Showing posts with label suratwasiat. Show all posts
Showing posts with label suratwasiat. Show all posts

Tuesday, January 19, 2010

Surat Wasiat.....Apaan Tuuuh....??!

Obrolan spontan antara saya dan anak2 dalam sebuah perjalanan pulang ntah dari mana (lupa...:-D):

Abdih: "Ibu, if both you and Ayah die, will I go to the orphanage?"
Ibu (confidently): "Ya engga dong Dek, kan masih ada Bi Aden, Nenek, Papa*), Ummi**). Adek, Abang dan Sajid kan bisa tinggal sama mereka"
Abdih: "Adek mau sama Bi Aden...!!"
Hanif: "Hanif mau sama Papa...!! Eh...sama bi Aden juga ding...."
Dasar anak2.....
*): their paternal grandfather
**): their paternal grandmother



Kalo sudah ngomongin masalah kematian memang suka takut dan sedih ya....Apalagi klo harus ngomonginnya sama anak2. Tapi ya mau gimana lagi, itu salah satu kenyataan hidup yang harus kita hadapi satu saat nanti. Walo ga pernah bener2 kepikir ke arah sana, tapi mau ga mau memang ternyata banyak hal yang harus disiapkan....ya iya lah....salah satu tujuan hidup kita kan memang kematian....:-)

Saat ngobrol sama anak2 itu, saya enteng banget mikir "kalo saya dan abang meninggal anak2 toh masih punya keluarga besar di Indonesia yang bakal ngurus mereka". Sama sekali ga kepikir hal2 lain ato masalah2 lain, saya selalu berpikir it'd be as simple as that. Anak2 tinggal dipulangkan ke Indonesia ketemu keluarga besar mereka di sana, hidup sama mereka. That's it...! Tapi kenyataannya tidak semudah itu, sodara2...! Paling tidak di Amrik sini ternyata kejadiannya takkan semudah itu. Seandainya orang tua meninggal dan anak2 tidak punya immediate family yang tinggal di sini, maka mereka akan menjadi tanggung jawab negara alias pengasuhan mereka akan diambil alih oleh pemerintah sampai keluarga terdekat mereka datang dan mengambil alih mereka. Oh...proses pengambilalihannya juga tidak akan semudah dan seotomatis itu...! Harus jelas paperworksnya...! Sudah datang ke sininya juga takkan mudah dan cepat, harus siap2 pula dengan berbagai macam paperworks...walaah...bakal ribet dan kompliketid dong deh pun..... 

Oleh sebab itulah maka betapa urgentnya buat kami untuk segera membuat surat wasiat....Surat wasiat...??!! duuuh betapa asingnya benda itu buat kami....Selama ini kan yg namanya surat wasiat itu cuman ada di dongeng2 dan film2. Itupun kesannya hanya untuk mereka yang punya harta benda nan banyak dan berharga yang cukup untuk anak-cucu tujuh turunan. Lah kami...?? Jangankan cukup untuk 7 turunan, bisa hidup cukup sehari2 saja sudah sujud syukur.....

Maka terkenjut kentutlah adik saya ketika pada suatu hari tanpa tedeng aling2 tanpa peringatan sebelumnya bahkan tanpa penjelasan apa2, tiba2 suami saya mengirimkan surat wasiat kami kepadanya dalam bentuk email attachment.....Diapun heboh bertanya pada saya "Ada apa? Kenapa? Bagaimana?...dst..."

Padahal penjelasannya as simple as that.....yah ga simple juga sih ya.... :-D Pokonya intinya sih surat wasiat itu kami buat karena kami ga tau kapan, di mana dan bagaimana kami akan meninggal. Kami ga punya harta benda, tapi kami punya 3 harta tak ternilai yang harus kami lindungi kesejahteraannya sepeninggal kami. Kami tidak mau hak pengasuhan mereka jatuh ke tangan orang2 yang tidak bisa kami percaya, dan kami tidak mau hidup mereka semakin sulit sepeninggal kami karena tidak ada orang2 yang mereka percaya yang akan mengasuh mereka, walau hanya untuk beberapa hari ataupun beberapa bulan saja. Yang terpenting yang kami cantumkan dalam surat wasiat itu bukan berapa banyak harta yang kami tinggalkan dan bagaimana pembagiannya....itu mah alhamdulillaah suda jelas ya pengaturannya dalam hukum waris Islam......Tapi yang terpenting adalah kami menunjuk legal gurdian(s) untuk anak2 kami yang berhak mengasuh mereka sepeninggal kami dan juga menunjuk siapa2 saja yang punya hak mengasuh mereka sebelum legal gurdian(s) itu datang ke sini untuk 'mengclaim' mereka. Intinya kami menitipkan mereka kepada salah satu keluarga muslim yang kami percaya-salah satu keluarga dari muslim community di sini-sebelum 'guardian angel' mereka (*blink2* Bi Aden....) datang untuk menjemput mereka kembali ke Indonesia. Walaupun pada kenyataannya bla-bla-bla dan blu-blu-blunya banyak, cukup jlimet dan dengan kata2 yang aduhai pula...tapi ya inti surat wasiat kami itu ya itu, cuman itu.

Duuh....tenggorokan saya tiba2 tercekat lagi nih....Ketika membaca draft surat wasiat tersebut pun, tak sadar mata saya menghangat. Betapa ternyata kematian itu begitu dekat, sedekat urat leher kita. Betapa memang kita harus mempersiapkan seluruh jiwa raga kita untuk itu. Hal-hil yang nampak nihil seperti surat wasiat ini adalah salah satunya. Kelihatan sepele dibanding dengan hal2 besar lain yang harus kita persiapkan menyambut datangnya hari H tsb., tapi kalau ingat kesejahteraan dan keselamatan anak2 kita yang jadi taruhannya, betapa ternyata surat wasiat itu juga penting sekali. Yah paling tidak penting untuk kami yang tinggal di negara ini yang peraturannya jauuuh berbeda dan relatif lebih kompliketid dibanding peraturan di negara kita. Kalau tidak salah dalam sebuah hadits Rasulullaah saw.pun menganjurkan kita untuk membuat surat wasiat (benarkah saya? cmiiw...!).

Saya sebenernya pengen berbagi cerita nyata tentang bagaimana akibat kekompliketidan hukum di sini membuat seorang anak kecil (usianya masih di bawah 10 tahun) yang terbaring tak berdaya di sebuah RS setelah sebuah kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya harus jatuh ke tangan State Custody karena orang tuanya tidak meninggalkan surat wasiat. Pamannya yg tinggal di Kanada harus menghire seorang lawyer untuk mendapatkan hak asuh atas anak tsb. Atau cerita nyata lain tentang seorang istri yang kehilangan hak asuh atas anak2nya setelah suaminya masuk penjara hanya karena akte kelahiran anak2 mereka tidak diakui keabsahannya oleh pemerintah di sini. Tapi kalau saya ceritakan semua sampai ke detail2nya nanti bakal tambah puanjang lagi dong 'artikel' saya ini......hehe...ini aja udah mulai pada bosen kan bacanya...? Jadi cukup garis besarnya saja ya sebagai gambaran. Gakkan keluar kok di ujian nanti....hehehehe....

Sekedar penutup dan fyi, surat wasiat itu akhirnya kami tanda tangani di depan 2 orang saksi sehari sebelum kami menempuh perjalanan panjang menuju Atlanta. Walaupun niat untuk membuatnya sudah cukup lama tapi perjalanan inilah yang mendorong kami segera melaksanakan niat tersebut. Pikiran kami saat itu: tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan tersebut, apalagi jarak yang harus kami tempuh saat itu suangatlah puanjang (kurleb 4400 miles pp). Namanya takdir, siapalah yang tahu. Walau alhamdulillaah kami akhirnya kembali dengan selamat ke Boise, tapi tetap saja tokh surat wasiat itu penting keberadaannya dan akan terus berlaku sampai maut menjemput kami. Nanti ke depannya tentu saja akan ada beberapa clausul yang harus diup-date disesuaikan dengan berbagai perubahan sikon