Thursday, April 10, 2008
Collister Holiday Concert
Suara biola solo yg terdengar adalah suara biola yg dimainkan Hanif, ga sempet terekam lama. Tapi da main solonya juga cuman dikit banget kok...hehe...Nothing special....eh eh eh....special banget lhoooo bwt Ibunya sih....;-) Klo mau liat foto2nya ke sini aja: http://ibuhanif.multiply.com/photos/album/18/Collister_Holiday_Concert_07
Monday, March 31, 2008
Collister Holiday Concert 07
The girl in red dress is Schuyler Mickelson. She's my li'l princess.
Konser Hanif yang pertama, kejadiannya sih udah lama, Desember 2007. Begitu denger Hanif mau konser, duuuuh deg2annyaaa minta ampun deh, yg ada di pikiran "Bisa ga ya anakku..." abis klo denger dia latihan di rumah kan kadang masih suka "ngak ngik nguk" ga jelas...hihi...Takutnya malu2in gituu.....Duuh si Ibu meni tega ya takut dimalu2in sama anaknya....:-(
Tapi ternyata Hanif bahkan sempet main solo, cuman dikit banget siiih tapi yaa lumayan lah kepake juga...hehe....Gambar bergeraknya liat aja di sini:http://ibuhanif.multiply.com/video/item/10, yg ngeselin si ayah ga sadar saat itu Hanif lagi main solo, asyik aja dia ngerekam Christina yg lagi main piano, jadi aja Hanifnya kerekam bentar banget, cuman suara biolanya aja yg kedengeran. Tapi sekali lagi, lumayaaan lah daripada engga sama sekali....;-) Enjoy....
Sunday, October 7, 2007
7 Oktober 1996/2007
"Ibu, why you're looking so gloomy?"
"Ibu, are you exhausted?"
"Ibu, you're looking worried...."
Pertanyaan2 dan pernyataan tersebut Hanif ungkapkan dengan penuh perhatian bahkan kadang dengan muka penuh kekhawatiran.
"Ibu....mau ke kamar Hanif ngga?"
"Ada apa sayang..?"
"I want to talk to you" or sometimes, "There's something I need to discuss"
"Di sini aja kenapa Nak?"
"I want to keep it only between you and me"
Klo sudah begitu itu tandanya dia mau curhat. Dan klo dia curhat dia ga mau ayahnya denger, sayapun ga boleh ngebocorin apa yang dia curhatkan ke ayahnya ;-)
Bahagia sekali ketika selesai dia curhat dan setelah saya ngasih 'masukkan' (which is mostly in the form of 'long-lecture' and more often than not some tears involved ;-D), lantas dia bilang,
"Hati Hanif lega sekarang, Ibu...."
Ah...anakku....
****
Best of all is:
"Ibu, you're the best mother I've ever had..." (oh my...langsung melayang ke negri di awan ngga siiih....)
"Tapi Ibu kan galak sama Hanif..."
"Hmmm...engga koook...engga terlalu..." jawabnya dengan tersipu2
****
That's my Hanif, my first-born, my no-longer-best-little boy (he's my best BIG boy now...;-)). He's growing up into a sensitive, care pre-teen. Bahkan sejak dia kecil saya sudah 'curiga' klo Hanif ini punya perasaan yang halus, sangat perasa dan sensitif. Namun saya tidak menyangka klo dia kemudian bisa begitu care dengan perasaan orang lain, terutama perasaan saya ibunya. It's probably because he's a sensitive person to begin with. Alhamdulillaah I've never viewed sensitivity as a personality flaw or weakness and I don't want Hanif to view it that way either.
Hanif Ahmad Kautsar Djunaedy, lahir di Bandung tanggal 7 Oktober 1996, hari ini usianya genap 11 tahun. 11 TAHUN...?? ya 11 tahun...! Subhanallaah, walhamdulillaah. Saya sendiri rasanya masih tidak percaya my best little boy sudah bukan little boy lagi sekarang. Tidak percaya saya punya anak yang sudah hampir baligh. Oh my...where were I...where have I been?? Kemudian dalam hatipun timbul ungkapan2 klasik: rasanya baru kemaren saya lahirkan dia, rasanya baru kemaren saya toilet trained dia, baru kemaren pertama masuk sekolah, dan 'baru kemaren-baru kemaren' yang lainnya. How fast time flies.....And then I realize something, what have I done for him so far?
My dear Hanif, my son, my jewel, my qurrotaa'yun,
I was thinking of you today,
when I realized that I haven't told you in a while
how wonderful it is to have you for a son...
Sometimes, of course, I worry about you,
but that's just a natural part of being a parent.
More often,
I think about how special you are,
and how much joy your cheerfulness and willlingness to help out
have added to my life...
I may have criticized you at times,
I may have tried at times to change you,
but I love you just the way you are...
and the way you are makes me very proud.
( unknown author)
Happy birthday my baby, my best little boy. We'll always love you and be there for you, insya Allah
(Note: It took me one whole month to eventually post this entry. Sorry for the delay. I simply didn't feel like MPing these last few weeks ;-))
Friday, August 31, 2007
Izin sholat Jumat dari sekolah
Walopun kami yakin ini adalah hak kami dan pihak sekolah tidak seharusnya mempermasalahkannya, tetep saja saya deg2an ketika kami berjalan menuju sekolah. Perasaan khawatir permintaan izin kami akan ditolak tetep aja hadir dalam hati saya
Tujuan pertama kami adalah kelasnya Hanif, ketemu dengan guru kelasnya. Untung di sini sama seperti di Belanda ketemuan dengan guru2 atau kepala sekolah ataupun sekretaris sekolah ga ribet harus pake janjian segala, ga kayak di Emirat yang penuh dengan birokrasi bahkan pihak orang tua tidak diizinkan untuk ketemu langsung dengan guru2. Jadi kami bisa melenggang dengan bebasnya langsung menuju ruang kelas. Tetap dengan hati deg2an (saya maksudnya yang deg2an, si Abang sih keliatannya tenang2 ajah
"Oh, it's fine with me, if it is very important for him" sambil tersenyum penuh pengertian (bohong deng.....dia tersenyum tapi ga tau tuh penuh pengertian ato engganya mah..hehe..)
Singkat cerita, selesailah urusan kami dengan Mr. Heller yang dengan tidak keberatan memberikan izinnya untuk Hanif untuk keluar kelas setiap hari Jumat siang. Tujuan kami selanjutnya adalah school office untuk ketemu Dr. Olsen, sang Kepala Sekolah.
Singkat cerita (lagi), setelah kami jelaskan semuanya (persis seperti penjelasan kami kepada Mr. Heller), Dr. Olsen bersahut,
"Wow....I've never heard about this before. It's very interesting!"
(responnya ini persis sama dengan respon dia ketika taun lalu kami menjelaskan kepadanya tentang Hanif dan Abdih yang harus puasa sepanjang bulan Ramadhan thus ga makan dan ga minum saat makan siang di sekolah). Intinya, Dr. Olsen mengizinkan dan mendukung Hanif yang harus 'bolos' setiap Jumat dari jam 12.45 p.m. (saat Ibu datang menjemput) sampai kurang lebih jam 13.50 (saat Hanif kembali lagi ke sekolah setelah sholat Jumat usai). Dia bahkan kemudian bertanya tentang bagaimana dengan hari2 yang lain di mana Hanif harus sholat di siang hari di tengah waktu sekolah (sholat Dhuhur maksudnya). Dia bertanya haruskah Hanif disiapkan tempat khusus untuk sholat yang sepi dan bebas dari kerumunan teman2nya. Apakah Hanif harus dia panggil turun ke kantornya dia, dan melaksanakan sholat di sana. Dr. Olsen juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana Hanif menghadapi pandangan heran dan aneh dari kawan2nya melihat dia harus sholat di sekolah. Kami jawab bahwa sebetulnya Hanif boleh sholat di mana saja, sejauh itu nyaman buat dia, ga harus disediakan tempat khusus. Mengenai kekhawatirannya, kami jawab bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus Hanif hadapi. Kamipun tak lupa mengatakan bahwa Hanif sudah pernah melakukannya satu kali taun lalu di kelasnya Mrs. Scofield. Akhirnya Dr. Olsen memutuskan untuk bicara dan bertanya langsung saja sama Hanif, apa maunya Hanif.
Respon Dr. Olsen yang demikian bukan saja membuat kami lega, tapi sungguh2 membuat kami bersyukur atas nikmat Allah kepada kami. Pihak sekolah Hanif bukan hanya mengizinkan dan mendukung kami, bahkan bersedia memfasilitasi Hanif untuk bisa sholat dengan nyaman di sekolah. Ini benar2 sebuah nikmat dari Allah yang luar biasa besarnya buat kami, sehingga kami dan anak2 kami bisa dengan mudah melaksanakan ibadah kami kepadaNya. Saya serasa melayang ketika berjalan keluar sekolah, hatipun terasa berbunga2
Selanjutnya saya hanya bisa berdoa semoga Allah swt. selalu memudahkan dan melancarkan jalan kami dan anak2 kami serta keturunan2 mereka kelak untuk melaksanakan ibadah kepadaNya, kapanpun dan di manapun kami berada.
Saturday, August 25, 2007
Hanif, Abdih dan NBA
Ibu : "Why?"
Abdih : "So that I can play for the NBA"
Ibu :" Hmmm........"
****
Hanif : "Ibu, kata Ibu kan Hanif boleh jadi apa aja yang penting sholeh, iya kan?"
Ibu : "Iya, terus..?"
Hanif : "Hanif mau jadi NBA player Ibu..."
Ibu : "Hmmm, hmmm....."
Ibu lagi : "Ok, tapi walo bagaimanapun Hanif harus ke college dulu. Setelah itu let's see.... Yang penting Ibu mau Hanif harus ke college dulu." (maksa ih si Ibu...hehe...)
Hanif : "Oke.."
****
Hanif : "Ibu, I wanna go to college here in the US"
Ibu : "NBA kan..?"
Hanif : "Hehe...." sambil tersipu2.
****
Suatu hari setelah baca buku biografi salah satu pemain NBA bernama Kevin Garnett yang dia pinjam dari perpus sekolah,
Hanif (dengan mimik muka 'penuh kemenangan') : "Ibu, do you know? Kevin Garnett skipped college! He went straight to NBA!"
Ibu (dengan nada tegas) : "So....?! What did you mean by that? You don't wanna go to college either?"
Hanif (tersipu2) : "Emm...engga siiih...."
******
Entah sejak kapan anak 2 itu tergila2 sama yang namanya bola basket. Padahal dulu, sejak heboh Piala Dunia 2002 sampai beberapa bulan pertama setelah kami pindah ke sini, soccer was always their fav! Yang kemudian menimbulkan ide2; "Hanif mau jadi pemain sepak bola" atau "Hanif mau jadi wasit sepak bola". Awal2 mereka sekolah di sini, guru2 mereka, temen2 mereka (baik yang sekelas maupun yang tidak), bahkan beberapa orang ibu dari temen2 mereka, begitu hafalnya dengan hobi Hanif dan Abdih ini. Karena setiap recess ga ada lain yang mereka mainkan selain sepak bola. Berteman pun dengan anak2 yang cinta sepak bola. Entah angin apa dan dari mana yang menghembuskan ide bola basket ke telinga mereka. Klo cuman hobi sih ga papa, ini pake pengen pula jadi pemain NBA. Serius pula (ternyata) keinginannya itu. Kayaknya ga ada hari tanpa ngomongin NBA, pemain2 NBA, NBA draft dan entah apalagi lah istilahnya, ga ngerti! Pokonya Ibu dah mulai kewalahan dengernya!
Sampai berapa lamakah obsesi mereka untuk jadi pemain basket dan kemudian jadi pemain NBA (dipikirnya gampang jadi pemain NBA....
Thursday, June 28, 2007
Singapore, 2000
Abdih dan ayah. Gemuk ya Abdih....;-)
Nemu foto2 jadul, waktu kami masih tinggal di Singapur. Kejadian di foto2 ini tepatnya kapan lupa, tapi yang jelas pastinya setelah April 2000, setelah kami-Ibu, Hanif dan Abdih-kembali lagi ke sana setelah melahirkan Abdih, Februari 2000. Ada Oom Romy, Mbak Endang, Mas Edy dan Li'l Zaza juga lhooo....;-) Kangen yaa masa2 ituu.....hiks...
Wednesday, June 6, 2007
Gejala apakah ini..?
Ibu :
**@@**
Pulang sekolah, kami jalan menuju tempat parkir, ibu gandeng bahu Hanif,
Hanif : "Ibu.....kayak gini yang bikin Hanif malu.....!"
Ibu: "Kenapa sih Nif, Ibu kan ibunya Hanif, kok malu sih digandeng sama ibunya sendiri"
Hanif : "Ibuuu....pliiiss....Ibu gandeng Hanif in front of 5th graders!!"
Ibu :
**@@**
Hanif : "Ibu, you're a teacher now?" (jadi guru di sekolah minggu di masjid, red.)
Ibu : "Yes, I am"
Hanif : "Are you gonna teach in my class?"
Ibu : "Nop, I'm gonna teach Abdih's class"
Hanif : "Yess...."
Ibu :
Dduuuuuh....annakkkuuuu...................
Wednesday, May 16, 2007
Sholat Isya menjelang summer
Dulu, jaman kami masih di Belanda saya masih ngasih kompensasi sama anak2 untuk tidak melaksanakan sholat maghrib (buat Hanif, akhirnya saya suruh dia sholat maghrib sebelum tidur walopun belum masuk waktu) dan isya. Saat summer terakhir kami di Belanda Hanif masih 7 taun dan Abdih baru 4 taun. Saya masih belum tega merubah waktu tidur mereka yang jam 20.30 itu (jam segini mereka sudah harus ada di atas tempat tidur. Jadi siap2 tidur, mulai dari ganti baju dan gosok gigi, dilakukan sebelum jam segitu), takutnya aktivitas mereka di sekolah terganggu karena kurang tidur.
Sekarang usia Hanif sudah 10 taun dan Abdih sudah 7 taun, sudah ga mungkin lagi mereka diberi kompensasi untuk tidak melakukan sholat maghrib dan isya. Awalnya saya cukup bingung juga gimana caranya supaya mereka ga tinggal sholat tapi waktu tidur mereka tetap tidak terganggu. Lama saya pikirkan masalah ini-jauh sebelum waktu sholat bergeser semakin malam-tapi rasanya hampir ga mungkin ngatur waktu sholat maghrib dan isya disesuaikan dengan waktu tidur mereka yang jam 20.30 itu. Kami tidak punya pilihan lain selain memutuskan bahwa apapun yang terjadi anak2 ga boleh sampai tinggal sholat. Klopun sampai waktu tidur mereka harus berubah, kalaupun mereka sampai harus tidur jauh lebih lambat dari waktu tidur yang seharusnya, so what? Kewajiban tetaplah kewajiban, mereka harus mulai diajak untuk menyadari hal ini. Ada kalanya kita harus mengorbankan kepentingan lain untuk melaksanakan satu kewajiban, termasuk waktu tidur mereka yang berkurang.
It sounds so cruel, doesn't it? Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya kami hanya bisa tawakal. Anak2 kekurangan waktu tidur mereka tokh untuk melaksanakan perintah Allah, maka serahkan saja semuanya padaNya. Atas kehendakNya, anak2 akan tetap sehat dan tidak terganggu aktivitasnya di sekolah walopun waktu tidur mereka berkurang. Namun saya juga tahu saya harus melakukan sesuatu juga sebagai usaha saya untuk menyiasati agar anak2 tidak menjadi buruk kondisinya gara2 kurang tidur. Buat Hanif sebenernya ga ada masalah krn Hanif memang butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya dia bisa tertidur. Klopun dia masuk tempat tidur jam 20.30 dia baru akan tertidur satu jam atau bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai 2 jam kemudian (apalagi klo dia sempat tertidur siangnya). Maka khusus buat Abdih, sepulang sekolah, setelah selesai sholat dhuhur saya wajibkan dia untuk tidur siang (ada kalanya dia ga mau nurut, saking pengennya main sama abangnya, dia milih ga mau tidur siang, dan malamnya dia akan sangat terkantuk2 nunggu sholat isya tiba, malah kadang suka sampai tertidur dan harus dibangunin lagi pas waktunya sholat isya
Ya alhamdulillaah so far so good, walopun harus tidur jauh lebih lambat, keesokan harinya mereka tetap bisa bangun pagi, sholat shubuh ga telat dan di sekolahpun mereka ga sampai harus terkantuk2. Kebayang kan nanti saat 'puncaknya', sholat maghrib jam 9.31pm, sholat isya jam 11.21pm, dan sholat shubuh jam 4.16am. Untung saat itu mereka tengah summer vacation
Sunday, May 13, 2007
Mother's Day
Ga sabar nunggu sampai hari Minggu, hari Jumat Hanif dan Abdih udah heboh menyerahkan mother's day gifts yang udah mereka bikin dan persiapkan beberapa hari sebelumnya bersama guru dan teman2nya di sekolah.
"Happy early mother's day, ibu" seru mereka dengan manisnya.
Duuuh ibu jadi terharuuuu banget. Makasih ya sayang2ku. Hadiahnya manis2 banget. Ini bukan mother's day pertama yang ibu lewatkan bersama mereka, dan bukan juga mother's day pertama di mana mereka sibuk menyiapkan kado jauh2 hari sebelumnya bersama teman2 dan guru2nya di sekolah. Tapi tetep aja perasaan ibu selalu sama, seneng, bahagia, dan lebih2 terharu. Terharu dengan perhatian mereka, anak2 ibu. Ternyata mereka punya cinta yang besar untuk ibu. Selama ini ibu selalu merasa ibulah yang paling pandai dan paling menyayangi mereka. Kasih sayang mereka ga ada apa2nya dibanding rasa sayang dan cinta ibu untuk mereka. Tapi setiap kali hari ibu tiba ibu seperti diingatkan kembali, bahwa mereka juga punya rasa sayang dan cinta yang mungkin sama besarnya dengan rasa sayang dan cinta ibu buat mereka.
Ibu jadi teringat peribahasa yang mengatakan, "kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa". Setelah punya anak, apalagi setelah mereka pandai mengungkapkan kasih sayang mereka pada ibu, seringkali ibu mempertanyakan kebenaran peribahasa tersebut. Kadang ibu jadi merasa betapa egoisnya bunyi peribahasa itu. Tidakkah peribahasa tsb. menunjukkan keangkuhan yang luar biasa dari seorang ibu. Benarkah kasih seorang anak hanya sepanjang galah? "Sepanjang galah" itu kan untuk menggambarkan betapa kasih sayang seorang anak terhadap ibu atau orang tuanya sangatlah terbatas. Bandingkanlah dengan "kasih ibu sepanjang masa", menunjukkan betapa kasih sayang seorang ibu tidak berbatas, tak kan pernah hilang.
Melihat anak2 ibu sekarang rasanya ibu tidak tega untuk menuduh mereka punya kasih sayang yang hanya sepanjang galah buat ibu (dan juga ayah). Mungkin dengan berlalunya waktu dengan beranjaknya mereka dewasa kasih sayang itu akan mengalami perubahan cara pengungkapan, bukan, sekali lagi, bukan berkurang!! Ibu tengok hati ibu sendiri, kemudian bertanya pada diri sendiri, apakah rasa cinta dan sayang ibu untuk nenek dan aki Dudu telah hilang ataupun berkurang dengan berlalunya waktu dan bergantinya masa?Jawabnya adalah tidak!! Sampai kapanpun ibu akan terus mencintai dan menyayangi nenek dan aki Dudu, dan rasa ini tidak pernah berkurang sedikitpun sejak dulu. Maka, ibu rasa begitu pulalah dengan anak2 ibu (dan bahkan mungkin dengan seluruh-atau okelah kita bilang sebagian besar-anak2 di dunia ini). Bukankah kebutuhan mereka akan kehadiran ayah dan ibu saja sudah merupakan bukti rasa cinta dan sayang mereka pada kami?
Saturday, March 3, 2007
Hanif Sholat di Sekolah
"Oh ya...??", surprise juga nih, "Hanif bilang sama Ibu Guru?"
"Iya Hanif bilang"
"Trus apa kata Ibu Guru?" tanya Ibu lagi.
"Bu Guru bilang "That's ok". Trus Bu Guru bilang lagi klo Hanif boleh make music room klo Hanif mau sholat"
Ibu masih terkaget2 nih, jadi terus aja nanya2,
"Trus Hanif sholat di music room dong?"
"Enggak, Hanif sholat di kelas aja. Klo lagi recess kan yang ada di kelas cuman anak2 perempuan aja"
Oow tambah surprise deh Ibu, krn biasanya Hanif paling malu klo harus melakukan sesuatu di depan cewek2 :-D
"Oh ya...??Sholatnya gimana sayang, kan lantainya kotor?"
"Hanif sholatnya sambil duduk Ibu..." dia jawab sambil agak malu2 gitu, takut disalahin kali ya...:-)
"Trus wudhunya gimana Nak?"
"Hanif wudhunya yang ga pake air itu lho Ibu, apa namanya? Hanif lupa"
"Tayammum..."
"Iya, tayammum.."
Duuh Ibu ga tahan euy pen ketawa...tapi kan kasian dong masak diketawain.
"I'm so proud of you, dear. Tapi sebetulnya Hanif ga boleh tayammum, wudhu aja seperti biasa pake air, di wc kan ada wastafel. Trus harusnya juga sholatnya ga boleh sambil duduk, Hanif cari aja alas buat sholat. Dan sebetulnya juga Hanif udah bisa kok sholat di rumah sekarang, waktu sholatnya kan udah mulai berubah, jadi masih sempet klo Hanif sholat dhuhur di rumah"
Waduh, keliatan deh mukanya mulai kecewa :-(
"But it's all right, darling, I really am so proud of you"
Bener deh Ibu bangga sekali sama Hanif. Ibu sama sekali ga nyangka Hanif bakal ngambil inisiatif sendiri buat sholat di sekolah dan pangpangnya ngomong sendiri sama gurunya klo dia harus sholat, itu yang paling bikin Ibu bangga. Memang sih kurang lebih seminggu sebelumnya saya dan suami saya udah mulai melemparkan wacana tentang kemungkinan Hanif harus sholat di sekolah. Kemungkinan nanti Hanif dipandang aneh sama temen2 Hanif, atau lebih parah lagi kemungkinan diejek kemudian oleh teman2nya. Semua kemungkinan2 itu kami omongin ke Hanif. Tapi samsek ga ada kami nyuruh Hanif ngomong sendiri sama ibu gurunya. Rencana kami saat itu kami yang akan ngomong langsung sama kepseknya memintakan izin Hanif dan Abdih untuk sholat di sekolah, dan sekaligus minta disediakan tempatnya juga. Eh belum sempat kami laksanakan rencana itu, Hanif udah ngambil inisiatif sendiri. Lagipula saat itu waktu sholat udah berubah, anak2 masih sempet sholat dhuhur di rumah sepulangnya sekolah. Jadi rencana itu kami tunda sampai next winter, dan kami lagi nyusun rencana yang lain, yaitu memintakan izin anak2 buat sholat Jumat.
Terlambat sih sebetulnya kami menyadari hal ini, bahwa anak2 harus sholat di sekolah. Selama ini saya ngasih dispensasi membiarkan mereka menjama' sholat dhuhur dengan ashar setiap pulang sekolah. Tapi setelah muktamar IMSA dan denger materi dari Bro. .....duh lupa euy namanya....Pokonya intinya dia bilang ga ada alasan anak2 ga bisa melaksanakan sholat di sekolah. UU Amerika ttg sekularisme malah justru membuat kita kaum muslim punya hak untuk minta dispensasi buat melaksanakan sholat di sekolah bahkan minta disediakan tempat untuk itu . Selain itu kita juga punya hak buat memintakan izin anak kita agar bisa 'bolos' setiap hari Jumat buat sholat Jumat (gimana isi UU itu shg kejadiannya bisa sampe kek gini.....it's beyond my imagination...hehehe apaa lagi,yah pokona maksude ga ngertilah isi UUnya kok jadi bisa gini..yg penting buat ibu mah hasil ahir menguntungkan....hehehe....). Legaaa banget saya dengernya, masalah yang selama ini mengganjal di hati ini akhirnya dapet solusi.
Kembali ke masalah inisiatif Hanif, jadi inget waktu pertama kalinya dia harus melaksanakan puasa di tengah2 teman2nya yang mayoritas non muslim, di Eindhoven waktu itu. Ketika kami sedang bingung nyari kata2 yang tepat untuk menjelaskan pada ibu gurunya klo mulai hari itu Hanif puasa, dia sendiri yang akhirnya ngambil inisiatif buat ngomong sendiri ke gurunya itu.
Sebetulnya Hanif ini anaknya pemalu sekali. Karena sadar dengan sifatnya yang satu ini saya sempet khawatir sekali dengan perkembangannya ketika dia berada di tengah2 orang2 yang jauh berbeda darinya. Dulu, waktu awal2 sekolah di Belanda, keliatan sekali efek ini di Hanif. Dia jadi sangat2 pendiam di kelas, ga pernah ngomong sepatah katapun sama Juffownya (sebutan ibu guru di sana). Juffrownya sendiri sampai khawatir, saya yang malah harus meyakinkan dia bahwa Hanif akan baik2 saja. Karena saya yakin saat itu Hanif hanya butuh waktu buat adaptasi dan menyadari tentang perbedaan dirinya dengan orang2 di sekitarnya. Bukan cuman berbeda warna kulit, bahasapun sama sekali asing buat Hanif, belum lagi dia juga sadar bahwa dia satu di antara sedikit sekali muslim di kelasnya yang tentu saja banyak sekali perbedaan2 yang harus dia tunjukkan dan sampaikan pada orang lain. Misalnya saja dalam masalah makanan, saya selalu tegaskan sama dia, klo Hanif dikasih makanan apa aja, snack, permen, coklat, dsb. ga boleh langsung Hanif makan, Hanif harus bawa pulang dulu semuanya ke rumah baru di rumah ibu liat apa boleh ato nggak Hanif makan, ato klo ga ya tolak saja ga usah diterima makanan2 tsb. Dan seringnya kondisi2 seperti itu Hanif sendiri yang harus menjelaskannya sama orang lain. Bisa aja sih saya ikut menjelaskan, awalnya memang begitu, tapi lama2 saya juga ingin ngajarin Hanif buat bisa ngatasinnya sendiri, ngejelasinnya sendiri.
Saya ingin, setelah sadar bahwa dirinya berbeda, Hanif juga bisa menerima perbedaan itu dengan lapang. Saya ingin Hanif bangga dengan perbedaan itu dan kemudian mengungkapkannya pada orang lain bahwa dia memang berbeda. Ya alhamdulillaah sekarang ini tampaknya udah ga ada masalah dengan masalah perbedaan ini, maksudnya walopun mungkin Hanif belum bisa merasa bangga dengan perbedaan dirinya tapi paling tidak dia sudah bisa menerima perbedaan itu dengan lapang dan yang paling penting dia sudah ga ada masalah lagi untuk menunjukkan dan mengatakannya pada orang lain. Karena ke depannya masih terlalu banyak perbedaan2 lain yang harus siap Hanif hadapi. Masalah saya muslim dan mereka bukan, masalah memilah2 makanan sampai menolak makanan yang ga jelas kehalalannya, masalah sholat dan puasa di sekolah, alhamdulillaah Hanif sudah bisa mengatasinya. Kelak, khususnya ketika dia sudah mulai baligh dan masuk masa remaja, Hanif harus juga bisa mengatasi perbedaan2 dengan teman2nya dalam masalah pergaulan. Saya ingin pada saat itu Hanif (dan tentu saja adik2nya juga) berani dan bangga tampil beda di tengah pergaulan bersama teman2nya, sehingga dia berani dan bangga berkata tidak ketika harus bergaul bebas dengan teman2 perempuannya, berkata tidak ketika kebanyakan teman2nya mulai pacaran, mulai merokok atau minum minuman keras, berkata tidak ketika kebanyakan teman2nya berhura2, dan tidak-tidak yang lainnya pada hal2 yang hanya akan membuang2 waktunya dengan percuma dan lebih parah lagi membawanya semakin jauh dari Allah.
Dengan kata lain, saya ingin satu saat Hanif dan adik2nya bisa bediri tegak dan berkata lantang pada dunia, "I AM PROUD TO BE A MUSLIM!". Mampukah saya dan ayah mereka menjadikan mereka "proud muslims", mujahid2 yang tangguh....?? Waduuuh...pertanyaan yang beraaat sekali....tapi....yah harus bisa..............We don't have any other choice, do we....?
(kejadian Hanif sholat di sekolah di atas sebenernya udah terjadi beberapa bulan yang lalu, kl pertengahan winter)