara konsisten dalam satu bahasa maka kedua orang tuanya harus konsisten bicara dalam bahasa yg lain. Untuk anak2 usia sekolah, dua lingkungan itu juga bisa berupa lingkungan sekolah dan lingkungan rumah (yang ini sih pendapat pribadi saya aja berdasarkan pengalaman sendiri yang tumbuh sebagai anak bilingual, walo bilingualnya 'cuman' bahasa indonesia dan sunda, tapi tetep wee bilingual kan..hehe).

Yang terjadi pada Sajid, saya sadar, tidak seideal itu. Saya dan suami saya berusaha untuk konsisten bicara dalam bahasa Indonesia kepadanya, abang2nya bicara campur2, sementara lingkungan selebihnya (TV, buku2, orang2 di luar rumah) bicara konsisten dalam bahasa Inggris. Semoga saja kondisi ini, walopun tidak ideal, masih bisa menjadikan Sajid anak bilingual yang baik dan benar.

Oh ya, klo mau denger bagaimana bunyinya Sajlish itu, di sini ada sedikit contohnya ;-) (tapi beribu maaf hanya bisa diakses oleh 'contacts' saya saja)

Thursday, June 28, 2007

Singapore, 2000


Abdih dan ayah. Gemuk ya Abdih....;-)

Nemu foto2 jadul, waktu kami masih tinggal di Singapur. Kejadian di foto2 ini tepatnya kapan lupa, tapi yang jelas pastinya setelah April 2000, setelah kami-Ibu, Hanif dan Abdih-kembali lagi ke sana setelah melahirkan Abdih, Februari 2000. Ada Oom Romy, Mbak Endang, Mas Edy dan Li'l Zaza juga lhooo....;-) Kangen yaa masa2 ituu.....hiks...

Saturday, June 23, 2007

He learned it the hard way.....:-(

Sudah seminggu ini Abang Hanif ikut Basketball Camp yang diadakan di sebuah elementary school ga jauh dari rumah kami. Sejak awal-krn tau mereka lagi tergila2 dengan basket-Ibu sudah mau akan daftarin Hanif dan Abdih dua-duanya, Ibu sudah pula isi formulir pendaftaran berikut nulis cek buat bayar. Begitu Ibu konfirmasi dengan Abdih, ternyata dia tidak mau ikut!! Padahal itu formulir pendaftaran dan cek udah Ibu masukkan dalam amplop dan siap Ibu poskan. Setelah berkali2 Ibu yakinkan Abdih klo dia memang bener2 ga mau ikut ( yang ujung2nya dia keluarkan senjata: "Ibu, kan katanya ga boleh paksa...!"), akhirnya ya sudah Ibu buka lagi amplopnya, Ibu keluarkan form punya Abdih dan Ibu ganti ceknya hanya bayar buat satu orang aja. Di depan kantor pos, sesaat sebelum Ibu poskan amplop berisi form dan cek tsb., Ibu kembali nanya Abdih lagi,
"Are you sure you don't wanna join?"
"Ibuu....don't push me pleeease.." begitu jawabnya.
Ya udah lah daripada dibilang maksa dia, dan dia ikutan juga krn terpaksa, Ibu biarin aja apa maunya dia. Heran juga sih kenapa kok dia ga mau ikut, ditanya apa sebabnya ga mau ikutpun dia ga bisa jawab, pokoknya ga mau aja, gitu katanya.

Hari2pun berlalu, setiap kali pulang latihan, Hanif selalu heboh cerita tentang apa yang sudah dia lakukan dan apa yang dia dapat dalam latihan basket hari itu. Lama2, ini si krucilku yang satu ini, ngacay juga dong dengernya. Tiba2 aja kemaren, beberapa jam setelah Abangnya pulang latihan, dia menghampiri Ibu di dapur dan dengan terbata2 menahan tangis dia bilang gini,
"Ibu, I wish I joined the basketball camp!"
Nah lo...bener kaan...nyesel deh dia sekarang...... Tapi trus tiba2,
"Ibu siiih....kenapa dulu paksa Ade....!"
"Loh...kenapa Ade jadi nyalahin Ibu...?Kan dulu Ade sendiri yang ga mau ikut. Ibu udah mau daftarin Ade kok...."
"Iya, trus Ibu paksa Ade, jadi aja Ade ga mau ikut....!"
What...!! He's decided not to join the camp, and now he regret it, and then blame it on me!! Minta ampun deh anak ini...!

Langsung dong Ibu meradang....hehehe.....Keluarlah ceramah panjang dari mulut Ibu....Diawali kembali tentu saja dengan kata2, "Kenapa Ade nyalahin Ibu sih...?!", dan kemudian berlanjut dengan bla bla bla dan blu blu blu. Intinya sih Ibu pengen dia menyadari konsekwensi dari pilihan yang udah dia buat, klo kemudian dia menyesali keputusan itu ya jangan nyari kambing hitam! Itu pertama, keduanya Ibu pengen Abdih mau mengakui kesalahannya sendiri dan tidak berusaha melempar kesalahan itu pada orang lain (yang mana daripadanya cukup sering dia lakukan). Bagaimana mungkin dia bisa memperbaiki diri klo mengakui kesalahan saja dia ga mau. Ketiga, Ibu ingin Abdih belajar bangkit dari penyesalan dan kekecewaan. Menyesali apa yang sudah terjadi itu ga ada gunanya, krn kita ga mungkin membalik waktu. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah mencoba memperbaiki keadaan yang kita sesali telah terjadi itu. There'll always be next time, and hopefully next time will be better.

Yang bikin Ibu cape adalah, mencoba menjelaskan itu semua dengan bahasa yang bisa Abdih mengerti. Udah gitu pula sebelum Ibu sampai pada satu, dua dan tiga di atas, Ibu wanted to make it clear why pushing him TO join the camp made him blame me now that he regreted his decision NOT TO join. Berkali2 Ibu berusaha menjelaskan ke dia dengan bahasa yang sesederhana mungkin that it simply doesn't make sense. Logikanya mestinya dibalik, klo dulu Ibu paksa Ade untuk TIDAK join, Ade boleh nyalahin Ibu sekarang, but not the other way around. Susah sekali membuat dia bisa ngerti logika ini. Berkali2 pula Ibu nanya kenapa Ade sekarang nyalahin Ibu, di mana salahnya Ibu. Kenapa harus sampai berkali2 pertanyaan itu Ibu tanyakan padanya, krn berkali2 juga dia ga bisa tau apa jawabannya...hehe.. Yang pada akhirnya dia jawab juga dengan lugunya,
"You make it hard for me to make a decision..."
Huaaah apa ga pengen ngakak Ibu...... Tapi Ibu tahan dong ketawanya, orang lagi berwibawa gitu koook..masa tiba2 ngakak....hehehe...Apa coba hubungannya "Ibu paksa dia untuk IKUTAN camp" dengan "making it hard for him to make a decision" sementara sejak awal dianya sendiri emang ga mau ikutan camp...Abdih...Abdih.... (sebenernya dibilang maksa dia juga ada ga benernya juga sih. Ibu dulu itu cuman nanya berkali2 ke dia kenapa dia ga mau ikutan, bukannya dia suka banget basket. Setelah berkali2 ditanya dan berkali2 juga dia jawab dengan keukeuhnya ga mau, dia ya akhirnya bilang, "Ibu, katanya ga boleh paksa....." :-D)

Sebenernya bisa aja sih Ibu langsung aja minta maaf sama dia krn dianggap salah, udah kan selesai masalah ga usah cape2 berpanjang2 ceramah. Bukan, bukan Ibu ga mau disalahin, klo memang Ibu salah Ibu akan mengakuinya dan minta maaf....bener deeh...ga boong kok, Ibu ga susah kok minta maaf klo punya salah sama anak2.....;-) Ibu cuman pengen Abdih belajar sesuatu dari kejadian ini.

Malamnya, selesai sholat Ashar, tiba2 dia datang menghampiri Ibu dan dengan manisnya dia bilang,
"Ibu...Ade minta maaf udah salah2in Ibu..."
Duuuh apa ga terharu Ibu jadinya....Anakkuu....

(Oh my goodness, I forgot to say sorry for making it hard for him to make a decision...!)