Reading begins and culminates in the successful use of the public library. This precious institution houses the literary, periodicals, records, cassettes, art productions, slides, film strips, movies, microfiche, microfilm as well as books that are now available for users of most public libraries. Considering these resources, the modern librarian plans extensive programs to serve the entire community.
For preschoolers, there are storytelling sessions, puppet shows, and a multitude of picture books on all kinds of subjects that appeal to youngsters. Programs are scheduled both with and without parents....(masih ada lanjutannya, tp cukup sampe di sini aja quotingnya).(I do apologize to the authors for not asking their permissions prior to quoting part of their book's contents. Peaeaeace deh.... 😆🙏)
Apa yang diungkapkan 2 paragraf tsb. terasa sekali kebenarannya di beberapa perpustakaan umum yg pernah kami kunjungi dan menjadi anggotanya.
Singapura. Public library di negeri singa inilah yang menjadi public library pertama di mana kami menjadi anggotanya. Even Hanif who was only 2 at the time had his own library card. Akhirnya public library menjadi salah satu tujuan wisata (gratis) kami. Bahkan klo saya sedang males nganter Hanif sekolah (he was still in PG), saya akan (dengan liciknya;-)) memberi option pada Hanif, mau sekolah ato ke library. Tentu saja dengan semangat dia jawab "Ke laikbeli!!" (library, maksudnya....maklum masih umur 2 taun jadi ngomongnya masih balelol...hehe...). Bagaimana tidak semangat dia klo dibawa ke library, pilihan buku anak2 (infants, toddler, preschooler hingga teenager) alangkah sangat banyaknya. Belum lagi suasana yang nyaman dan menyenangkan, bersih teratur, ruangan yang luas, dkk. dlsb. Singkat cerita, betapa menyenangkannya jalan2 ke public library.
Belanda. Sejak pengalaman pertama dengan public library di Singapur, akhirnya pindah ke Belanda pun kami tetap menjadikan public library sebagai salah satu tujuan wisata rutin keluarga. Namun sayang krn koleksi buku2nya sebagian besar adalah dalam bahasa Belanda, kunjungan kami ke public library di sana dikalahkan oleh seringnya kunjungan kami ke De Slegte (sebuah toko buku bekas yg ternyata tidak hanya ada di Eindhoven tapi juga di beberapa kota lain di Belanda. Jangan bayangkan toko buku bekas dengan kondisi bangunan kumuh dan buku2 yg jelek2 dan kotor...De Slegte ini ga kalah besar dan bersih serta teraturnya dengan Popular di Singapur....;-D). Namun demikian kunjungan kami ke public library tetap rutin kami lakukan. Oh ya suasana librarynya juga tidak kalah nyaman dan menyenangkannya dengan public library di Singapur.
Amerika. Idem ditto dengan 2 di atas. Di sini bahkan kami lebih semangat lagi pergi ke public library. Sajid saja sudah hapal jalan ke sana. Setiap kali kami melewati salah satu jalan protokol menuju library, dia akan berseru dengan gembiranya, "Ke laibbelli....!!Ke laibbeli, Thomas...." trus dia ngoceh dengan riangnya. Padahal belum tentu ke sana tujuan kami :-D Yang membuat kami semangat sekali krn pertama, untuk jadi member luar biasa mudahnya, tinggal isi formulir tanpa persyaratan apa2 tidak pula membayar satu senpun. Kedua, kami boleh pinjam buku sebanyak yang kami mau. Sama sekali ga ada batasan. Di Singapur dan Belanda yg jadi membernya bayar aja dibatasi jumlah buku yang boleh kami pinjam. Di sini, sama sekali tidak. Yang jadi batasan hanyalah kekuatan fisik kami untuk kemudian mengangkut buku2 yg kami pinjam dan ketebalan muka kami 😅 Akhirnya kami buat batasan sendiri, setiap kali datang ke library masing2 hanya boleh meminjam 5 buah buku. Selain berkunjung untuk pinjam buku, toddler storytelling*) menjadi tujuan lain kunjungan saya dan Sajid ke library seminggu sekali.
Pengalaman2 kami dengan beberapa public library di negara2 yg pernah kami jadikan tempat bermukim membuat saya punya cita2 untuk menjadikan public library di negara sendiri sebagai tempat kunjungan wisata yang menarik dan menyenangkan juga. Saya bermimpi suatu saat public library-di Bandung lah dulu-bisa diberdayakan, yaa ga usah lah terlalu ideal sama bagus dan 'mewah'nya dengan perpustakaan2 umum di negara2 maju tsb. Tapi setidaknya cukup memadai untuk bisa menarik penduduk terutama anak2 untuk senang berkunjung dan betah berada di dalamnya.
Ooh.....how I wish I could make my dream comes true. I've already had some ideas dancing around in my head, and I hope that one day I'd be able to put them into action. 😇
*) setelah baca buku ini saya baru tau klo 'story-telling' and 'story-reading' are two different things ;-)
telling sareng reading mah benten tebih rupina mah
ReplyDeletesama, library bagaikan rumah ke dua ;-))
ReplyDeleteSimkuring oge satuju upami pendidikan umumna sare perpustakaan khususna janten kautamian para pamingpin bangsa...
ReplyDeleteMugia kersa linggih ka:
a. http://sardjana.multiply.com/journal/item/23
b. http://sardjana.multiply.com/photos/album/24
c. http://sardjana.multiply.com/photos/album/21
hidup laibbwewi *sur ai mah*, ngiring ngado'akeun ah mugia teu hanya dugi ka dancing we :D. Didieu mah batas peminjamannya 35 buku atau kaset. Dan kami saminggu teh nya batas maksimal minjemna hehe maruk.
ReplyDeletesatu ini yang hilang dari kehidupan kami di tempat baru teh. persoalannya adalah transportasi. di tempat lama kita bisa nge bis, di sini jalan kejauhan euy....another reason to learn how to drive...
ReplyDeletedidukung teeeeeh kalo mo bikin public lib di tanah aer
ReplyDeletebeja beja nyaaa
ga sia-sia deh keliling negeri org.....minimal bs nambah bahan buat mimpi ya bu.....ditunggu pembukaan public library pimpinan bu lintang...
ReplyDeletewaaaa....samaaa neh cita2nyaaa....saya juga pengen buat mini library laaah...kalo ga bisa buat yang guede....kita gabungan yuuukkkk....
ReplyDeletesebenernya yg saya mimpikan itu bukan "membuat" library Mbak, tapi memberdayakan public lib yang sudah ada tapi kondisinya tidak memadai sehingga tidak membuat masyarakat tertarik untuk sering2 mengunjunginya. saya ingin pada akhirnya public lib ini juga jadi salah satu aset berharga pemda. begitu mimpinyaa...I know it sounds ridiculous to some people but...yah...that's what i dream of..;-)
ReplyDeletebetul sekali pak. semoga saja makin banyak impian makin bisa juga membuatnya jadi kenyataan. ditunggu deh support2nya...;-)
ReplyDeletesiiiip deh....;-)
ReplyDeleteayok ayok ayok semangat doong belajar nyetirnyaa.....berharga banget bisa nyetir di sini. semoga dimudahkan dan dilancarkan yaa...;-)
ReplyDeleteaamiin, diantos weee bantosannana....;-)
ReplyDeleteLeres pisan Pak Jaja, satuju. Kumaha carana ngarah engke mah dana pendidikan dan dana perpustakaan teh teu seueur ditilepna.....another dream....*sigh*
ReplyDeletebetah banget ya kak klo dah ada di dalamnya. kadang mabok liat buku segitu banyak, pengen bisa kebaca semua....;-)
ReplyDeletesumuhun puguh ge sim kuring teh nembe sadar bentenna teh tebih pisan. kedah diajar deui yeuh ngarah pinter janten storyteller instead of storyreader kangge barudak...;-)
ReplyDeleteLin, jadi inget perpust di sekolahan dulu :).. dibandingin dgn perpust di SMA saya, ya lebih bagus yg di SD-SMP. gk tau di SMA lintang. tapi di tpra sini, perpust nya jauuuuuhh lebih bagus lagi.. krn std amrik kali ya. jadi suka ngehayal juga, coba di bdg gitu perpust umum bisa dibikin kaya yg di sini juga...kan sik asik ya..
ReplyDeleteIh puguh ge iya Teh Belly jadi inget perpus sekolah kita dulu. Lumayan pisan da ya koleksi buku2nya. Saya termasuk yg betah di perpus sekolah kita dulu, dan hampir tiap 3 hari sekali berkunjung bwt balikin dan pinjem buku lagi. Buku ceritanya lumayan asyik2, trus inget juga ada koleksi buku2 basa inggris bwt anak2 yg lumayan bagus, suka minjem juga trus nanti di rumah minta dipangmacakeun sama Emak.....;-) apa kabarnya ya perpus kita itu sekarang, aya keneh teu nya? Kapan2 klo kita sempet ketemuan di Bandung, urang rencanain berkunjung ke sana rame2 yuuuk.....;-)
ReplyDeletewaaaah asyik banget perpusnya bagus kek gitu, jadi anak2 semangat kan ya berkunjungnya. hayuk atuh kita sama2 punya mimpi dan khayalan yang sama, sapa tau satu saat nanti kita bisa sama2 juga mewujudkannya.......;-)
ReplyDeleteIiih teteeh koq sama pisan sih mimpi kita, emang kita teh sehati ya teh, ciee ngaku2 hehe. Aku pernah nulis jg ttg perpustakaan impian, cuma ga diposting di MP, di blog satunya, ih pkkna mah meuni sama lah sama teteh mimpinya, ngaan daku mah pgnnya bikin di rumah sendiri..buat lingkungan sekitar rumah aja, klo bisa jd besar ya alhamdulillah, biar kecil asal mangpaat kitu tah teh niatna mah, kita saling mendoakan ya teh :-)
ReplyDeletefortunately i am not that people....;-) break a leg dear....mudah2an dream comes true yak....:))
ReplyDeleteLah emang iya kan kita selalu sehati......;-) ga ngaku2 kook....hehe....*hugs* (Agnes ga ngaku2, tapi Teteh nu ngaku2 selalu sehati.....hihihi....)
ReplyDeleteMbak Endaaaang.....big huuuggg.....thanks for your support yaaa.....;-)
ReplyDeletengiriiiiiiiiiiiiiiiiii...kacida si teteh ngahancurkeun hate abdi...hiks..hikss..di balikpapan mah kota minyak...yang katanya pang kaya na...tapi teuing aya perpus apa henteu.....sigana aya pernah juga kesanahhhhhh..tapi gitu deh..(tau ajah kan...). Alternatif ya ke gramedia...hiks...hiks... bukunya mahal mahal...cuma ita tetep harus mereketkeun maneh...kalau tidak makin tidak cintalah anak anak sama buku. Hikmah na kalau ada yang ngasih angpau ke anak anak...pasti mamahnya langsung promosi ke gramdi ya......mengenai library di belande ita juga baca curhatannya teh Agnes...hemmmm...asyiknya....
ReplyDeletehapunten geuliiiiisss....teu aya maksad....ari masalah janten hancur mah hate salira...eta mah resikooo....hehehehe....henteu atuh ah heureuy....Sok atuh Ta sugan tiasa dimulai memberdayakan perpus umum di Balikpapan. Disupport lah ku dua ti dieu...;-)
ReplyDeletehehehe, tapi takut buku2 pada ilang klo buka perpustakaan di indonesia.
ReplyDeletesusah nyari nya, soalnya penduduk nya juga gak terdaftar semua :P
Semoga dilancarkan niatnya mbak..barusan saya jg bermimpi sama suami buka perpustakaan kecil di rumah utk anak2..mengingat dulu waktu kecil pinjam buku di kelurahan lusuh2 dan berdebu heheh..terus spt digeletakkan begitu saja begitu pula waktu di SD :(.
ReplyDeleteTeteh lamaun ngaharapkan pemerintah mah...wah bisa tahun kapan, mau enggak mau harus memulai dari rumah...ngumpulin buku nya udah mulai di cicil...lemari kecil udah di sediakan...iklan gemar baca udah di kumandangkan plus di bantu sakola...tau tidak kendalanya selain masalah buku mahal.....hiks..hiks..itu de Rizqy pagawean ngawut ngawut lemari buku...belum lagi tapak gigitan dan robekan nya yang makin merajalela...he...he...suka perang tuh sama kaka kakanya....mamahhhhhhhhhhh buku ku di makan de Rizqy......
ReplyDeletebarudak oge dibumi tos dibiasakeun maca buku...
ReplyDeletebtw daramang Teh...?
Go Lintang, go Lintang gooo!
ReplyDeleteBu, saya dukung deh bu..bukan hanya sekedar dukung doa, tapi dukung lahir batin.
Ayo bu, sesegera mungkin diimplementasikan ya!
Eh btw, public library di bdg dimana ya?
Dulu mah saya seringnya ngubek buku di library kampus atau library ITB atau lgs aja ke palasari, mentok2nya di gramed & Gng Agung
Saya dulu suka nongkrong di Perpustakaan Bandung di Cikapundung itu (bener ya di sanan?). Gara2nya sih cari buku2 sastra lama buat tugas pelajaran Bahasa Indonesia waktu kelas satu SMA dulu. Memang perlu pengelolaan yang lebih profesional agar perpus2 di Indonesia lebih bagus.
ReplyDelete