Tuesday, January 19, 2010

Mengenang kembali kejadian itu.....

Tanggal 22 Desember tahun ini akan genap 31 tahun Bapak meninggal. Menjelang 'peringatan' hari bersejarah (yang sebetulnya tidak perlu diperingati itu), saya tiba2 teringat dengan sebuah tulisan yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa saya tidak pernah mempublish tulisan ini. Mungkin saat itu saya masih malu menceritakan salah satu kisah masa lalu saya kepada khalayak ramai. Tapi setelah saya baca2 lagi, ternyata lumayan juga  buat hiburan....:-D Maka akhirnya saya putuskan saja untuk mempublishnya sekarang 

Selamat menikmati...! 
*********************************************************************************

Jumat Sore, 19 Desember 1980

"Atos lah teu kedah mapageun Bapa nya? Bapa uih nyalira we. Mending jajan we ieu ku Bapa dipasihan artos 5000"
(Ga usah ngejemput Bapa lah, Bapak pulang sendiri aja. Mending juga jajan nih Bapak kasih uang 5000)

Kecewa sekali karena rencana kami untuk menjemput Bapak dan sekalian jalan2 ke Cirebon urung dilaksanakan hanya karena tiba2 Bapak berubah pikiran dengan alasan yang ga jelas. Tapi seneng juga dapat imbalan uang 5000 rupiah (5000 rupiah saat itu kan waaaah banyak sekalliii yaa....) Sudah terbayang2 dengan segala macam benda dan makanan yg bisa dibeli dengan uang sebanyak itu. Maka kami berempat pun mengiyakan sambil tertawa gembira menerima uang 5000 rupiah tersebut.

Sabtu dini hari, 20 Desember 1980

Lepas sholat shubuh kami sekeluarga melepas Bapak pergi ke Cirebon. Bapak pergi dijemput oleh mobil travel 4848 langganannya. Seperti biasa klo melepas Bapak pergi, saya harus memeluk perutnya yg mulai sedikit membuncit....heemmm...rasanya nyamaaan sekali...sambil mencium bau khas Bapak....
Oh ya Bapak pergi ke Cirebon untuk tugas bulanannya (atokah 3 bulanan?ah saya sudah lupa ternyata....) mengajar di sebuat universitas swasta di sana sebagai dosen tamu. Selalunya beliau pergi Sabtu pagi dan kembali ke Bandung Minggu sore. Dari waktu ke waktu sambil jalan2 kami biasanya ikut pergi mengantar atau hanya menjemput beliau diantar Kang Nana ato Kang ....hemm...lupa lagi supir kami yg satu lagi setelah Kang Nana mengundurkan diri itu. Pokonya begitulah, acara menjemput atau ikut bersama Bapak tugas ke luar kota adalah acara yg sangat menyenangkan buat saya dan kakak2 saya saat itu. Tapi tidak wiken ini, krn seperti yg sudah saya ceritakan di atas tiba2 Bapak membatalkan rencana kami menjemput beliau

Minggu sore, 21 Desember 1980

Harusnya pukul 3 sore Bapak sudah pulang, tapi sudah pukul 4 sore yang ditunggu tak kunjung datang. Saya sudah luar biasa gelisahnya, ga pernah dalam sejarah saya menunggu kepulangan Bapak saya segelisah ini. Sampai Emak, ibu saya, pun cemas melihat kegelisahan saya yang luar biasa. Hingga akhirnya beliau meminta Kang Ilan, kakak sulung saya, dan Kang Dodo, kakak sepupu kami yg tinggal bersama kami saat itu, untuk menemani saya jalan2 ke Secapa sekalian Kang Ilan yang saat itu masih kelas 2 SMP belajar motor di sana.

"Jug Delilin jalan2 heula, engke Delilin uih Bapak tos aya di bumi" (Delilin pergi jalan2 aja dulu, nanti pulang ke rumah Bapak sudah ada), begitu Emak berkata pada saya (kalimat2 pertamanya saya ga ingat lagi).

Pergilah saya ditemani Kang Ilan dan Kang Dodo dengan riang gembira karena merasa yakin bahwa nanti pulang dari jalan2 Bapak pasti sudah ada di rumah.

Menjelang maghrib kami pulang, saya yang sudah riang gembira dalam perjalanan pulang harus kecewa ketika sampai di rumah ternyata Bapak masih belum pulang juga....

Mandi...
Sholat Magrib...
Makan malam....
Masih belum juga datang....Air panas yg sudah Emak siapkan sejak sore, sudah dididihkan kembali untuk yang kedua kalinya.
Menjelang tidur....
Belum pulang juga...
Dan kamipun pergi tidur dengan perasaan sedih dan kecewa

Senin dini hari, 22 Desember 1980

Tengah terlelap tidur, tiba2 saya terkejut bangun mendengar suara ribut2 di lantai bawah rumah kami. Ketika lari keluar kamar, melihat ke bawah ke ruang tamu, saya lihat emak tengah menangis dikelilingi beberapa orang teman baik Bapak dan Wa Eban, kakak sulung Emak. Hati saya tersentak seketika, "Ini pasti ada apa2 dengan Bapak....!"
Sayapun lari turun sambil menangis dan berteriak2 memanggil Bapak. Sesampainya di bawah saya langsung lari ke pelukan Wa Eban...Entah dari mana saya mendengarnya, tapi kemudian saya tahu bahwa Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil travel yang ditumpanginya bertabrakan dengan sebuah bis di daerah pinggiran Sumedang.

Setelah reda menangis, saya dan kakak2pun disuruh sholat shubuh. Selesai sholat saya sempatkan berdoa memohon kepada Allah semoga Bapak selamat, tidak kurang satu apapun. Saya ingat betul sambil melipat mukena saya terus membisiikkan doa itu sambil melihat ke luar jendela kamar, dan nun jauh di sana saya melihat sebuah lampu berkelip2. Saat itu dalam benak saya lampu itu seperti secercah harapan yang membuat saya yakin Allah mendengar doa saya, dan saya yakin Bapak pasti selamat

Saya tidak ingat betul apa saja yang terjadi selanjutnya, kejadian yang masih segar dalam ingatan saya hanyalah rumah yang tibak2 penuh sesak oleh tamu2 yang terus berdatangan, dan saya yang luar biasa kebingungan dengan semua kejadian ini. Mengapa kami tak kunjung pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak? Kenapa justru kami harus berdiri di sini di ruang tamu menerima setiap tamu yang tak henti2nya berdatangan?Kenapa Emak terus2an sedih dan menangis setiap ada tamu yang datang dan menyalaminya? Sayapun tak henti2nya merengek minta segera pergi ke rumah sakit. Sampai akhirnya datanglah orang2 memanggul jenazah yg kemudian ditempatkan tepat di tengah2 ruang tamu kami. Saya semakin bingung dengan kehadiran jenazah di ruang tamu itu. Jenazah siapakah itu? Kenapa Bapak kecelakaan bukannya kami pergi ke rumah sakit untuk menengoknya, malah tiba2 saja datang jenazah orang lain ke rumah kami? Rengekan sayapun semakin menjadi. Sehingga akhirnya beberapa orang - saya ga ingat lagi siapa - menghampiri saya, dan bertanya:

"Delilin hoyong ka Bapak? Yuk atuh urang ningali Bapak yuk..."

Betapa gembiranya saya karena akhirnya ada yang mau mendengar keinginan saya dan mau memenuhinya. Tapi saya jadi heran ketika seorang dari mereka malah menggendong saya menghampiri jenazah di tengah ruangan itu. Dan seorang yang lain bersiap2 untuk membuka kain kafannya. Tentu saja saya ketakutan dan minta mereka untuk tidak membukanya......Ah saya makin bingung....makin sedih.....makin ga menentu...kepala saya jadi sakit sekali. Sayapun akhirnya memilih naik ke lantai atas dan main dengan sepupu2 saya. Sambil bermain saya merasakan kepala semakin berdenyut. 

Kurang lebih pukul 10 pagi jenazah tersebut kemudian disholatkan. Selesai sholat kamipun bersiap2 untuk mengantarkan jenazah ke kuburan. Saya masih belum mengerti kenapa kami harus mengantarkan jenazah yang entah siapa itu, dan bukannya pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak. Saya, Emak dan salah satu kakak perempuan saya pergi bersama dalam satu mobil. Mobil salah satu sahabat Bapak, Wa Ami (Ami Raksanagara) dan Wa Iyus (Yus Rusyana). Di dalam mobil sebelum berangkat, Wa Ami menyodorkan nasi bungkus pada kami sambil berkata,

"Tadi enjing2 saur Bapak kedah tuang heula...bla..bla..." 

(ga ingat lagi omongan Wa Ami selanjutnya, hanya kalimat pertama itulah yang saya ingat betul sampai sekarang. Akibat mendengar kata2 itulah keyakinan saya bahwa Bapak selamat semakin kuat).

Sepanjang perjalanan saya menghibur diri, bahwa kami akan pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak setelah pemakaman selesai (saat itu saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa jenazah tersebut (mungkin) adalah jenazah teman Bapak yg meninggal dalam kecelakaan tersebut. Tapi keukeuh ga ngerti kenapa kami harus ikut memakamkannya, sementara Bapak kami 'telantarkan' di rumah sakit). Sampai saat inipun saya tidak mengerti apa sebabnya saya tidak bertanya sedikitpun tentang keberadaan jenazah tersebut.

Sampai di pemakaman - nampaknya sih sedang persiapan penguburan - saya ditemani oleh sahabat Bapak yang lain, Mang Agus (alm). Saya ingat betul beliau ngasih saya coklat yg sudah meleleh, tapi saya seneng sekali krn dia ngasih coklat meleleh tersebut sambil melucu dan ga berhenti ngajak saya ngobrol. Kemudian - nampaknya sih proses penguburan sudah selesai - saya tiba2 dipanggil mendekati kuburan (entah oleh siapa, ga ingat lagi). Seseorang menyodorkan setumpuk bunga dan botol air putih. Saya menerima keduanya sambil bertanya2 dalam hati kenapa saya disodori benda2 tersebut . Kata2 yg kemudian diucapkan orang inilah yg membuat dunia saya seolah terbalik, membuat saya merasa langit runtuh di atas kepala saya (hal yang paling ditakutkan oleh orang2 Galia di komik Asterix bukan...? dan saat itu saya benar2 merasakan apa yang selalu mereka takutkan itu). Tiba2 saya merasa seperti balon kempes yang melayang2 hampa di udara. Saya ingin menangis meraung2 menggali kembali kuburan yang masih basah di hadapan saya ketika saya mendengar orang itu berkata,
"Sok ayeuna Delilineun ngadua di kuburan Bapak...." (Sok sekarang giliran Delilin berdoa di kuburan Bapak)
APA...??!! KUBURAN BAPAK....??!! KENAPA...??!! JADI...??!!Jadi selama ini.....jadi semua harapan2 saya sejak saya berdoa selesainya sholat shubuh tadi pagi...........
Saya hanya bisa menunduk lemas dan lunglai sambil menangis terisak-isak........

Berbagai "kenapa"pun mulai menari2 di kepala saya. Kenapa bisa jadi begini? Kenapa semua terjadi seperti ini...? Kenapa bisa Bapak yang tadi pagi masih baik2 saja sekarang tiba2 meninggal, tiba2 sudah dikubur? Kenapa Bapak yang tadi pagi masih berpesan kepada Wa Ami agar kami tidak lupa sarapan, sekarang tiba2 meninggal?

Pertanyaan2 itu terus berputar di kepala saya. Bertahun2 pertanyaan2 itu berusaha saya jawab sendiri. Dengan berjalannya waktu dan semakin matangnya pemahaman saya, sayapun akhirnya bisa menjawab sendiri pertanyaan2 tersebut tanpa harus mengungkapkannya pada seseorang.

Pertanyaan2 itu tidak pernah saya ungkapkan pada siapapun...bertahun2....hingga hari ini saya memutuskan untuk mengungkapkannya. Walopun saya sudah ga butuh lagi jawaban dari pertanyaan2 tsb. tapi semoga saya bisa lega karena akhirnya sekarang saya bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya di hari Bapak meninggal. Setelah 29 tahun berlalu......

** Semoga setelah mengungkapkan semua ini harapan2 konyol yg sering muncul di hati saya bahwa Bapak is still alive somewhere out there dan satu saat akan muncul di hadapan kami akan hilang tuntas ga ada lagi di pikiran (gila) saya...
** I found out a few years later that due to the impact of the accident my father's face was quite unrecognizable. That's probably why none of us were allowed to see his body. It also made me wondering how they could tell that it was my dad's body. Nobody ever told me what really happened after the accident. I, on the other hand, never bothered to ask anybody. It's another reason for me to have the nagging thought in the back of my head all those years that somehow Bapak was still alive somewhere out there. Silly me.....!!

No comments:

Post a Comment