Showing posts with label nostalgia. Show all posts
Showing posts with label nostalgia. Show all posts

Monday, April 26, 2021

The Magic Words

Satu hal yang dipelajari oleh anak-anak kami dari masa kecil mereka di US adalah "the magic words", yaitu "please and thank you". Anak-anak Amerika sejak kecil selalu diajari untuk mengucapkan "please" setiap kali mereka meminta atau menanyakan sesuatu, dan mengucapkan "thank you" setiap kali mereka menerima sesuatu atau seseorang memberikan pertolongan kepada mereka dalam bentuk apapun. Pembiasaannya dimulai sejak mereka bisa mengucapkan their first words. Contoh pembiasaan yang paling umum dilakukan oleh ibu-ibu Amriki adalah tidak akan memberikan apapun kepada balita mereka sampai si balita mengucapkan "please". Pembiasaan ini kemudian dilakukan pula oleh guru-guru mereka di sekolah. (Oh...saya yakin tentunya anak-anak di Indonesia juga diajari dan punya kebiasaan yang sama 😊)

Hampir 7 tahun kemudian setelah kami pindah dari US, kebiasaan ini tetap menempel pada si Bungsu kami, Sajid Djunaedy, yang sekarang sudah mulai berkumis dan sudah lebih tinggi dari Ibunya😆 Mengucapkan "please" kadang dia suka lupa, tapi dia tidak pernah lupa sedikitpun untuk mengucapkan "thank you" setiap kali seseorang memberinya sesuatu atau setelah dia menerima pertolongan dari seseorang. Bahkan setiap kali dia selesai mengambil makanan di atas meja makan - tidak pernah absen dan tidak pernah lupa - ia selalu mengucapkan "Thank you, Ibu" (atau kalau Abangnya yang masak, "Thank you, Abang" 😄).

As simple as it may seem, as insignificant as it looks to some people, diam-diam saya merasa bersyukur karena kebiasaan ini tidak sedikitpun hilang dari hidupnya. Rabbi hablii minash shoolihiin 🤲💖

Monday, March 1, 2021

Ouf Friends, Our Community, Our Family

Once you're part of a community you will be part of that community forever no matter where you are now. When they lost someone among them, you mourn with them even though you are miles away from them. When a horrific tragedy happens amidst them, you also feel deeply saddened by it. 

I just came across this horrific tragedy that happened 2 years ago in Boise, around 6 years after we moved out of this beautiful memorable town. 

https://www.nwpb.org/2018/07/05/mother-of-boise-attack-victim-mourns-loss-of-daughter/

It happened to a single mother who came to Boise as a refugee with her then 6 months old baby. I couldn't help but picture myself being there with the Boise Muslim Community mourning the tragedy together (or to be precise: being shocked by it together with the community). As part of the community, she is one of us. Her sadness is our sadness. I would've been there helping her with whatever I could. The sisters and I would've been gathered in our masjid to plan something to help her cope with her loss.

Boise, a place that is so close to my heart, where my sons grew up, where I also grew up with them, where I made friends that after a while turned into something closer to extended family. 

**sekarang waktunya ganti persneling ke Bahasa Indonesia 😁**

Sebagain besar komunitas Muslim di Boise terdiri dari pengungsi dari berbagai negara. Ketika kami masih tinggal di sana, jumlah terbesar adalah pengungsi dari Afganistan, Somali, dan Bosnia. Selain meninggalkan negara mereka yang tengah ditimpa masalah besar, mereka juga tiba di Boise dengan membawa berbagai masalah mereka sendiri. Masalah keluarga, dan masalah psikologi dari dalam diri mereka sendiri. Yang kemudian hari setelah mereka cukup settled in tinggal di Boise, tidak jarang masalah-masalah tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk. Beberapa berakhir dengan perceraian dengan pasangannya, beberapa yang lain harus terus berhadapan dengan masalah perilaku anak-anaknya, dan sebagain lagi struggling dengan dirinya sendiri. 

Terjun langsung bergaul dan berhadapan dengan para pengungsi dan berbagai permasalahannya inilah justru yang menjadi salah satu penyebab kenapa saya sangat betah tinggal di Boise. Sebagai volunteer di Islamic Center of Boise saya harus berhadapan langsung dengan mereka, kalaupun tidak setiap hari, paling tidak 3 kali seminggu ketika saya mengajar mengaji anak-anak mereka di Sunday School atau mengajar ngaji para sisters setiap hari Jumat malam, atau saat ikut hadir untuk sholat Jumat. Dan ditambah pula dengan kesempatan bergaul lebih lama dengan mereka saat kami menghadiri Community Dinner yang diadakan sebulan sekali di masjid. 

~bersambung yaaa....


Friday, August 24, 2007

Singapore1997


Jalan2 di NUS, entah di depan gedung apa, lupa :-)

Bulan Juli 1997, Ibu, Hanif dan Ummi (neneknya Hanif, mamanya Ayah) pergi ke Singapore nganterin Ayah yang mau ngambil S2 di NUS. Saat itu Hanif baru berusia 9 bulan dan Ibu...ga usah lah disebutin usia Ibu ya, ga penting...hehe..Bittersweet juga sih jalan2 ke Singapur kali ini (emang dah berapa kali jalan2 ke sono Bu...? orang ini yg pertama kalinya...hehehe...). Satu sisi seneng banget bisa jalan2 ke Singapur (inilah pengalaman pertama Ibu ke luar negeri...:-D), sisi lain sedih juga krn jalan2nya dalam rangka perpisahan ...hiks..Berpisah dengan suami pula...hiks..hiks...Untuk setaun lamanya pula...hikshikshiiiks....Jadi kebayang kan ketika balik dari sana, walopun tangan penuh membawa belanjaan, tapi hati terasa hampa krn sebagian jiwaku tertinggal di sana....:(( (meni puitis nya...hehe..). Di erpot pas kami mo balik ke Jakarta, perpisahannya sih disiapkan untuk setauneun....eeeh...baru tiga bulan dah kurunyung lagi si ayah muncul di Bandung!...Ga kuku cenah harus lama2....Akhirnya yg katanya mo pisahan setaun teh hampir 4 bulan sekali ketemu!!...hahaha...Alhamdulillaah selalu ada aja rejekinya bwt ongkos pulang ;-)

Setaun kemudian, tepatnya tgl 28 Agustus 1998, alhamdulillaah, Ibu dan Hanif bisa nyusul Ayah ke sana (sayang keberangkatan kami tsb. tak tercatat dalam tinta sejarah krn ga punya kamera! Foto2 yg di bawah ini aja dapet make kamera pinjeman!!...hehe...), dan kamipun bisa berkumpul kembali dengan bahagianya, suwit2 lah pokonya ;-) Dan dari sinilah petualangan kami sekeluarga bermula. Cerita2 selanjutnya tentang petualangan kami tersebut, tunggu saja tanggal mainnya yaaa....;-)

Thursday, June 28, 2007

Singapore, 2000


Abdih dan ayah. Gemuk ya Abdih....;-)

Nemu foto2 jadul, waktu kami masih tinggal di Singapur. Kejadian di foto2 ini tepatnya kapan lupa, tapi yang jelas pastinya setelah April 2000, setelah kami-Ibu, Hanif dan Abdih-kembali lagi ke sana setelah melahirkan Abdih, Februari 2000. Ada Oom Romy, Mbak Endang, Mas Edy dan Li'l Zaza juga lhooo....;-) Kangen yaa masa2 ituu.....hiks...

Tommy Page - A Shoulder To Cry On




Lend your shoulder to cry on for anyone who needs it . . .
Anybody care to lend her shoulder for me to cry on ?..hehe......becanda Buu....;-) Tapi dianggap serius juga boleh deeh dengan senang hati....;-)

Thursday, March 29, 2007

tempat nongkrong dan ngobrol sambil bernostalgia

http://alumni.sman3-bandung.net
ayo, ayo, alumni sma3 Bandung yang belum ikutan, segera daptarkan diri anda, ajak juga temen, sodara, tetangga, oom, tante, adik, kakak, mama, papa, kakek, nenek, dlsb.