Showing posts with label sajid. Show all posts
Showing posts with label sajid. Show all posts

Wednesday, February 22, 2023

It's All About Sajid - My Youngest one



7 years old Sajid ran around the house pretending he could read and write in Japanese. He even invented his own Japanese letters πŸ˜‚ I never really gave serious thought to it. I assumed that it was just another of his silly actions as with his other ones that entertained us immensely on a daily basis πŸ˜†


10 years later now, he has achieved some things as proof that what he did years ago was not merely an act of silliness, but the first signs of his passion for the Japanese language. He has passed N2 JLPT certification (the 2nd highest level with N1 being the highest one. He had to go through N3 and N4  levels of certification previously, and skipped N5, the lowest level). And yesterday, he won first place in the national Japanese speech competition. 


I couldn't be prouder of him. May these achievements become the beginning of his future successes and the first steps toward achieving his goals.  

 







Monday, April 26, 2021

The Magic Words

Satu hal yang dipelajari oleh anak-anak kami dari masa kecil mereka di US adalah "the magic words", yaitu "please and thank you". Anak-anak Amerika sejak kecil selalu diajari untuk mengucapkan "please" setiap kali mereka meminta atau menanyakan sesuatu, dan mengucapkan "thank you" setiap kali mereka menerima sesuatu atau seseorang memberikan pertolongan kepada mereka dalam bentuk apapun. Pembiasaannya dimulai sejak mereka bisa mengucapkan their first words. Contoh pembiasaan yang paling umum dilakukan oleh ibu-ibu Amriki adalah tidak akan memberikan apapun kepada balita mereka sampai si balita mengucapkan "please". Pembiasaan ini kemudian dilakukan pula oleh guru-guru mereka di sekolah. (Oh...saya yakin tentunya anak-anak di Indonesia juga diajari dan punya kebiasaan yang sama 😊)

Hampir 7 tahun kemudian setelah kami pindah dari US, kebiasaan ini tetap menempel pada si Bungsu kami, Sajid Djunaedy, yang sekarang sudah mulai berkumis dan sudah lebih tinggi dari IbunyaπŸ˜† Mengucapkan "please" kadang dia suka lupa, tapi dia tidak pernah lupa sedikitpun untuk mengucapkan "thank you" setiap kali seseorang memberinya sesuatu atau setelah dia menerima pertolongan dari seseorang. Bahkan setiap kali dia selesai mengambil makanan di atas meja makan - tidak pernah absen dan tidak pernah lupa - ia selalu mengucapkan "Thank you, Ibu" (atau kalau Abangnya yang masak, "Thank you, Abang" πŸ˜„).

As simple as it may seem, as insignificant as it looks to some people, diam-diam saya merasa bersyukur karena kebiasaan ini tidak sedikitpun hilang dari hidupnya. Rabbi hablii minash shoolihiin πŸ€²πŸ’–

Tuesday, June 29, 2010

Video on My Eyes

Sajid: "Ibu, I want to see the Eye Doctor" (beberapa minggu yang lalu Ibu memang baru periksa mata. Kebetulan Sajid dan Abdih dibawa. Mereka ikut bahkan sampai ke tempat periksa, menunggu dengan sabarnya sang Eye Doctor meriksa mata Ibu dengan cermat dan seksama)

Ibu (puzzled): "Eye Doctor....?"

Sajid: "Yes. I want to ask question to Eye Doctor"

Ibu (still puzzled tapi mulai hayang seuri): "Question...?! What question, honey?"

Sajid: "I want to ask him why my eyes keep making video..."

Ooooh hahaha....Jadi sudah berminggu2 eh..bahkan berbulan2 Sajid selalu merasa terganggu dengan semua 'film' yang dia lihat (menurut dia) dari matanya. Dulu sih dia pake istilah "film", entah kenapa sudah beberapa minggu terakhir ini berubah jadi "video".

Kemaren ketika lagi jalan sama Ayah dan Ibu, tiba2 dia nyeletuk, "Ibu, why you cannot see video from my eyes?"
Euleueuuh....kumaha atuh ibu jawabnya. Setelah mikir beberapa detik yasud Ibu jawab aja begini (kira2 begini): "Karena video di mata Sajid khusus untuk mata Sajid aja, ga bisa diliat sama orang lain"
Eeeeh langsung protes dia, "No...! I can see your video...!!"
Hahahaha....iya gituh...? Sajid ah ada-ada aja....


*masih sedikit bingung dan masih meraba2 tentang apa yang sebenernya Sajid maksudkan dengan "video/film on my eyes" ituπŸ˜†*

Sunday, April 20, 2008

My Babies' Toilet Training

courtesy of https://www.subpng.com/png-16iaid/download.html


 Some people say we must start as early as possible, others say we must start after our babies reach the age of 1.5 years, most people say we must start when they're 2 years old. Me..? I couldn't care less about what people say. I know my baby better than anybody else, furthermore I know MYself better. I know too well that every baby, every child, is unique. Children who come from the same home, who came from the same womb, who raised by the same parents, can be as different as day and night. So...I can't expect too much from my own sons, can I?

I started to toilet-train Hanif when he was about 1.5 years old, and it took months-almost half a year-for him to finally fully toilet-trained!! Not only had I disregarded his readiness, but  I also hadn't taken my own readiness into account when I started. And to make things worse, there was pressure from my surroundings too. When the pressure is so great, it's always difficult-very difficult, i tell you-to succsesfully achieve our goal faster than we expected. That's what happened in Hanif's case. It was difficult, tiring, not to mention distressing!!πŸ˜–

***cut dulu...! Capek ah ngomong pake english........πŸ˜† Mending klo bener englishnya...hihi...yah namanya juga usaha. Saking pengennya bisa ngomong english dengan baik dan benar...dimaklum aja lah yaw-haw namanya juga belajhar....πŸ˜…***

Back to the main issue. Jadi inget satu kejadian, saking udah cape dan letih serta stressnya Hanif setiap kali pipis di celana diingetin sama Ibu (kadang dengan halus lebih seringnya dengan dimarahinπŸ˜žπŸ™ˆ) dengan kata2 (yg ga bosen2nya ibu ulang2 terus), "Hanif....pipis di mana...?!", akhirnya dengan ga kalah kesalnya dia jawab dengan ketus, "DI KULKAS!!" 😱
PO0KKK...!!! Serasa ditabok deh Ibu, ternyata anakku dah kesel banget diingetin (dan diomelin) bwt pipis di toilet lagi dan lagi dan lagi dan lagi......hiks....Butuh waktu berbulan2 lagi dari sejak kejadian 'pipis di kulkas' ini sampai akhirnya Hanif fully toilet-trained πŸ˜“

Belajar dari kejadian Hanif, Ibu jadi lebih hati2 lagi mentoilet-train Abdih. Ditekadkan dalam hati ga akan 'under-pressure' baik ke Abdihnya lebih2 ke Ibunya. Jadi take it easy ajalah. Alhamdulillaah ga sampai seminggu Abdih berhasil ditoilet-train. Sampai takjub sendiri, segitu mudahnya, alhamdulillaah. Cuman sempet 'kecelakaan' satu kali aja, ngompol ke karpet. Bahkan ternyata akibat kecelakaan inilah (padahal cuman sekali2nya itu), Abdih kapok ga mau pipis di celana lagi. Bukaaaan...kapoknya bukan karna dimarahin sama Ibu...!! Kapoknya krn kaget liat celana dan karpet tiba2 basah kena pipisnya dia, biasanya kan klo pipis langsung terserap di diaper ga kerasa basahnya....hihi...

Lalu bagaimana dengan Li'l Sajid, si 'anak ayah'? Kali ini jauuuh lebih santai lagi....πŸ˜‚ Yang pertama kali berhasil adalah mentoilet-train Sajid untuk BAB. Hanya butuh waktu kurleb 2 minggu saja, dan itupun sudah selesai sejak hampir setaun yg lalu. Melangkah menuju toilet-train untuk pipis, agak2 susah dan maju-mundur. Sampai usia Sajid 2,5 tahun dia masih keliatan santai2 aja berkeliaran dengan diaper yg sudah penuh. Padahal salah satu tanda kesiapan anak untuk ditoilet-train adalah sudah tidak merasa nyaman dengan diaper-penuhnya. Halaaah ini 2,5 taun aja masih cuek-bebek. Setiap kali diajak pipis ke kamar mandi langsung teriak marah, apalagi klo tengah asyik main sama Thomas and the gank, duuuuh....syusysyssaaaah....πŸ˜– Ya udah deh tenang2 aja dulu, pelan2 banget aja dulu deh. Takutnya terburu2 juga malah bikin stress, pangpangna stress ma ibunya....hehe...Bahaya....kasus Hanif selalu jadi 'panduan', ga boleh terjadi lagi. Akhirnya saking pelan2 dan hati2 banget eeeh...malah jadi terlupakan deh proses toilet-trainnya...hehe...Sadar2 lagi pas menjelang ulang taunnya ke-3..."Eh iya ya...udah hampir 3 taun kok masih pake diaper...."πŸ˜… Biar aja lah di sini mah banyak kok anak2 bule yg umur 3 taun masih keliaran pake diaper dengan manis dan lucunya....hihi...

Sponge Bob potty by www.walmart.com

Jadi begitulah beberapa bulan sebelum ulang taunnya yg ke-3, setelah diajak, dibujuk dan dibiasain lagi dan lagi dan lagi bwt pipis di 'sponge bob', berhasillah Sajid 'tertoilet training'...horreee....Prosesnya juga ternyata cukup cepat, cuman butuh waktu kurleb seminggu aja untuk pembiasaan dia pipis di "sponge-bob potty"nya. Dan taraaa....he's now fully toilet-trained...bahkan  tidur malampun udah ga harus pake diaper lagi...! Alhamdulillaah. Satu tugas Ibu sudah terselesaikan dengan baik, legghhaaaaa....buanget rasanya...πŸ’ƒπŸ˜ SO, ready for the next baby.....??!!....Ya jelas engga dong ah!! πŸ˜†

Notes:
~ ini tulisan dah basi banget sebetulnya. mulai ditulis sejak tgl 10 feb, baru selesai hari ini, 20 April, setelah berbulan2 proses toilet-train Sajid kelar-sumelar....;-D

Friday, August 24, 2007

Ujan2an Bagian 2




Yang ini bagian 2nya, supaya Kakak Nada lebih puas lagi nonton Sajid ujan2an...;-) Inget ya Kakak Nada, jangan ngacay yaa....;-D
Ini Sajid ga mau berenti main ujannya, dari depan rumah diterusin deh ke samping rumah :-)

Ujan2an Bagian 1




Video yang ini spesial pake telor dipersembahkan buat Kakak Nada di Holland Dr. , Singapore, yang kabarnya pengen (sekali) main ujan2an. Disertai pesan sponsor dari Sajid: "Kakak Nada, jangan ngacay ya nontonnyaa...";-)
Ini Sajid ujan2an di rumah Nenek di Bandung, waktu kami lagi liburan musim panas taun 06 yang foto2nya ada di photo gallery.

Sajid baca buku dengan Sajlishnya




Ga pernah berhasil ngerekam Sajid dengan ocehan Sajlishnya yang panjang dan lengkap, krn sekarang dia sudah sangat 'sadar kamera', jadi belum selesai direkam dia selalunya udah 'bereaksi' duluan :-( Yang ini diambil sebulan sesudah ultahnya yang kedua, sebelum dia bisa menghasilkan kata2 dalam Sajlish yg bisa dicerna dan dimengerti ;-)

Thursday, August 2, 2007

Sajlish

 (((Klo di Singapur ada yang namanya Singlish (singkatan dari "Singapore-English), di Belanda ada Dutchlish dan di Arab, Rablish (dua yg terakhir, maaf, hanya istilah karangan saya sendiri;-D), maka di Boise, tepatnya di Pierce Park Village, ada yang namanya "Sajlish". Bagaimana istilah ini bisa muncul? Begini ceritanya,

Sejak Sajid lahir saya dan suami saya selalu bicara menggunakan Bahasa Indonesia kepadanya. Setelah pindah ke Emirat dan kemudian pindah ke sini kami tetap tidak membiasakan diri untuk berbicara bahasa Inggris dengannya. Maksud dan tujuannya tentu saja jelas sekali, kami tidak ingin Sajid lupa dengan bahasa ibunya dan kami ingin Sajid mahir berbicara Bahasa Indonesia dulu sebelum dia kemudian mengenal Bahasa Inggris. Namun apalah daya sebelum dia benar2 mahir bicara dalam Bahasa Indonesia, dia harus terekspos begitu hebatnya dengan Bahasa Inggris. Mulai dari film2 DVD yg dia tonton, kemudian buku2 yang saya bacakan untuknya (sayang sekali kami betul2 hanya punya sedikit sekali koleksi buku anak2 dalam bahasa Indonesia. Masak saya harus bacakan majalah Femina dan Kartini padanya...), sampai akhirnya abang2nya pun tidak bisa menahan diri untuk mulai bicara bahasa Inggris di rumah baik di antara mereka berdua atau dengan kami, ayah dan ibunya. Belum lagi klo Sajid saya bawa keluar rumah, ke tengah2 keramaian 'manusia2 asing' yang berbicara dalam bahasa 'asing'. Akhirnya dia mulai mengerti bahwa ternyata banyak sekali makhluk2 di luar dirinya yang bicara dengan bahasa lain yang awalnya terdengar aneh dan tidak jelas artinya di telinga dia. Apa yang terjadi selanjutnya?

Karena seringnya 'dibombardir' oleh bahasa yang aneh dan sulit diikuti itu, akhirnya-setelah beberapa bulan tinggal di sini-bayiku ini ingin juga ikut2an bicara bahasa aneh tersebut. Namun apalah daya kemampuan dia untuk menangkap kata2 dalam bahasa aneh tsb. sangatlah minim, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah bahasa yang tidak kalah anehnya. Saya sendiri awalnya tidak menyadari bahasa aneh ini, saya cuman heran kok Sajid-yg saat itu baru menginjak usia 2 taun-yg sudah mulai bisa ngomong (dlm bahasa Indonesia) tiba2 jadi ngoceh ga jelas lagi. Tapi lama2 setelah saya perhatikan lagi, dia ngoceh ga jelas itu hanya ketika bertemu dengan orang2 asing ato klo sedang berusaha ngajak ngobrol anak2 bule di luar rumah. Satu contoh, klo saya bawa dia ke toddler story-telling di library dia akan dengan hebohnya menyapa anak2 bule di sekelilingnya, atau berteriak sambil nunjuk2 ke arah sang storyteller, tentu saja menggunakan bahasa anehnya. Mengertilah saya kemudian bahwa ternyata Sajid sedang berusaha bicara dalam bahasa Inggris!  Demikianlah, maka "Sajlish"pun tercipta, Sajid-English, bahasa Inggris versinya Sajid

Awalnya Sajid ngoceh Sajilish hanya klo berada di luar rumah di tengah2 orang2 yang berbicara  bahasa Inggris, namun lama-kelamaan di rumahpun dia mulai sering sekali ngoceh menggunakan Sajlish ini. Pada mulanya dia hanya ngoceh sendiri di depan TV sambil nonton Thomas kesayangannya atau sambil 'baca buku', bicara dengan kami masih menggunakan bahasa Indonesia. Lama kelamaan dengan kamipun dia mulai ngomong pake Sajlish. Maka mulailah konflik sering terjadi, ketika dia dengan hebohnya ngomong Sajlish sementara saya sama sekali clueless dengan apa yg dia omongkan. Dia keukeuh ngomong Sajlish saya keukeuh ga ngerti. Sampai akhirnya ga jarang saya sendiri frustasi berusaha memahami apa yang Sajid inginkan sementara dia keukeuh menyampaikannya dalam Sajlish, kalau sudah begini dengan frustasinya saya akan bilang, "Sajid pliiiiss ngomongnya pake bahasa Indonesia Naaak....Ibu ga ngerti apa yang Sajid mauuu...!" Dia jadi frustasi juga krn saya ga ngerti2 apa yang dia mau sambil nangis dan marah2 dalam (keukeuh) Sajilishnya!!

Hari2pun berlalu, setelah berminggu2 bahkan berbulan2 Sajlish tercipta, akhirnya Sajid mulai bisa menangkap beberapa kata dengan jelas dan sudah pula bisa mengasosiasikannya dengan makna yang terkandung di dalam kata2 tersebut. Maka, Sajlish yg awalnya hanya ocehan2 ga jelas yang bener2 incomprehensible sekarang sudah mulai mewujud dalam bentuk kata2, bahkan kalimat (sangat sederhana) yg yaaah lumayan lah  bisa dimengerti Misal klo dia ingin sesuatu dia sudah bisa bilang, "Awon Thomas" atau "Awon dis" atau "Awon ambila", dlsb., yang maksudnya "I want Thomas", "I want this" dan "I want umbrella". Klo dia ingin megang sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dia akan bilang, "Kenay si?", maksudnya "Can I see?"...hehe..masih ga nyambung....;-D Klo dia minta tolong sesuatu dia akan bilang, "Ke nyu hepmi bla bla bla..?", maksudnya "Can you help me-blablablanya masih jabbering incomprehensible-?". Klo denger suara yg terasa aneh di kupingnya dia akan bilang, "Wos det saun?" ("What's that sound?"). Klo nyari Ibu dia akan teriak2, "Iiii..buuu...wel aaayuuu..?!". Klo ditanya trus dia ga tau jawabnya, dia bilang dengan lempengnya, "Adonow.."

Satu hari saya sedang sibuk di dapur tiba2, "Krompyang...gedubrag...breng brong..!!" saya-dengan tak sengaja-menjatuhkan sesuatu. Tiba2 dari arah ruang depan, ada suara mungil yg berteriak, "Ibu...hot heppen..!"...hihihi...anakku udah bisa bilang, "What happen..."!! Isn't it amazing..?? Yah buat saya ibunya ya amazinglah....Namanya juga anak sendiri, serasa yang paling pinter sedunia!! Selain itu, sekarang begitu denger satu kata, dia bisa langsung mengucapkannya dengan (lumayan) jelas, walo kadang belum ngerti apa artinya. Semakin hari vocab englishnya semakin bertambah, warna2pun (tiba2) dia sudah tahu dan sudah pula bisa mengucapkannya dengan (lumayan) baik dan benar, angka favoritnya (walo kalo berhitung masih ngaco!...hehehe...) adalah "fol" sambil nunjukkin keempat jarinya . Hingga satu saat ketika kami belanja dan sedang bayar, si kasir nanya umurnya dia, dengan semangat dia tunjukkin jari2nya dan bilang "Fol!" Jadi sekarang dia kalo ngomong campur2, antara Sajlish dan English. Tapi hebatnya klo ngomong pake basa Indonesia ga pernah campur2 Bukan hebat siih sebenernya :-), ga pernah campur2 krn klo ngomong bahasa masih kalimat2 singkat, sementara klo ngomong Sajlish (yg campur2 dengan english) kan maunya dia ngomong nyerocos panjang2, yg klo menurut dia sih kalimat lengkap yang baik dan benar

Saya sebetulnya inginnya Sajid jadi "the proper bilingual child". Dari beberapa artikel tentang bilingual yang pernah saya baca, ada satu yang saya yakini kebenarannya sampai sekarang, yaitu bahwa untuk menjadi the proper bilingual seorang anak harus terekspos dalam dua bahasa dengan baik dan benar juga. Maksudnya begini, dia harus punya dua lingkungan yang berbicara dengan 2 bahasa yang berbeda kepadanya dengan kontinyu dan konsisten. Dua lingkungan tersebut bisa berupa kedua orang tuanya yang masing2 berbahasa berbeda dengan konsisten dan kontinyu kepadanya, atau bisa jadi orang tua dan baby sitter atau pengasuh lainnya yang punya interaksi yang kontinyu dengannya. Misal, klo ibunya konsisten bicara dalam bahasa Indonesia maka ayahnya harus konsisten bicara dalam bahasa Inggris. Demikian pula, klo baby sitter/pengasuh/nenek/kakek/tante bicara konsisten dalam satu bahasa maka kedua orang tuanya harus konsisten bicara dalam bahasa yg lain. Untuk anak2 usia sekolah, dua lingkungan itu juga bisa berupa lingkungan sekolah dan lingkungan rumah (yang ini sih pendapat pribadi saya aja berdasarkan pengalaman sendiri yang tumbuh sebagai anak bilingual, walo bilingualnya 'cuman' bahasa indonesia dan sunda, tapi tetep wee bilingual kan..hehe).

Yang terjadi pada Sajid, saya sadar, tidak seideal itu. Saya dan suami saya berusaha untuk konsisten bicara dalam bahasa Indonesia kepadanya, abang2nya bicara campur2, sementara lingkungan selebihnya (TV, buku2, orang2 di luar rumah) bicara konsisten dalam bahasa Inggris. Semoga saja kondisi ini, walopun tidak ideal, masih bisa menjadikan Sajid anak bilingual yang baik dan benar.

Oh ya, klo mau denger bagaimana bunyinya Sajlish itu, di sini ada sedikit contohnya ;-) (tapi beribu maaf hanya bisa diakses oleh 'contacts' saya saja)

Saturday, June 23, 2007

Namanya juga Sajid

Salah satu yang tidak Sajid sukai dari semua yang selalu Ibu lakukan adalah, kencan dengan kokom! Kecuali dia asyik main sama Thomas ato nonton dvd Thomas, dia akan mencari segala macam alasan atau merengek2 setiap kali Ibu duduk di depan komputer. Salah satu yang satunya lagi yang Sajid ga suka adalah Ibu tidur tanpa dia atau cuman sekedar tidur2an!

Kemaren sore, karena capek, Ibu tiduran di sofa di ruang belajar, saat itu dia tengah asyik dengan Thomas dan kawan2nya. Begitu dia masuk ke ruang belajar dan liat Ibu tengah terkantuk2 berbaring di sofa, mulailah dia melancarkan aksi protesnya. Saking ngantuknya, Ibu ga pedulikan rengekan dia. Sempat terlelap sebentar, kemudian tiba2 Ibu terbangun mendengar Sajid masih merengek2 di depan TV di ruang depan. Awalnya sih dibiarin aja, abis asli ngantuk bener!! Tapi lama2 krn ga tahan juga ya udah Ibu samperin deh dia, ternyata dia minta Ibu pilihkan menu di DVDnya Thomas (padahal biasanya dia bisa sendiri itu...).

Setelah Ibu penuhi keinginannya, berbaring kembalilah Ibu dengan nikmatnya di samping dia di depan TV. Tak lama kemudian, kembali dia merengek2 lagi. Kali ini rengekannya adalah...minta makan..!! Ajaib ga siiih....Sajid minta makan adalah salah satu keajaiban dunia...yaah paltid Dunia Ibu laah....hehe.....Jarang2 banget lah dia minta makan, kecuali lapaaarr banget, misal ga dikasih makan sejak pagi....hehehe.....Jadi klo dia udah makan, hampir ga mungkin dia minta makan lagi. Nah sekarang tiba2 dia minta makan, padahal dia itu udah makan siang, jam 2 lagi baru selesai makan siangnya (yap betul bisa sampai satu jam lamanya Sajid makan!!). Awalnya dia cuman merengek2, "Mamam ibu, mamam....". Ah Ibu pikir Sajid cuman boongan aja deh minta makannya, dipikir Ibu ga tau aksinya. Aksi minta makan ini udah beberapa kali soalnya dia lancarkan sekedar buat narik perhatian Ibu

Krn lama ga Ibu pedulikan, akhirnya dengan setengah nangis dia setengah berteriak,
"Ibuuu...mamam....!!"
"Mamam ager ya Nak..?" abis kan udah makan siang, jadi Ibu pikir dia cuman mau ngemil doang.
"Mamam!! Mamam dajing...!!" daging, maksudnya.
Wah serius ternyata ni anak minta makan! Akhirnya dengan masih menahan kantuk bangkitlah Ibu menuju dapur. Di dapur sebelum nyiapin makanan dia, Ibu beres2in dulu piring2 kotor yang numpuk di sink.  Setelah itu baru Ibu siap2 mo nyiapin makanan dia. Ketika Ibu tengok ke ruang depan, yang katanya  tadi heboh minta makan, tengah asyik lagi main sama Kakang  Mas Thomas dan kawan2nya!!  Ibu biarkan dulu agak lama siapa tau minta lagi,  eeeh...engga tuh ga nagih minta makan lagi, merengek2pun tidak! Biasanya klo betul2 pengen makan dia akan terus merengek minta sambil ngikutin Ibu ke dapur. Dasar deh ni anak, lebih suka Ibu sibuk di dapur rupanya dibanding cuman baring2 ato nongkrong depan komputer!!

Nah, kemaren itu, malamnya baru aja beberapa menit Ibu duduk depan neng kokom, tiba2 dia lari ke arah meja komputer dan teriak keras banget,
"Punynya Hannef..!!!" sambil mukul meja komputer (ni anak emang susah sekali deh disuruh manggil "Bang Hanif" atau "Bang Abdih", maunya manggil "Hanif" dan "Badih" terus)
"Apanya Nak yang punya Abang?" tanya Ibu,
"Inniii..!! Innii punynya Hanneef...!!" sambil mukul2 mouse.....Ooooh rupanya (kembali) Ibu ga boleh duduk depan komputer, sekarang alasan yang dipakai adalah....komputernya punya Abang Hanif!!

Friday, March 9, 2007

Ga Mudah Ternyata..............

Duuuh susahnya klo ada anak kecil-sendiri di rumah. Hampir tiap hari adaaaa aja kejadian. Klo kepala lagi dingin hati lagi riang siiih bisa dihadapin dengan tenang dan damai, tapi klo lagi pening apalagi lagi musimnya PMS ataupun DMS waduuh minta ampyuuun deeeh......😣

Dikirain bakal jauh lebih mudah klo punya anak dengan jarak usia mayan jauh dari kakak/abangnya. Awal2 sih iya, sampe si bayi usia sekitar 5-6 bulan (sebelum bisa merangkak) semuanya terasa lebih mudah. Anak2 yang besar pergi sekolah, tinggallah saya di rumah dengan tenang ngurus baby dan ngurus rumahnya sekalian. Setelah si baby mulai ngerti dan mulai banyak maunya, huaduuuh mulai deh kepusingan2 terjadi!! Apalagi sekarang setelah dia mulai mengenal jati dirinya, dan mulai menuntut lingkungan di sekitarnya untuk mengakui keberadaan dirinya....ugh! deh pokoknya...πŸ˜“

Yang paling sering jadi penyebab keributan adalah ketika sang krucil terkecil ini minta diikutsertakan dalam segala macam bentuk permainan dan kegiatan yang tengah dilakukan oleh abang2nya. Dan parahnya kebanyakan permainan2 dan kegiatan2 tersebut akan jadi kacau balau klo si krucil ini ikut nimbrung. Gimana ga kacau balau klo yang dia mau adalah-instead of membantu-merusak hasil karya abang2nya ketika mereka sedang menciptakan sesuatu dari kardus2 bekas misalnya. Atau pengennya memonopoli permainan yang tengah dimainkan abang2nya. Hasil akhir: kemarahan anak2 besar dan jeritan tangis si krucil kecil 😫

Di saat2 genting seperti ini saya dihadapkan pada dua pilihan:
* meminta (atau memaksa..?;-)) abang2 ngalah dan memberikan apa saja yang Sajid mau, dengan begitu Sajid berenti nangis dan tenang-tentram kembalilah dunia.
* membujuk Sajid supaya ga mengganggu lagi abang2nya, kemudian berusaha mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan lain.

Pilihan pertama jauh lebih mudah buat saya, ga makan waktu lama dan ga butuh effort yang gede. Kebetulan anak2 yang gede juga ga susah klo disuruh ngalah (paling2 mereka manyun :-)), dan saya bisa cepat2 kembali ke pekerjaan semula tanpa diganggu lagi oleh jeritan tangis Sajid. Tapi klo terus2an anak2 yang lebih besar yang disuruh ngalah, Sajid jadinya ga belajar apa2. Padahal Sajid juga harus belajar untuk mengerti bahwa ga selamanya dan ga selalu apa yang dia inginkan harus terpenuhi. Sajid juga harus belajar untuk tahu, mengerti dan menghargai hak milik orang lain. Jangan mentang2 jadi anak yang paling kecil lalu semua orang di rumah ini harus terus mengikuti apa yang dia inginkan. Ada saatnya dialah yang harus belajar memahami dan menghargai keberadaan orang lain. Di saat2 'terrible twos' inilah pemahaman2 tersebut penting sekali ditanamkan padanya.

Resikonya?? Ibu harus sering2 mengelus dada dan menghela napas panjang, menyingsingkan lengan baju tinggi2 siap membujuk Sajid dan menghentikan tangisnya yang aduhai.....!!

Monday, February 12, 2007

Sudah 2 Tahun Usianya

Hari ini, 11 Februari 2007, Sajid Dhiyaurrahman Djunaedy, baby ibu, buah hati ibu, permata hati ibu, biji mata ibu, genap 2 taun usianya. Dua tahun yang penuh tawa, tangis, tantrum. Baby ibu sudah bukan baby lagi......! 😍Sudah mulai banyak ngoceh, sudah mulai banyak vocabnya, sudah ikut2an abang Hanif dan abang Abdih jadi Little Mr. Chatterbox, sudah mulai jadi Little Mr. Curious dan juga Little Mr. Copycat!! Hampir semua yang ayah, ibu dan abang2 lakukan, terlebih2 omongin, pasti diikutin....πŸ˜‚

Masih banyak sekali PR ibu untukmu, Nak...........toilet training, nyapih, mulai belajar iqra, mulai belajar baca, nulis, berhitung, ngapalin Qur'an.........walaaah banyak sekali ternyata.........πŸ˜…
Semoga ayah dan ibu bisa menjadi orang tua terbaik yang selalu diberi kemampuan untuk memberikan yang terbaik untukmu sayangku, cintaku, babyku.....(yaaah si ibu, susah sekali ya menerima kenyataan babynya bukan baby lagii....h πŸ˜† tapi..... he'll always be my baby......no matter what! πŸ˜„πŸ˜)
Doa ayah dan ibu tak kan putus untukmu nak, mengiringi langkahmu setiap saat. I love you to the moon and back! πŸ˜˜πŸ’–πŸ’—

Tuesday, February 6, 2007

Dari "Bubu" ke "Mamah"

Kata pertama yang bisa Sajid ucapkan dengan jelas selain mantra sakti "n***n" adalah "JUJI". Itu maksudnya "Dudi", oomnya Sajid, adik iparnya ibu, suaminya bi Aden. Laah kok bukan "ayah" atau "ibu" yaa...??Entahlah mungkin masih terlalu sulit buat Sajid mengucapkan dua kata itu. Atau mungkin juga gara-gara motornya Oom Dudi. Sejak kami sampe di Bandung untuk berlibur pertengahan taun yang lalu, Sajid memang begitu terpukau dengan yang namanya motor, seolah2 seumur hidupnya baru kali inilah dia melihat makhluk yang namanya motor (emang iya kali ya?). Sehingga setiap kali Oom Dudi pergi dan pulang dari kantor Sajid selalu sibuk minta digendong Oom Dudi dan kemudian minta naik motor, lumayan lah walo cuman sampe depan pintu pagar, atau dari pintu pagar sampe kandang si motor di dapur. Yah jadi begitulah ahirnya nama Oom Dudi begitu lekat dalam ingatan Sajid, faktor nama "Dudi" yang mudah diucapkan menjadi keuntungan tersendiri buat Sajid sehingga jadilah nama "Dudi" kata pertama yang bisa dia ucapkan.

Beberapa minggu kemudian barulah dia bisa mengucapkan "Yayah" untuk "Ayah" dan "Babang" untuk "Abang". "Ibu"...?? Hemm.......belum, sodara2.....:-( Untunglah ibu selalu sedia setiap saat setiap kali Sajid membutuhkan ibu, sehingga Sajid ga perlu2 amat manggil2 ibu ;-) Tapi alhamdulillaah tak berapa lama setelah Sajid bisa mengucapkan kata2 "Yayah" dan "Babang" terucaplah juga dari mulutnya kata "Bubu"! Yeeeee........horee...ahirnya ibu terpanggil juga oleh Sajid :-D Hampir bersamaan dengan itu dia berhasil mengucapkan "Ayah" dan "Abang" dengan jelas dan tegas :-)

Baru sekitar 2 bulan terakhir inilah Sajid bisa memanggil "ibu" dengan....yaaa tidak terlalu jelas siiih tapi lumayan laaah.........terdengar "i"nya (kadang bunyinya masih terdengar antara "i" dan "e", atau antara "hi" dan "i") dan "bu"nya (bunyi "b"nya masih terdengar lemah), bukan "bubu" lagi.

Suatu pagi Sajid tengah asyik main sendiri dan ibupun sedang asyik (main sendiri juga :-D) di depan kokom. Tiba2 Sajid mulai manggil2 dengan mesranya,
"Ibuu......ibuu..."
Waduuh nak, ibu lagi tanggung niiih............bentaarr.........lagi.
Dia manggil lagi,
"Ibuu.............ibuu.....!"
Walaaah dikiiit lagi ibu lagi ngasih komen nih di mpnya Tante Adi, cuman tinggal beberapa kata lagii......tanggung.....
Nadanya mulai agak meninggi dan terdengar ga sabar,
"Ibuu.......mamaah..........mamaaah..........!"
Lah lah lah kok jadi mamah siiih............??!! Padahal di rumah ini ga ada satupun yang pernah ngucapin kata itu apalagi manggil ibu dengan sebutan itu . Mulung dari mana kamu nak kata itu? Mentang2 udah bisa manggil ibu dengan benar sekarang 'ngelunjak' deh pengen manggil mamah, pake "h" pula....Sunda sekalih!