Showing posts with label petualanganhidup. Show all posts
Showing posts with label petualanganhidup. Show all posts

Monday, March 1, 2021

Ouf Friends, Our Community, Our Family

Once you're part of a community you will be part of that community forever no matter where you are now. When they lost someone among them, you mourn with them even though you are miles away from them. When a horrific tragedy happens amidst them, you also feel deeply saddened by it. 

I just came across this horrific tragedy that happened 2 years ago in Boise, around 6 years after we moved out of this beautiful memorable town. 

https://www.nwpb.org/2018/07/05/mother-of-boise-attack-victim-mourns-loss-of-daughter/

It happened to a single mother who came to Boise as a refugee with her then 6 months old baby. I couldn't help but picture myself being there with the Boise Muslim Community mourning the tragedy together (or to be precise: being shocked by it together with the community). As part of the community, she is one of us. Her sadness is our sadness. I would've been there helping her with whatever I could. The sisters and I would've been gathered in our masjid to plan something to help her cope with her loss.

Boise, a place that is so close to my heart, where my sons grew up, where I also grew up with them, where I made friends that after a while turned into something closer to extended family. 

**sekarang waktunya ganti persneling ke Bahasa Indonesia 😁**

Sebagain besar komunitas Muslim di Boise terdiri dari pengungsi dari berbagai negara. Ketika kami masih tinggal di sana, jumlah terbesar adalah pengungsi dari Afganistan, Somali, dan Bosnia. Selain meninggalkan negara mereka yang tengah ditimpa masalah besar, mereka juga tiba di Boise dengan membawa berbagai masalah mereka sendiri. Masalah keluarga, dan masalah psikologi dari dalam diri mereka sendiri. Yang kemudian hari setelah mereka cukup settled in tinggal di Boise, tidak jarang masalah-masalah tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk. Beberapa berakhir dengan perceraian dengan pasangannya, beberapa yang lain harus terus berhadapan dengan masalah perilaku anak-anaknya, dan sebagain lagi struggling dengan dirinya sendiri. 

Terjun langsung bergaul dan berhadapan dengan para pengungsi dan berbagai permasalahannya inilah justru yang menjadi salah satu penyebab kenapa saya sangat betah tinggal di Boise. Sebagai volunteer di Islamic Center of Boise saya harus berhadapan langsung dengan mereka, kalaupun tidak setiap hari, paling tidak 3 kali seminggu ketika saya mengajar mengaji anak-anak mereka di Sunday School atau mengajar ngaji para sisters setiap hari Jumat malam, atau saat ikut hadir untuk sholat Jumat. Dan ditambah pula dengan kesempatan bergaul lebih lama dengan mereka saat kami menghadiri Community Dinner yang diadakan sebulan sekali di masjid. 

~bersambung yaaa....


Sunday, March 29, 2009

Life is a matter of choice. Is it..?

Life is a matter of choice. Sampai detik ini saya masih yakin dengan ungkapan itu. Memang betul kemudiannya (kemudiannya...? bahasa apa iniih..?..hehe..) banyak sekali kejadian2, peristiwa2, tanda2, yg akhirnya melatarbelakangi dibuatnya sebuah keputusan yang akan menjadi pilihan2 dalam hidup kita. Dan seringkali kejadian, peristiwa2 ataupun tanda2 tersebut di luar kuasa kita bahkan tidak jarang di luar keinginan dan harapan kita, hanya Allah lah yang ternyata mengatur semuanya.

Seperti yang pernah saya dengar (baca, sebenernya) seseorang katakan, saya lebih melihat kehidupa ini bukan seperti permainan catur tapi lebih mirip dengan permainan blackgammon. Kalau dalam permainan catur kan langkah setiap pion sudah ditentukan dan pasti. Raja hanya boleh melangkah begini, Ratu hanya boleh melangkah begitu, dst. Sementara dalam blakgammon kita bebas menentukan langkah, each with its own consequences leading to win or lose at the end of the game. Kenyataan bahwa kita ga pernah tau apa yang ditakdirkan oleh Allah untuk kita (not even in the case of when, where or how we're gonna die) membuat kita bebas untuk memilih jalan hidup ataupun bagaimana kita berperilaku di dunia ini (dengan konsekuensi2nya sendiri tentu saja). Apalagi di dalamnya ada faktor keinginan dan harapan yang kemudian terkemas dalam bentuk doa.

Is it predestined that we have to live in Boise? Nobody knows, not even us. Tapi kejadian2 yang kami alami prior to our departure from Singapore led us to finally make a decision to move back to Boise. Kenyataan bahwa Hanif dan Abdih begitu sulitnya diterima di sekolah di Singapur. Kenyataan bahwa Hanif dan Abdih (dan juga saya ? ) ga betah tinggal di sana karena faktor sekolah, lingkungan, gaya hidup, dsb. Semua itu membuat kami mulai berpikir untuk mencoba kembali lagi ke Boise. Kejadian terakhir yang paling menentukan adalah kenyataan bahwa akibat krisis ekonomi global posisi Abang di tempat kerjanya di Singapura terancam, semakin membuat kami membulatkan tekad untuk pindah kembali ke Boise. Apakah di dalamnya juga ada faktor doa yang kemudian membuat jalan kami untuk pindah kembali ke Boise seolah dimudahkan? Wallaahu'alam.

Lalu bagaimana kejadiannya sampai akhirnya kami memutuskan untuk pindah dari Boise ke Singapura? Kejadian2 apa saja yang menggiring kami mengambil keputusan itu?
Tunggu laporan lengkap selanjutnya...!