Apa yang saya alami itu ga ada apa2nya dibanding dengan apa yang dilakukan oleh seorang Bapak di Indonesia yang mengembalikan uang ganti rugi dari pihak pemerintah sebesar sekian puluh juta (atau sekian ratus juta ya? lupa lagi....pokoknya berjut2 deh...buanyak sekali). Wah....gile bener ya...padahal kalau ga dikembalikan itu uang bisa dia pake buat bikin rumah bagus, nyekolahin anak2nya, dll, dlsb. kebetulan si Bapak itu juga bukan orang kaya. Namun dia memilih untuk mengembalikan uang yang luar biasa banyaknya itu. Alasannya sederhana sekali, uang itu bukan hak saya, begitu yang beliau katakan. Duh....subhanallaah...betapa mulianya hati si Bapak.
Saya jadi teringat tulisannya Emha Ainun Najib berjudul "Slilit Sang Kyai". Dalam tulisannya itu Emha bercerita tentang seorang Kyai yang tertunda masuk surga gara2 slilit di giginya. Bukan..bukan semata2 karena si slilit itu dia jadi tertunda masuk surga. Tapi gara2 secuil kecil daging yang nempel di gigi itulah sang Kyai tanpa pikir panjang ngembat sepotong lidi yang tersender di pagar rumah tetangganya dalam perjalanannya pulang dari sebuah kenduri (gara2 makan daging di kenduri inilah maka slilit itu nyangkut di giginya). Tak berapa lama sejak kejadian itu sang Kyaipun meninggal. Nah ketika ngantri masuk surga malaikat mencegatnya di pintu surga dan mempermasalahkan sepotong kecil lidi yang dipakai sang Kyai untuk menyongkel slilit dari giginya. Bukan apa2, sang Kyai lupa ga minta izin dulu sama pemilik lidi tersebut!
Saya ga tau apakah Emha menceritakan kisah ini berdasarkan sebuah hadits, atau kisah2 para sahabat Rasulullaah dulu atau bagaimana. Bahkan berdasarkan apa dan kisah dari manapun saya ga tau. Namun yang jelas rangkaian kisah2 di atas mengingatkan saya dengan ayat Al Quran surat 99:7-8 yang terjemahannya sbb.:
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Duh, gara2 sepotong lidi saja seorang kyai bisa tersendat masuk surga, apalagi klo kesalahannya sebesar gunung dan seluas samudera. Na'udzubillaah ya Allah.....astaghfirullaahal'azhiim...
Notes:
~ tolong dikoreksi ya kalau saya ada yang salah saat menceritakan kembali tulisannya Emha, masalahnya udah berbelas taun yg lalu saya baca tulisan itu.