Ga sabar nunggu sampai hari Minggu, hari Jumat Hanif dan Abdih udah heboh menyerahkan mother's day gifts yang udah mereka bikin dan persiapkan beberapa hari sebelumnya bersama guru dan teman2nya di sekolah.
"Happy early mother's day, ibu" seru mereka dengan manisnya.
Duuuh ibu jadi terharuuuu banget. Makasih ya sayang2ku. Hadiahnya manis2 banget. Ini bukan mother's day pertama yang ibu lewatkan bersama mereka, dan bukan juga mother's day pertama di mana mereka sibuk menyiapkan kado jauh2 hari sebelumnya bersama teman2 dan guru2nya di sekolah. Tapi tetep aja perasaan ibu selalu sama, seneng, bahagia, dan lebih2 terharu. Terharu dengan perhatian mereka, anak2 ibu. Ternyata mereka punya cinta yang besar untuk ibu. Selama ini ibu selalu merasa ibulah yang paling pandai dan paling menyayangi mereka. Kasih sayang mereka ga ada apa2nya dibanding rasa sayang dan cinta ibu untuk mereka. Tapi setiap kali hari ibu tiba ibu seperti diingatkan kembali, bahwa mereka juga punya rasa sayang dan cinta yang mungkin sama besarnya dengan rasa sayang dan cinta ibu buat mereka.
Ibu jadi teringat peribahasa yang mengatakan, "kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa". Setelah punya anak, apalagi setelah mereka pandai mengungkapkan kasih sayang mereka pada ibu, seringkali ibu mempertanyakan kebenaran peribahasa tersebut. Kadang ibu jadi merasa betapa egoisnya bunyi peribahasa itu. Tidakkah peribahasa tsb. menunjukkan keangkuhan yang luar biasa dari seorang ibu. Benarkah kasih seorang anak hanya sepanjang galah? "Sepanjang galah" itu kan untuk menggambarkan betapa kasih sayang seorang anak terhadap ibu atau orang tuanya sangatlah terbatas. Bandingkanlah dengan "kasih ibu sepanjang masa", menunjukkan betapa kasih sayang seorang ibu tidak berbatas, tak kan pernah hilang.
Melihat anak2 ibu sekarang rasanya ibu tidak tega untuk menuduh mereka punya kasih sayang yang hanya sepanjang galah buat ibu (dan juga ayah). Mungkin dengan berlalunya waktu dengan beranjaknya mereka dewasa kasih sayang itu akan mengalami perubahan cara pengungkapan, bukan, sekali lagi, bukan berkurang!! Ibu tengok hati ibu sendiri, kemudian bertanya pada diri sendiri, apakah rasa cinta dan sayang ibu untuk nenek dan aki Dudu telah hilang ataupun berkurang dengan berlalunya waktu dan bergantinya masa?Jawabnya adalah tidak!! Sampai kapanpun ibu akan terus mencintai dan menyayangi nenek dan aki Dudu, dan rasa ini tidak pernah berkurang sedikitpun sejak dulu. Maka, ibu rasa begitu pulalah dengan anak2 ibu (dan bahkan mungkin dengan seluruh-atau okelah kita bilang sebagian besar-anak2 di dunia ini). Bukankah kebutuhan mereka akan kehadiran ayah dan ibu saja sudah merupakan bukti rasa cinta dan sayang mereka pada kami?
macaan heula ah..sebelum melototin kertas, nyari inspirasi sekaligus penguat hati. Teh...asa haru macana...
ReplyDelete