Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Tuesday, January 19, 2010

Mengenang kembali kejadian itu.....

Tanggal 22 Desember tahun ini akan genap 31 tahun Bapak meninggal. Menjelang 'peringatan' hari bersejarah (yang sebetulnya tidak perlu diperingati itu), saya tiba2 teringat dengan sebuah tulisan yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa saya tidak pernah mempublish tulisan ini. Mungkin saat itu saya masih malu menceritakan salah satu kisah masa lalu saya kepada khalayak ramai. Tapi setelah saya baca2 lagi, ternyata lumayan juga  buat hiburan....:-D Maka akhirnya saya putuskan saja untuk mempublishnya sekarang 

Selamat menikmati...! 
*********************************************************************************

Jumat Sore, 19 Desember 1980

"Atos lah teu kedah mapageun Bapa nya? Bapa uih nyalira we. Mending jajan we ieu ku Bapa dipasihan artos 5000"
(Ga usah ngejemput Bapa lah, Bapak pulang sendiri aja. Mending juga jajan nih Bapak kasih uang 5000)

Kecewa sekali karena rencana kami untuk menjemput Bapak dan sekalian jalan2 ke Cirebon urung dilaksanakan hanya karena tiba2 Bapak berubah pikiran dengan alasan yang ga jelas. Tapi seneng juga dapat imbalan uang 5000 rupiah (5000 rupiah saat itu kan waaaah banyak sekalliii yaa....) Sudah terbayang2 dengan segala macam benda dan makanan yg bisa dibeli dengan uang sebanyak itu. Maka kami berempat pun mengiyakan sambil tertawa gembira menerima uang 5000 rupiah tersebut.

Sabtu dini hari, 20 Desember 1980

Lepas sholat shubuh kami sekeluarga melepas Bapak pergi ke Cirebon. Bapak pergi dijemput oleh mobil travel 4848 langganannya. Seperti biasa klo melepas Bapak pergi, saya harus memeluk perutnya yg mulai sedikit membuncit....heemmm...rasanya nyamaaan sekali...sambil mencium bau khas Bapak....
Oh ya Bapak pergi ke Cirebon untuk tugas bulanannya (atokah 3 bulanan?ah saya sudah lupa ternyata....) mengajar di sebuat universitas swasta di sana sebagai dosen tamu. Selalunya beliau pergi Sabtu pagi dan kembali ke Bandung Minggu sore. Dari waktu ke waktu sambil jalan2 kami biasanya ikut pergi mengantar atau hanya menjemput beliau diantar Kang Nana ato Kang ....hemm...lupa lagi supir kami yg satu lagi setelah Kang Nana mengundurkan diri itu. Pokonya begitulah, acara menjemput atau ikut bersama Bapak tugas ke luar kota adalah acara yg sangat menyenangkan buat saya dan kakak2 saya saat itu. Tapi tidak wiken ini, krn seperti yg sudah saya ceritakan di atas tiba2 Bapak membatalkan rencana kami menjemput beliau

Minggu sore, 21 Desember 1980

Harusnya pukul 3 sore Bapak sudah pulang, tapi sudah pukul 4 sore yang ditunggu tak kunjung datang. Saya sudah luar biasa gelisahnya, ga pernah dalam sejarah saya menunggu kepulangan Bapak saya segelisah ini. Sampai Emak, ibu saya, pun cemas melihat kegelisahan saya yang luar biasa. Hingga akhirnya beliau meminta Kang Ilan, kakak sulung saya, dan Kang Dodo, kakak sepupu kami yg tinggal bersama kami saat itu, untuk menemani saya jalan2 ke Secapa sekalian Kang Ilan yang saat itu masih kelas 2 SMP belajar motor di sana.

"Jug Delilin jalan2 heula, engke Delilin uih Bapak tos aya di bumi" (Delilin pergi jalan2 aja dulu, nanti pulang ke rumah Bapak sudah ada), begitu Emak berkata pada saya (kalimat2 pertamanya saya ga ingat lagi).

Pergilah saya ditemani Kang Ilan dan Kang Dodo dengan riang gembira karena merasa yakin bahwa nanti pulang dari jalan2 Bapak pasti sudah ada di rumah.

Menjelang maghrib kami pulang, saya yang sudah riang gembira dalam perjalanan pulang harus kecewa ketika sampai di rumah ternyata Bapak masih belum pulang juga....

Mandi...
Sholat Magrib...
Makan malam....
Masih belum juga datang....Air panas yg sudah Emak siapkan sejak sore, sudah dididihkan kembali untuk yang kedua kalinya.
Menjelang tidur....
Belum pulang juga...
Dan kamipun pergi tidur dengan perasaan sedih dan kecewa

Senin dini hari, 22 Desember 1980

Tengah terlelap tidur, tiba2 saya terkejut bangun mendengar suara ribut2 di lantai bawah rumah kami. Ketika lari keluar kamar, melihat ke bawah ke ruang tamu, saya lihat emak tengah menangis dikelilingi beberapa orang teman baik Bapak dan Wa Eban, kakak sulung Emak. Hati saya tersentak seketika, "Ini pasti ada apa2 dengan Bapak....!"
Sayapun lari turun sambil menangis dan berteriak2 memanggil Bapak. Sesampainya di bawah saya langsung lari ke pelukan Wa Eban...Entah dari mana saya mendengarnya, tapi kemudian saya tahu bahwa Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil travel yang ditumpanginya bertabrakan dengan sebuah bis di daerah pinggiran Sumedang.

Setelah reda menangis, saya dan kakak2pun disuruh sholat shubuh. Selesai sholat saya sempatkan berdoa memohon kepada Allah semoga Bapak selamat, tidak kurang satu apapun. Saya ingat betul sambil melipat mukena saya terus membisiikkan doa itu sambil melihat ke luar jendela kamar, dan nun jauh di sana saya melihat sebuah lampu berkelip2. Saat itu dalam benak saya lampu itu seperti secercah harapan yang membuat saya yakin Allah mendengar doa saya, dan saya yakin Bapak pasti selamat

Saya tidak ingat betul apa saja yang terjadi selanjutnya, kejadian yang masih segar dalam ingatan saya hanyalah rumah yang tibak2 penuh sesak oleh tamu2 yang terus berdatangan, dan saya yang luar biasa kebingungan dengan semua kejadian ini. Mengapa kami tak kunjung pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak? Kenapa justru kami harus berdiri di sini di ruang tamu menerima setiap tamu yang tak henti2nya berdatangan?Kenapa Emak terus2an sedih dan menangis setiap ada tamu yang datang dan menyalaminya? Sayapun tak henti2nya merengek minta segera pergi ke rumah sakit. Sampai akhirnya datanglah orang2 memanggul jenazah yg kemudian ditempatkan tepat di tengah2 ruang tamu kami. Saya semakin bingung dengan kehadiran jenazah di ruang tamu itu. Jenazah siapakah itu? Kenapa Bapak kecelakaan bukannya kami pergi ke rumah sakit untuk menengoknya, malah tiba2 saja datang jenazah orang lain ke rumah kami? Rengekan sayapun semakin menjadi. Sehingga akhirnya beberapa orang - saya ga ingat lagi siapa - menghampiri saya, dan bertanya:

"Delilin hoyong ka Bapak? Yuk atuh urang ningali Bapak yuk..."

Betapa gembiranya saya karena akhirnya ada yang mau mendengar keinginan saya dan mau memenuhinya. Tapi saya jadi heran ketika seorang dari mereka malah menggendong saya menghampiri jenazah di tengah ruangan itu. Dan seorang yang lain bersiap2 untuk membuka kain kafannya. Tentu saja saya ketakutan dan minta mereka untuk tidak membukanya......Ah saya makin bingung....makin sedih.....makin ga menentu...kepala saya jadi sakit sekali. Sayapun akhirnya memilih naik ke lantai atas dan main dengan sepupu2 saya. Sambil bermain saya merasakan kepala semakin berdenyut. 

Kurang lebih pukul 10 pagi jenazah tersebut kemudian disholatkan. Selesai sholat kamipun bersiap2 untuk mengantarkan jenazah ke kuburan. Saya masih belum mengerti kenapa kami harus mengantarkan jenazah yang entah siapa itu, dan bukannya pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak. Saya, Emak dan salah satu kakak perempuan saya pergi bersama dalam satu mobil. Mobil salah satu sahabat Bapak, Wa Ami (Ami Raksanagara) dan Wa Iyus (Yus Rusyana). Di dalam mobil sebelum berangkat, Wa Ami menyodorkan nasi bungkus pada kami sambil berkata,

"Tadi enjing2 saur Bapak kedah tuang heula...bla..bla..." 

(ga ingat lagi omongan Wa Ami selanjutnya, hanya kalimat pertama itulah yang saya ingat betul sampai sekarang. Akibat mendengar kata2 itulah keyakinan saya bahwa Bapak selamat semakin kuat).

Sepanjang perjalanan saya menghibur diri, bahwa kami akan pergi ke rumah sakit untuk menengok Bapak setelah pemakaman selesai (saat itu saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa jenazah tersebut (mungkin) adalah jenazah teman Bapak yg meninggal dalam kecelakaan tersebut. Tapi keukeuh ga ngerti kenapa kami harus ikut memakamkannya, sementara Bapak kami 'telantarkan' di rumah sakit). Sampai saat inipun saya tidak mengerti apa sebabnya saya tidak bertanya sedikitpun tentang keberadaan jenazah tersebut.

Sampai di pemakaman - nampaknya sih sedang persiapan penguburan - saya ditemani oleh sahabat Bapak yang lain, Mang Agus (alm). Saya ingat betul beliau ngasih saya coklat yg sudah meleleh, tapi saya seneng sekali krn dia ngasih coklat meleleh tersebut sambil melucu dan ga berhenti ngajak saya ngobrol. Kemudian - nampaknya sih proses penguburan sudah selesai - saya tiba2 dipanggil mendekati kuburan (entah oleh siapa, ga ingat lagi). Seseorang menyodorkan setumpuk bunga dan botol air putih. Saya menerima keduanya sambil bertanya2 dalam hati kenapa saya disodori benda2 tersebut . Kata2 yg kemudian diucapkan orang inilah yg membuat dunia saya seolah terbalik, membuat saya merasa langit runtuh di atas kepala saya (hal yang paling ditakutkan oleh orang2 Galia di komik Asterix bukan...? dan saat itu saya benar2 merasakan apa yang selalu mereka takutkan itu). Tiba2 saya merasa seperti balon kempes yang melayang2 hampa di udara. Saya ingin menangis meraung2 menggali kembali kuburan yang masih basah di hadapan saya ketika saya mendengar orang itu berkata,
"Sok ayeuna Delilineun ngadua di kuburan Bapak...." (Sok sekarang giliran Delilin berdoa di kuburan Bapak)
APA...??!! KUBURAN BAPAK....??!! KENAPA...??!! JADI...??!!Jadi selama ini.....jadi semua harapan2 saya sejak saya berdoa selesainya sholat shubuh tadi pagi...........
Saya hanya bisa menunduk lemas dan lunglai sambil menangis terisak-isak........

Berbagai "kenapa"pun mulai menari2 di kepala saya. Kenapa bisa jadi begini? Kenapa semua terjadi seperti ini...? Kenapa bisa Bapak yang tadi pagi masih baik2 saja sekarang tiba2 meninggal, tiba2 sudah dikubur? Kenapa Bapak yang tadi pagi masih berpesan kepada Wa Ami agar kami tidak lupa sarapan, sekarang tiba2 meninggal?

Pertanyaan2 itu terus berputar di kepala saya. Bertahun2 pertanyaan2 itu berusaha saya jawab sendiri. Dengan berjalannya waktu dan semakin matangnya pemahaman saya, sayapun akhirnya bisa menjawab sendiri pertanyaan2 tersebut tanpa harus mengungkapkannya pada seseorang.

Pertanyaan2 itu tidak pernah saya ungkapkan pada siapapun...bertahun2....hingga hari ini saya memutuskan untuk mengungkapkannya. Walopun saya sudah ga butuh lagi jawaban dari pertanyaan2 tsb. tapi semoga saya bisa lega karena akhirnya sekarang saya bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya di hari Bapak meninggal. Setelah 29 tahun berlalu......

** Semoga setelah mengungkapkan semua ini harapan2 konyol yg sering muncul di hati saya bahwa Bapak is still alive somewhere out there dan satu saat akan muncul di hadapan kami akan hilang tuntas ga ada lagi di pikiran (gila) saya...
** I found out a few years later that due to the impact of the accident my father's face was quite unrecognizable. That's probably why none of us were allowed to see his body. It also made me wondering how they could tell that it was my dad's body. Nobody ever told me what really happened after the accident. I, on the other hand, never bothered to ask anybody. It's another reason for me to have the nagging thought in the back of my head all those years that somehow Bapak was still alive somewhere out there. Silly me.....!!

Sunday, June 7, 2009

Sayapun menangis bersama mereka...

Hari ini 2 kali saya harus mengucapkan bela sungkawa untuk sahabat2 tercinta saya nun jauh di Negeri Singa sana. Saya ikut menangis ketika jari2 saya mengetikkan kata2 bela sungkawa untuk mereka. Bukan, bukan karena saking inginya saya bersimpati terhadap mereka. Kalaulah saya menangis, itu karena saya benar2 bisa merasakan apa yang tengah mereka rasakan saat ini. Saya bisa merasakan besarnya kehilangan yang tengah mereka rasakan sekarang. Karena sayapun pernah mengalaminya lebih dari 28 tahun yang lalu.....kehilangan seorang ayah...menyakitkan sekali....Sayapun menangis bersama mereka.

Sisi baik dalam diri saya ikut merasakah kesedihan mereka dan menangis bersama mereka. Tapi sulit rasanya mengingkari kenyataan bahwa sisi jahat dalam diri saya berbisik, "You are more fortunate than I am. Kalian diberi kesempatan untuk hidup lebih lama dengan bapak2 kalian. How lucky you are...."
Kalau saya ikuti bisikan2 jahat dalam hati saya, ingin rasanya saya berteriak, "IT'S NOT FAIR!! Kenapa saya harus kehilangan bapak saya jauh lebih dulu dari kalian...!!"

Tapi saya ingin jadi muslim yang beriman, saya takut lupa diri dan terjerumus mengikuti bisikan2 syaithan tersebut. Maka sayapun banyak2 beristighfar.....


Saturday, July 19, 2008

Masih Tentang Menunggu Nih...

Lima minggu sudah berlalu sejak Abang wawancara (wawancara yg kenyataannya adalah security check) dengan MOM Singapur (Ministry Of Manpower yg ngurus2 masalah employment pass, work permit dan sejenisnya), tapi sampai detik ini belum ada juga keputusan dari mereka apakah EP (Employment Pass) application Abang itu ditolak atau disetujui. Lebih dari 3 bulan sudah berlalu sejak calon employer abang masukkin aplikasi tersebut (18 April 08)....sudah lama sekallliii....Padahal proses yg normal yg MOM janjikan katanya hanya makan waktu antara 1 sampai 5 minggu sajah (liat deh disini). 1 minggu klo aplikasinya online, dan 5 minggu kalo lewat pos. Cal-em suamiku ternyata applynya  online, berarti klo berdasarkan janji MOM mestinya dalam 1 minggu pun EP suamiku dah beres...yaaah mundur2 bolehlah jadi 2-3 minggu...tapi lebih dari 12 minggu...??? Udah keterlaluan lamanya itu namanya..!!!

Tiga minggu pertama keterlambatan (prior to the interview) ternyata diakibatkan oleh kesalahan teknis (klo ga bisa dibilang kesalahan konyol) yang dilakukan oleh MOM. Jadi ternyata yg terjadi adalah si MOM ngirim surat undangan interview ke alamat yang salah..!! Si empunya alamat kemudian ngembaliin surat itu plus notice "no such person" attached. Kembali si MOM ngirim lagi surat tsb. ke alamat yg sama, balik lagi si empunya alamat ngembaliin ke MOM dengan notice yang sama. Balik lagi si MOM untuk yg ketiga kalinya ngirim lagi surat itu ke alamat tsb. Setelah dibalikkin buat yg ketiga kalinya ini barulah MOM mengirimkan surat tsb. ke alamat calon employer Abang. Kemudian si cal-em langsung memforward surat itu saat itu juga ke Abang via imel. Akibat kejadian ini aja kami sudah rugi waktu kurang lebih 3 minggu.....

Kami kira setelah wawancara kami ga usah nunggu terlalu lama lagi sampai MOM ngambil keputusan. Malah awalnya kami sudah siap2 untuk diberi keputusan saat itu juga ato selang satu-dua hari kemudian sebelum Abang balik ke Amerika.....Tapi kenyataannya.....hiks....

Banyak sekali rencana2 yg gagal akibat tersendatnya proses ini. Pertama, tentu saja rencana Abang untuk mulai kerja awal Juni sama sekali ga bisa terlaksana. Semoga saja si cal-em masih mau menunggu sampai kapanpun MOM ngasih keputusan...yang mana daripadanya dari hari ke hari kami mulai meragukan kalo mereka mau nunggu lebih lama lagi....

Rencana kedua yg gagal adalah sekolah anak2. Tadinya sih kami maunya masukkin anak2 sekolah di SG bersamaan dengan dimulainya term baru di sana yaitu tgl 23 Juni. Rencana awalnya malah kami mau beberapa minggu sebelum masuk sekolah itu anak2 ikut tuition dulu bwt persiapan placement test. Tentu saja rencana inipun gagal total, yang ada sekarang saya deg2an banget takut ga sempet lagi masukkin mereka sebelum tahun ajaran berakhir di sana. Yang paling kami takutkan adalah Hanif yg supposedly masuk Primary 5 taun ini di sana. Klo sampai terlambat masuk dan harus nunggu taun depan berarti taun depan Hanif harus masuk Primary 6 yang mana daripadanya ga mungkin samsek krn sekolah di Singapur samsek tidak menerima murid baru untuk P6...!!! Turun lagi ke P5..?? Kasian banget Hanif ketinggalan jauh, krn di sini aja dia yg tadinya awalnya pengen masuk Grade 5 harus turun ke Grade 4 gara2 ulang taunnya yg terlambat (Oktober, sementara taun ajaran mulai Agustus, jadi dia dianggap blm cukup umur untuk masuk Grade 5...padahal cuman beda 2 bulan...!!!).

Rencana gagal ketiga adalah masalah rumah, gara2 status kami yg mengambang ini, yg tadinya kami mau menyewa rumah seorang teman yang pindah dari Singapur ke negera lain akhirnya harus rela melihat rumah itu disewakan ke orang lain. Bukan apa2, klo nyewa dengan kawan kan harga di bawah pasaran dan paling penting lagi ga usah bayar deposit dan biaya agent.... Lokasi rumahnya pun cukup dekat dengan calon kantor Abang, jadi ga akan keluar ongkos banyak, pasar (katanya) dekat, sekolah anak2pun (katanya) dekat pula, dan setelah checking2 di inet ternyata dekat pula dengan salon khusus muslimah.....hehehe...Ah dasar bukan rejeki...!! Kami cukup sesak napas dan menyesal krn ga jadi menyewa rumah tsb. tapi yg lebih bikin ga enak lagi adalah kawan kami itu sudah menolak beberapa calon penyewa gara2 menunggu kami, sampai ahirnya lewat masa mereka pindah pun kami belum ada kepastian juga....hiks..hiks...hiiiksss..Sungguh ga enak hati ga enak bodi....

Itu masalah rencana2 kami yg gagal akibat status EP yg ga jelas ini. Masalah lain yg bikin ga enak lagi adalah masalah dengan employer Abang di sini. Gara2 kondisi kami sekarang ini yg maju kena mundur kena, merekapun jadi ikut2an maju kena mundur kena...eh salah deng maksudnya maju engga mundur engga...Mereka maunya segera mencari calon pengganti Abang di sini, tapi krn Abang yg masih ga jelas kapan mau resign....diapun jadinya ga jelas kapan mau mulai mengiklankan lowongan kerja. Ditambah lagi visa H1B Abang yg habis bulan Desember ini. Untuk memperpanjang visa dia harus sudah mulai apply bulan Agustus nanti.

Soo...at the end of the day kami harus ngambil keputusan: "That's it..!! We can't wait any longer. Whether you'll approve it or not we will just back off. Good bye Singapore...!"
Cuman masalahnya kapan kami harus (dan mau) mengatakan itu ke pihak MOM, akhir bulan ini? Awal bulan depan? Pertengahan bulan depan? Ato kapan..? Bingung deeh.....

Semoga saja istikharah2 kami bisa menuntun kami untuk ngambil keputusan...





Friday, November 23, 2007

Entah Apa Judulnya

Mereka tertawa gembira.
Mereka tersenyum bahagia.
Akhirnya apa yang selalu mereka inginkan dan harapkan hampir terpenuhi. Tapi tahukah mereka apa yang sebenarnya saya rasakan? Tidakkah mereka ingin tahu apa yang saya inginkan, apa yang menjadi harapan2 saya.....?😭

Tuesday, June 19, 2007

Apa salahnya sih jadi full-time-housewife? (buat yang bosen dengan topik ini simply skip aja ga usah dibaca...;-))

(catatan redaksi ;-): bwt yg niat mo baca, please baca sampai tuntas tas tas, jg hanya baca  paragraf2 awal, sehingga apa yang ingin saya sampaikan betul2 tersampaikan dengan baik)

Pagi ini saya ceting
(di mana lagi klo bukan di YM, wahana ceting semilyar umat..hehe...) dengan my dear cousin , seneng sekali setelah bertaun2 ga ketemu (emm saya lupa taun lalu waktu pulang ke Bandung apa saya sempat ketemu ato ngga dengannya. Rasanya sih engga, klo perasaan saya ini benar berarti terakhir saya ketemu dengannya adalah sekitar awal taun 2005. Leres teu Ceu Eneng?) bisa kontak lagi dengannya. Dia adalah salah satu sepupu yang sangat dekat dengan keluarga saya, selain memang sekarang ini tinggalnya berdekatan (with the rest of my family in Bandung I meant, not with me...:-(), sejak kecilpun kami diberi kesempatan buat bermain bersama, apalagi setelah dia hijrah ke Bandung buat kuliah, makin lengket deh walo ga selengket perangko...hehehe...garing..!!

Ngobrol ngalor-ngidul mostly about the children, akhirnya sampailah kami pada topik klasik
tentang ibu rumah tangga yang baik dan benar (begitu menurut istilah dia..:-D). Dia curhat tentang pandangan orang2 di sekitarnya yang masih begitu sinisnya terhadap orang2 seperti kami yang memilih irt-yang-baik-dan-benar sebagai jalan hidup kami. Sebagian orang masih menganggap bahwa tinggal di rumah jadi irt yang baik dan benar sebagai keterpurukan, keterbelakangan dan hanya membuat otak jadi tumpul sehingga percumalah ilmu2 yang pernah kami pelajari di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Dia-sepupu saya ini-merasa saya lebih beruntung karena saya jadi irt yang baik dan benar di negeri orang sehingga tidak perlu mendengar dan menerima komentar2 miring tersebut (secara langsung mungkin tidak, tapi saya bisa merasakannya dari sikap beberapa orang terhadap saya, kecuali perasaan saya salah tentu saja ;-)). Saya jadi teringat setaun yang lalu ketika saya pulang ke Bandung saya pernah menerima kata2 menyebalkan seperti itu yang keluar dari mulut manis salah seorang sepupu ipar saya (and it's not for the first time that I heard these kind of comments,mind you). Kurang lebih beginilah yang dia katakan pada saya waktu itu,
"Neng Lilin, meni lebar nya Mak Ida (my mom, red.) teh tos nyakolakeun luhur2 teu kaanggo, tungtungna mah ngan cicing di bumi we wungkul...!" (terjemahan bebas: "Neng Lilin, sayang ya mak Ida udah nyekolahin tinggi2, akhirnya cuman tinggal di rumah aja!")

Oh my, how sick and tired I am of hearing such a stupid and ignorance comment!! Buat saya komentar seperti ini udah ga jaman lagi, kampungan, stupid..harre genneee gitu loookh....masih punya pikiran seperti itu...!! Apa sih rendahnya jadi full-time-mom dibandingkan dengan working-mom? Apa sih hebatnya jadi working-mom dibanding jadi full-time-mom? Apa karena kami-barisan full time moms-hanya sibuk ngurusin urusan dapur, rumah dan anak2 saja..? Apa karena kami hanya bisa ongkang2 kaki menikmati dan menghabiskan duit suami? Believe it or not, paltid 2 orang full time moms yang saya kenal pernah menerima kata2 seperti ini, what a cruel remark to make!! But then what's wrong with that??!! Apa salahnya menikmati duit suami? Show me one single ayat or hadits yang mengatakan bahwa seorang istri diHARAMkan untuk menikmati duit suaminya. Lha wong memang sudah kewajiban seorang suami untuk menafkahi istri dan anak2nya kok. Salah kalo kami, para ibu yang ga ikut kerja nyari duit simply because what our husbands earn is enough to cover all our needs, menikmati duit hasil jerih payah suami2 kami? Tolong tunjukkan di mana salahnya.

Ok fine, sometimes a long time ago sayapun sempat merasa terpuruk krn akhirnya saya harus jadi full time housewife, terkungkung dalam dinding2 rumah yang membatasi saya dengan perkembangan dan kemajuan dunia luar (ehm seolah2.....). Tapi saya sangat bersyukur karena saya bisa bangkit dari keterpurukan, kemudian insyaf dan akhirnya memutuskan bahwa inilah jalan hidup yang saya pilih. This is exactly what I want to do for the rest of my life.


Saya kemudian malah bersyukur bahwa saya tidak harus bekerja di luar rumah dan tidak terkungkung oleh keinginan untuk mengaktualisasikan diri dalam bentuk bekerja di luar rumah.
Saya bahkan pernah berharap dan berdoa semoga saya tidak pernah terjebak dalam satu keadaan yang memaksa saya harus bekerja di luar rumah! (untuk para working-moms yang tidak punya pilihan lain selain bekerja untuk membiayai hidup keluarganya, sungguh saya mohon maaf klo saya merasa beruntung dan bersyukur saat ini saya tidak-dan semoga tidak akan pernah-ada dalam posisi seperti itu).

Saya tidak peduli kalo kemudian ada yang mengatakan bahwa pilihan saya untuk jadi full time mom jauh lebih mulia dibanding klo saya memilih jadi working mom, saya juga tidak tahu apakah pilihan saya ini akan menjadi ladang pahala yang besar untuk saya. Yang saya tahu dan jadi kepedulian saya hanyalah bahwa saya tidak bisa membayangkan suatu saat saya harus berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggunjawabkan semua yang sudah saya lakukan untuk anak2 saya. Dan saya lebih tidak bisa membayangkan lagi bahwa suatu saat kelak ANAK2 SAYA akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatan2 mereka selama hidup di dunia!! Sungguh tidak terbayangkan klo saya tidak mempersiapkan mereka sebaik2nya sekarang, bagaimana mungkin mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatan2 mereka dengan baik kelak di hadapanNya. Mereka tidak pernah minta untuk saya lahirkan, sayalah (oops, kami-saya dan suami-maksudnya) yang menginginkan, meminta dan kemudian melakukannya sehingga dengan izin dan kehendak Allah mereka hadir di dunia ini. Lalu masih tegakah saya meninggalkan mereka untuk bekerja HANYA dengan alasan ingin mengaktualisasikan diri, HANYA dengan alasan saya merasa terpuruk cuman jadi ibu rumah tangga biasa saja. Doing something for society?? I AM doing something for society!! Bukankah saya saat ini tengah mempersiapkan anak2 saya untuk kelak bisa dan mampu jadi anggota masyarakat yang bermanfaat? Lagipula saya masih selalu bisa melakukan sesuatu tanpa harus berjauh2 dan berlama2 meninggalkan anak2 saya.


Btw, klo suatu saat anda melihat atau mendengar saya bekerja, kemungkinannya ada dua, saya berubah pikiran atau kami memang betul2 lagi butuh duit tambahan!!....

Saturday, February 10, 2007

Senyum Dong Teh................


Di sebuah tanjakan yang agak menikung dalam perjalanan ke dan dari sekolah Hanif dan Abdih, kami selalu berpapasan dengan seorang Teteh Amerika yang juga tengah mengantarkan dua orang anaknya ke sekolah. Sekolah anak2nya yang jaraknya lebih dekat baik dari rumah kami maupun dari rumah mereka dibanding sekolah Hanif dan Abdih, membuat arah perjalanan kami jadi berlawanan. Saya dan anak2 ke arah timur dia dan anak2nya ke arah barat. Tapi bisa dipastikan kami hampir selalu berpapasan setiap pagi saat mengantar anak2 atau sore hari sehabis menjemput mereka. Ga tau gimana asal muasal kejadiannya, saya betul2 ga ingat dan juga ga tau, akhirnya saya dan teteh tersebut setiap kali berpapasan selalu saling tersenyum sambil melambaikan tangan, seolah2 kami sudah pernah berkenalan dan sudah pula berteman. Padahal gimana bisa kami berkenalan, bertemu muka langsung paamprok jonghok pun kami belum pernah!! Dia selalu asyik dengan langkahnya yang selalu tergesa2 saya pun asyik dengan setir di dalam mobil.

Kejadian semacam ini pernah juga saya alami ketika kami tinggal di Eindhoven beberapa taun yang lalu. Setiap kali mengantar dan menjemput Hanif sekolah saya harus melewati sebuah perempatan jalan. Nah, di perempatan jalan ini saya selalu bertemu dengan seorang ibu Belanda yang juga mengantar dan menjemput anaknya setiap hari. Sekolah anak ibu Belanda ini letaknya tidak terlalu jauh dari perempatan tsb. Rumah mereka pun hanya berjarak beberapa belas meter dari perempatan itu. Entah bagaimana pula asal muasalnya, setiap kali saya melewati perempatan itu dan berpapasan dengan ibu Belanda tsb., kami selalu saling melambaikan tangan dan tentu saja saling melemparkan senyum, saya sambil mengayuh sepeda dan dia sambil melenggang berjalan kaki. Pernah suatu kali karena satu dan lain hal saya harus jalan kaki ke sekolah Hanif, begitu melewati rumah si ibu Belanda, tanpa saya sadari (disadari sih sebetulnya, krn saya suka iseng sambil lewat rumah2 orang Belanda trus nengok sedikit, saya seneng sekali liat rumah mereka yang manis2 dan rapi2), saya nengok ke arah rumah si ibu, eh...ternyata si ibu sedang berdiri tepat di depan jendela rumahnya melihat ke arah luar. Dan ketika saya menengok itu si ibu langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum, secangkir kopi tapi mungkin juga teh-yang jelas keliatannya hangat-di tangannya.

Kejadian yang lain saya alami di masjid, di Islamic Center of Boise. Suatu hari saya dan salah seorang jamaah masjid, seorang ibu Bangladesh, tengah asyik ngobrol. Tiba2 datang seorang Teteh mendekati kami, jamaah masjid juga, yang rupanya teman si ibu Bangladesh. Maka diperkenalkanlah saya pada si Teteh ini. Basa-basi sebentar, kemudian kami kembali pada kesibukan masing2. Beberapa hari kemudian ketika datang lagi ke masjid bertemu mukalah saya dengan si Teteh, karena merasa sudah berkenalan dan sudah pula berbasa basi beberapa hari sebelumnya, dengan manisnya saya lemparkan senyum padanya. Tapi...oow...si Teteh tidak membalas senyum saya, bahkan dia sedikit menengokkan kepalanya ke arah lain. Oke no problemo. Minggu depannya saya berjumpa lagi dengan si Teteh di masjid yang sama, saya ucapkanlah salam padanya sambil tersenyum, "Assalamu'alaykum" begitu.......Namun...oow...dia tak membalasnya lagi! Bahkan membalas senyum sayapun tidak!! Ok deh my dear, enough is enough, dua kali dicuekkin kekih dong saya......Sambil bertanya2 dalam hati ada apakah gerangan?What did I do wrong? Apakah salah saya padanya?

Tapi yah sudahlah.............bumi tak berhenti berputar karenanya tokh? Tapi.........sedih juga euy................Kecewa gitu loh mbakyu! Apalagi klo inget dua kejadian yang saya ceritakan di dua paragraf pertama di atas. Saya tidak bisa untuk tidak membandingkan kejadian yang saya alami di masjid dengan dua kejadian tersebut. Saya dan si teteh Masjid kan sama2 muslim yaa...........sesama muslim kan katanya bersodara............Sementara si teteh Amerika dan si ibu Belanda? Mereka kan...........emm.......dari gelagatnya siih mereka non-muslim, tapii........dari ketulusan senyum dan lambaian tangan mereka............mestinya siiih muslim.......