Showing posts with label abdih. Show all posts
Showing posts with label abdih. Show all posts

Saturday, August 25, 2007

Hanif, Abdih dan NBA

Abdih : "Ibu, I wish I was in college now"
Ibu     : "Why?"
Abdih : "So that I can play for the NBA"
Ibu     :" Hmmm........"

****
Hanif : "Ibu, kata Ibu kan Hanif boleh jadi apa aja yang penting sholeh, iya kan?"
Ibu    : "Iya, terus..?"
Hanif : "Hanif mau jadi NBA player Ibu..."
Ibu    : "Hmmm, hmmm....."
Ibu lagi : "Ok, tapi walo bagaimanapun Hanif harus ke college dulu. Setelah itu let's see.... Yang penting Ibu mau Hanif harus ke college dulu." (maksa ih si Ibu...hehe...)
Hanif : "Oke.."

****
Hanif : "Ibu, I wanna go to college here in the US"
Ibu    : "NBA kan..?"
Hanif : "Hehe...." sambil tersipu2.

****
Suatu hari setelah baca buku biografi salah satu pemain NBA bernama Kevin Garnett yang dia pinjam dari perpus sekolah,
Hanif (dengan mimik muka 'penuh kemenangan') : "Ibu, do you know? Kevin Garnett skipped college! He went straight to NBA!"
Ibu (dengan nada tegas)  : "So....?! What did you mean by that? You don't wanna go to college either?"
Hanif (tersipu2) : "Emm...engga siiih...."


******
Entah sejak kapan anak 2 itu tergila2 sama yang namanya bola basket. Padahal dulu, sejak heboh Piala Dunia 2002 sampai beberapa bulan pertama setelah kami pindah ke sini, soccer was always their fav! Yang kemudian menimbulkan ide2; "Hanif mau jadi pemain sepak bola" atau "Hanif mau jadi wasit sepak bola". Awal2 mereka sekolah di sini, guru2 mereka, temen2 mereka (baik yang sekelas maupun yang tidak), bahkan beberapa orang ibu dari temen2 mereka, begitu hafalnya dengan hobi Hanif dan Abdih ini. Karena setiap recess ga ada lain yang mereka mainkan selain sepak bola. Berteman pun dengan anak2 yang cinta sepak bola. Entah angin apa dan dari mana yang menghembuskan ide bola basket ke telinga mereka. Klo cuman hobi sih ga papa, ini pake pengen pula jadi pemain NBA. Serius pula (ternyata) keinginannya itu. Kayaknya ga ada hari tanpa ngomongin NBA, pemain2 NBA, NBA draft dan entah apalagi lah istilahnya, ga ngerti! Pokonya Ibu dah mulai kewalahan dengernya!

Sampai berapa lamakah obsesi mereka untuk jadi pemain basket dan kemudian jadi pemain NBA (dipikirnya gampang jadi pemain NBA....) akan bertahan? Apakah kemudian nasibnya akan sama dengan obsesi mereka untuk jadi pemain bola yang terlupakan setelah mereka berpindah ke lain hati? I have no idea!! Kita lihat saja nanti gimana perkembangan selanjutnya. Klo boleh jujur, Ibu sih berharap semoga it won't last long..!!


Tuesday, August 21, 2007

My Silly Abdih

 Suatu hari di meja makan,
Abdih : "Ayah, the food is going down my asparagus"
Ayah (sambil mengerutkan kening dan nahan tawa) : "Asparagus?? Where is your asparagus...?"
Abdih (sambil nunjuk tenggorokannya) : "Here...."
Ayah (sambil ngakak) : "Ooooh...you meant esophagus..!"
Badih...Badih...

*****

Ibu lagi asyik kencan dengan neng Kokom di ruang belajar. Hanif, Abdih dan Sajid tengah asyik main di ruang depan. Krn khawatir Sajid kenapa2 tanpa pengawasan Ibu, maka Ibu berpesan pada Hanif dan Abdih,
"Hanif, Abdih, can you keep an eye on Sajid for me pleaeaeaea....s"
"Oke Ibu...", sahut keduanya.
Ga lama kemudian, Hanif muncul di pintu ruang belajar, laporan,
"Ibu, Abdih jagain Sajid sambil matanya ditutup satu!"
Saking asyiknya Ibu kencan sama neng Kokom ga sempat lagi Ibu mikir panjang dan mencerna dengan baik omongan Hanif tsb. Tanpa babibu lagi langsung aja Ibu meradang,
"Kenapa Abdih seperti itu sih!! Kan udah Ibu bilang bwt jagain Sajid!"
Ibu pikir Abdih sedang-seperti biasa-pasang aksi gangguin Sajid dan ga mau jagain Sajid seperti yang Ibu minta.
Sambil nyengir Hanif kemudian bilang,
"Kan Ibu tadi bilang supaya "keep AN eye on Sajid", jadi sekarang Abdih tutup satu matanya sambil jagain Sajid"
Ibu yg sudah bener2 melepaskan perhatian dari Neng Kokom jadi ikutan nyengir sekaligus ngakak deh...Emang bisa ya nyengir sekaligus ngakak...hehehe...Ya bisa aja deh, namanya juga Ibu ;-) Ngakak krn baru sadar dengan kekonyolan Abdih, nyengirnya karna malu sendiri, belum2 udah main hantam aja marah2!

Thursday, June 28, 2007

Singapore, 2000


Abdih dan ayah. Gemuk ya Abdih....;-)

Nemu foto2 jadul, waktu kami masih tinggal di Singapur. Kejadian di foto2 ini tepatnya kapan lupa, tapi yang jelas pastinya setelah April 2000, setelah kami-Ibu, Hanif dan Abdih-kembali lagi ke sana setelah melahirkan Abdih, Februari 2000. Ada Oom Romy, Mbak Endang, Mas Edy dan Li'l Zaza juga lhooo....;-) Kangen yaa masa2 ituu.....hiks...

Saturday, June 23, 2007

He learned it the hard way.....:-(

Sudah seminggu ini Abang Hanif ikut Basketball Camp yang diadakan di sebuah elementary school ga jauh dari rumah kami. Sejak awal-krn tau mereka lagi tergila2 dengan basket-Ibu sudah mau akan daftarin Hanif dan Abdih dua-duanya, Ibu sudah pula isi formulir pendaftaran berikut nulis cek buat bayar. Begitu Ibu konfirmasi dengan Abdih, ternyata dia tidak mau ikut!! Padahal itu formulir pendaftaran dan cek udah Ibu masukkan dalam amplop dan siap Ibu poskan. Setelah berkali2 Ibu yakinkan Abdih klo dia memang bener2 ga mau ikut ( yang ujung2nya dia keluarkan senjata: "Ibu, kan katanya ga boleh paksa...!"), akhirnya ya sudah Ibu buka lagi amplopnya, Ibu keluarkan form punya Abdih dan Ibu ganti ceknya hanya bayar buat satu orang aja. Di depan kantor pos, sesaat sebelum Ibu poskan amplop berisi form dan cek tsb., Ibu kembali nanya Abdih lagi,
"Are you sure you don't wanna join?"
"Ibuu....don't push me pleeease.." begitu jawabnya.
Ya udah lah daripada dibilang maksa dia, dan dia ikutan juga krn terpaksa, Ibu biarin aja apa maunya dia. Heran juga sih kenapa kok dia ga mau ikut, ditanya apa sebabnya ga mau ikutpun dia ga bisa jawab, pokoknya ga mau aja, gitu katanya.

Hari2pun berlalu, setiap kali pulang latihan, Hanif selalu heboh cerita tentang apa yang sudah dia lakukan dan apa yang dia dapat dalam latihan basket hari itu. Lama2, ini si krucilku yang satu ini, ngacay juga dong dengernya. Tiba2 aja kemaren, beberapa jam setelah Abangnya pulang latihan, dia menghampiri Ibu di dapur dan dengan terbata2 menahan tangis dia bilang gini,
"Ibu, I wish I joined the basketball camp!"
Nah lo...bener kaan...nyesel deh dia sekarang...... Tapi trus tiba2,
"Ibu siiih....kenapa dulu paksa Ade....!"
"Loh...kenapa Ade jadi nyalahin Ibu...?Kan dulu Ade sendiri yang ga mau ikut. Ibu udah mau daftarin Ade kok...."
"Iya, trus Ibu paksa Ade, jadi aja Ade ga mau ikut....!"
What...!! He's decided not to join the camp, and now he regret it, and then blame it on me!! Minta ampun deh anak ini...!

Langsung dong Ibu meradang....hehehe.....Keluarlah ceramah panjang dari mulut Ibu....Diawali kembali tentu saja dengan kata2, "Kenapa Ade nyalahin Ibu sih...?!", dan kemudian berlanjut dengan bla bla bla dan blu blu blu. Intinya sih Ibu pengen dia menyadari konsekwensi dari pilihan yang udah dia buat, klo kemudian dia menyesali keputusan itu ya jangan nyari kambing hitam! Itu pertama, keduanya Ibu pengen Abdih mau mengakui kesalahannya sendiri dan tidak berusaha melempar kesalahan itu pada orang lain (yang mana daripadanya cukup sering dia lakukan). Bagaimana mungkin dia bisa memperbaiki diri klo mengakui kesalahan saja dia ga mau. Ketiga, Ibu ingin Abdih belajar bangkit dari penyesalan dan kekecewaan. Menyesali apa yang sudah terjadi itu ga ada gunanya, krn kita ga mungkin membalik waktu. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah mencoba memperbaiki keadaan yang kita sesali telah terjadi itu. There'll always be next time, and hopefully next time will be better.

Yang bikin Ibu cape adalah, mencoba menjelaskan itu semua dengan bahasa yang bisa Abdih mengerti. Udah gitu pula sebelum Ibu sampai pada satu, dua dan tiga di atas, Ibu wanted to make it clear why pushing him TO join the camp made him blame me now that he regreted his decision NOT TO join. Berkali2 Ibu berusaha menjelaskan ke dia dengan bahasa yang sesederhana mungkin that it simply doesn't make sense. Logikanya mestinya dibalik, klo dulu Ibu paksa Ade untuk TIDAK join, Ade boleh nyalahin Ibu sekarang, but not the other way around. Susah sekali membuat dia bisa ngerti logika ini. Berkali2 pula Ibu nanya kenapa Ade sekarang nyalahin Ibu, di mana salahnya Ibu. Kenapa harus sampai berkali2 pertanyaan itu Ibu tanyakan padanya, krn berkali2 juga dia ga bisa tau apa jawabannya...hehe.. Yang pada akhirnya dia jawab juga dengan lugunya,
"You make it hard for me to make a decision..."
Huaaah apa ga pengen ngakak Ibu...... Tapi Ibu tahan dong ketawanya, orang lagi berwibawa gitu koook..masa tiba2 ngakak....hehehe...Apa coba hubungannya "Ibu paksa dia untuk IKUTAN camp" dengan "making it hard for him to make a decision" sementara sejak awal dianya sendiri emang ga mau ikutan camp...Abdih...Abdih.... (sebenernya dibilang maksa dia juga ada ga benernya juga sih. Ibu dulu itu cuman nanya berkali2 ke dia kenapa dia ga mau ikutan, bukannya dia suka banget basket. Setelah berkali2 ditanya dan berkali2 juga dia jawab dengan keukeuhnya ga mau, dia ya akhirnya bilang, "Ibu, katanya ga boleh paksa....." :-D)

Sebenernya bisa aja sih Ibu langsung aja minta maaf sama dia krn dianggap salah, udah kan selesai masalah ga usah cape2 berpanjang2 ceramah. Bukan, bukan Ibu ga mau disalahin, klo memang Ibu salah Ibu akan mengakuinya dan minta maaf....bener deeh...ga boong kok, Ibu ga susah kok minta maaf klo punya salah sama anak2.....;-) Ibu cuman pengen Abdih belajar sesuatu dari kejadian ini.

Malamnya, selesai sholat Ashar, tiba2 dia datang menghampiri Ibu dan dengan manisnya dia bilang,
"Ibu...Ade minta maaf udah salah2in Ibu..."
Duuuh apa ga terharu Ibu jadinya....Anakkuu....

(Oh my goodness, I forgot to say sorry for making it hard for him to make a decision...!)

Wednesday, May 16, 2007

Sholat Isya menjelang summer

Dengan semakin mendekatnya musim panas, waktu sholatpun semakin bergeser, waktu sholat maghrib dan sholat isya jadi bergeser semakin malam. Sekarang ini sholat maghrib baru mulai jam 21.03 dan sholat isya mulai jam 22.41. Buat kami para orang tua sih ya ga jadi masalah, apalagi saya dan suami saya sudah biasa begadang. Yang jadi masalah tentu saja buat anak2, jangankan waktu isya, waktu maghrib aja udah melewati jam tidur mereka.

Dulu, jaman kami masih di Belanda saya masih ngasih kompensasi sama anak2 untuk tidak melaksanakan sholat maghrib (buat Hanif, akhirnya saya suruh dia sholat maghrib sebelum tidur walopun belum masuk waktu) dan isya. Saat summer terakhir kami di Belanda Hanif masih 7 taun dan Abdih baru 4 taun. Saya masih belum tega merubah waktu tidur mereka yang jam 20.30 itu (jam segini mereka sudah harus ada di atas tempat tidur. Jadi siap2 tidur, mulai dari ganti baju dan gosok gigi, dilakukan sebelum jam segitu), takutnya aktivitas mereka di sekolah terganggu karena kurang tidur.

Sekarang usia Hanif sudah 10 taun dan Abdih sudah 7 taun, sudah ga mungkin lagi mereka diberi kompensasi untuk tidak melakukan sholat maghrib dan isya. Awalnya saya cukup bingung juga gimana caranya supaya mereka ga tinggal sholat tapi waktu tidur mereka tetap tidak terganggu. Lama saya pikirkan masalah ini-jauh sebelum waktu sholat bergeser semakin malam-tapi rasanya hampir ga mungkin ngatur waktu sholat maghrib dan isya disesuaikan dengan waktu tidur mereka yang jam 20.30 itu. Kami tidak punya pilihan lain selain memutuskan bahwa apapun yang terjadi anak2 ga boleh sampai tinggal sholat. Klopun sampai waktu tidur mereka harus berubah, kalaupun mereka sampai harus tidur jauh lebih lambat dari waktu tidur yang seharusnya, so what? Kewajiban tetaplah kewajiban, mereka harus mulai diajak untuk menyadari hal ini. Ada kalanya kita harus mengorbankan kepentingan lain untuk melaksanakan satu kewajiban, termasuk waktu tidur mereka yang berkurang.

It sounds so cruel, doesn't it? Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya kami hanya bisa tawakal. Anak2 kekurangan waktu tidur mereka tokh untuk melaksanakan perintah Allah, maka serahkan saja semuanya padaNya. Atas kehendakNya, anak2 akan tetap sehat dan tidak terganggu aktivitasnya di sekolah walopun waktu tidur mereka berkurang. Namun saya juga tahu saya harus melakukan sesuatu juga sebagai usaha saya untuk menyiasati agar anak2 tidak menjadi buruk kondisinya gara2 kurang tidur. Buat Hanif sebenernya ga ada masalah krn Hanif memang butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya dia bisa tertidur. Klopun dia masuk tempat tidur jam 20.30 dia baru akan tertidur satu jam atau bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai 2 jam kemudian (apalagi klo dia sempat tertidur siangnya). Maka khusus buat Abdih, sepulang sekolah, setelah selesai sholat dhuhur saya wajibkan dia untuk tidur siang (ada kalanya dia ga mau nurut, saking pengennya main sama abangnya, dia milih ga mau tidur siang, dan malamnya dia akan sangat terkantuk2 nunggu sholat isya tiba, malah kadang suka sampai tertidur dan harus dibangunin lagi pas waktunya sholat isya ). Setelah sholat shubuh saya bolehkan mereka tidur lagi sampai jam 7, trus kemudian siap2 pergi sekolah.

Ya alhamdulillaah so far so good, walopun harus tidur jauh lebih lambat, keesokan harinya mereka tetap bisa bangun pagi, sholat shubuh ga telat dan di sekolahpun mereka ga sampai harus terkantuk2. Kebayang kan nanti saat 'puncaknya', sholat maghrib jam 9.31pm, sholat isya jam 11.21pm, dan sholat shubuh jam 4.16am. Untung saat itu mereka tengah summer vacation


Sunday, May 13, 2007

Mother's Day

Ga sabar nunggu sampai hari Minggu, hari Jumat Hanif dan Abdih udah heboh menyerahkan mother's day gifts yang udah mereka bikin dan persiapkan beberapa hari sebelumnya bersama guru dan teman2nya di sekolah.

"Happy early mother's day, ibu" seru mereka dengan manisnya.

Duuuh ibu jadi terharuuuu banget. Makasih ya sayang2ku. Hadiahnya manis2 banget. Ini bukan mother's day pertama yang ibu lewatkan bersama mereka, dan bukan juga mother's day pertama di mana mereka sibuk menyiapkan kado jauh2 hari sebelumnya bersama teman2 dan guru2nya di sekolah. Tapi tetep aja perasaan ibu selalu sama, seneng, bahagia, dan lebih2 terharu. Terharu dengan perhatian mereka, anak2 ibu. Ternyata mereka punya cinta yang besar untuk ibu. Selama ini ibu selalu merasa ibulah yang paling pandai dan paling menyayangi mereka. Kasih sayang mereka ga ada apa2nya dibanding rasa sayang dan cinta ibu untuk mereka. Tapi setiap kali hari ibu tiba ibu seperti diingatkan kembali, bahwa mereka juga punya rasa sayang dan cinta yang mungkin sama besarnya dengan rasa sayang dan cinta ibu buat mereka.

Ibu jadi teringat peribahasa yang mengatakan, "kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa". Setelah punya anak, apalagi setelah mereka pandai mengungkapkan kasih sayang mereka pada ibu, seringkali ibu mempertanyakan kebenaran peribahasa tersebut. Kadang ibu jadi merasa betapa egoisnya bunyi peribahasa itu. Tidakkah peribahasa tsb. menunjukkan keangkuhan yang luar biasa dari seorang ibu. Benarkah kasih seorang anak hanya sepanjang galah? "Sepanjang galah" itu kan untuk menggambarkan betapa kasih sayang seorang anak terhadap ibu atau orang tuanya sangatlah terbatas. Bandingkanlah dengan "kasih ibu sepanjang masa", menunjukkan betapa kasih sayang seorang ibu tidak berbatas, tak kan pernah hilang.

Melihat anak2 ibu sekarang rasanya ibu tidak tega untuk menuduh mereka punya kasih sayang yang hanya sepanjang galah buat ibu (dan juga ayah). Mungkin dengan berlalunya waktu dengan beranjaknya mereka dewasa kasih sayang itu akan mengalami perubahan cara pengungkapan, bukan, sekali lagi, bukan berkurang!! Ibu tengok hati ibu sendiri, kemudian bertanya pada diri sendiri, apakah rasa cinta dan sayang ibu untuk nenek dan aki Dudu telah hilang ataupun berkurang dengan berlalunya waktu dan bergantinya masa?Jawabnya adalah tidak!! Sampai kapanpun ibu akan terus mencintai dan menyayangi nenek dan aki Dudu, dan rasa ini tidak pernah berkurang sedikitpun sejak dulu. Maka, ibu rasa begitu pulalah dengan anak2 ibu (dan bahkan mungkin dengan seluruh-atau okelah kita bilang sebagian besar-anak2 di dunia ini). Bukankah kebutuhan mereka akan kehadiran ayah dan ibu saja sudah merupakan bukti rasa cinta dan sayang mereka pada kami?

Saturday, March 3, 2007

Ingin sama2 lagi di surga......

Tema yang paling sering jadi bahan obrolan Hanif dan Abdih di antaranya adalah "tornado". Bukan karena apa2, it's simply because mereka takuuuut sekali sama tornado :-D Tapi pada saat yang sama mereka juga penasaran tentang seluk-beluk pertornadoan ini.

Satu sore menjelang maghrib, kami sekeluarga duduk2 dan ngobrol di meja makan, topik obrolan: "tornado"!! Ayahnya asyik sekali menjelaskan dari awal terjadinya tornado sampai gimana caranya kita menyelamatkan diri klo ada tornado. Ketika pembicaraan sudah sampe ke masalah peringatan awal tornado dan kemudian gimana caranya menyelamatkan diri, mulai deh anak2 keliatan khawatir banget. Sampai Ibu harus menenangkan mereka klo itu semua baru kemungkinan, jadi jangan terlalu khawatir, tapi walo bagaimanapun, sekecil apapun kemungkinan terjadinya tornado di tempat tinggal kita ini tetep aja lebih baik klo kita tau gimana caranya menyelamatkan diri dari tornado.

Obrolan tentang tornado berkembang jadi obrolan tentang kematian. Dengan wajah sedih dan mata berkaca2, Abdih yang duduk di sebelah Ibu kemudian ngomong,
"Adek ga mau Ibu meninggal........."
Ya ampuun Nak, Ibu juga ga mau ninggalin kalian, pengennya kita sama2 teruuuss selamanya. Tapi ga mungkin kan...? Dan anak2ku udah harus mulai disadarkan dengan kenyataan bahwa kematian itu pasti akan datang. Ya udah Ibu jawab aja gini,
"Iya Nak, Ibu juga ga mau ninggalin Adek. Tapi semua orang pasti meninggal, termasuk Ibu, Ayah, Adek, Abang, Sajid. Cuman waktunya, kapan kita meninggal, itu yang kita ga akan tau. Klopun Ibu meninggal sekarang, kan Adek masih punya bi Aden, Nenek, Ummi, Papa"
Ga betul2 ilang sedihnya, matanya masih berkaca2, di sudut sana Hanif udah mulai sebentar2 mengusap matanya :-)

Akhirnya sampailah obrolan ke masalah akhirat, kehidupan setelah kematian. Tiba2 sambil tersedu2 (tadi waktu nanya ttg kematian masih sambil berkaca2, sekarang udah betul2 nangis!!) Abdih nanya,
"Ibu, nanti di akhirat Ibu melahirkan Adek lagi ga...?"
Waduuuh Ibu juga jadi ga tahan nih, yang tadi ngomong cuman sambil tercekat tenggorokan sekarang Ibupun ngomong sambil berlinang air mata,
"Ibu ga tau Nak, Ibu betul2 ga tau....... Adek berbuat baik aja terus selama di dunia ya, supaya nanti bisa masuk surga. Trus kita bisa sama2 lagi di surga................."
Trus Ibu peluk Abdih, sambil ngucur deh air mata......:-) Hanif pun yang tadinya malu2, nyembunyiin air matanya, sekarang udah deras juga air matanya.

Tiba2,
"Laaaah kok jadi nangis semua siiih..............?!" si Ayah nyeletuk sambil terkaget2. Yaaah si Ayah, gimana ga nangis............Inget kematian aja udah bikin kita pengen nangis, apalagi membayangkan apakah kita bisa bersama2 lagi dengan orang2 yang kita cintai kelak di akhirat, apa ga jadi tersedu2..................

Sunday, February 25, 2007

7 Tahun......

Khayru Abdih. Ternyata sudah cukup lama Ayah memendam keinginan untuk memberi nama tersebut untuk salah seorang anaknya. Anak pertama udah keduluan dong sama Ibu, krn sejak sebelum hamilpun Ibu sudah pengen ngasih nama "Hanif" untuk anak pertama kami (meni yakin bakal laki2 anak pertamanya. Bukan yakin siih.......cuman pengen dan merasa harus aja anak pertama kami laki2. Eh...ternyata malah 'disungkun' jadi laki2 semua, tiga2nya). Maka Khayru Abdih it is, lengkapnya tentu saja Khayru Abdih Djunaedy. Djunaedy sih yaa pelengkap penggembira saja, dan sekaligus memudahkan krn saat itu kami sedang tinggal di negara yang mengharuskan adanya "family name".

Hari ini 24 Februari 2007 (euh Februari 24 atuh nya mun di amerika sini mah) usianya genap 7 tahun. 7 tahun sudah Khayru Abdih, hambaNya yang baik, mewarnai hari2 Ibu dengan tawanya, dengan tangisnya, dengan candanya, dengan kebaikan2nya, dengan kenakalan2nya, dengan kekonyolan2nya, dengan kepandaian2nya, dengan kelucuan2nya, dengan kebawelannya, dengan segalanya, semuanya, dari yang membuat Ibu tersenyum bahagia, tertawa ngakak, sampai mencucurkan air mata karena terharu ataupun karena MARRAAH!!

Ulang tahun....apalagi ulang tahun anak2, selalu membuat Ibu sedih, terharu, bahagia....campur aduk nano2 gado2 rasanya. Mengingat dan mengenang taun2 yang telah berlalu lengkap dengan kejadian2 yang patut dan indah buat dikenang sekaligus mengingat kebaikan2 apa yang sudah dilakukan. Merenungkan hari2 ke depan yang akan dilalui yang entah berapa lama lagi, bisa jadi hitungannya taun, bulan, menit atau bahkan hanya detik.............!!
Apa yang sudah Ibu lakukan untukmu, Nak? Rasanya tidak banyak. Maafkan Ibu seandainya Ibu belum mampu jadi ibu yang baik untukmu. Yang pasti doa Ibu tidak akan terputus mengiringi langkahmu.

Selamat ulang tahun sayangku, semoga dengan berkurangnya usiamu semakin bertambah kesempatanmu untuk menjadi hambaNya yang baik, yang sholeh, yang cerdas, yang akan menjadi rahmatan lil 'alamiin di manapun engkau berada. Tetaplah jadi pelangi indah yang mewarnai hari2 Ibu, permata hatiku. We always love you.